Sunday, January 3, 2016

Wisata Trail Merapi, Jogja

Bagi penggemar wisata alam pegunungan, daerah Kaliurang dan sekitarnya adalah tujuan wisata yang menarik. Apalagi semenjak erupsi Gunung Merapi beberapa tahun lalu, daerah Kaliurang dan sekitarnya telah banyak berubah. Untuk menjelajahi tempat ini dan sekitarnya, kita dapat menyewa motor trail. Motor trail adalah sepeda motor tangguh yang dapat melewati medan-medan yang berat dan tentunya mengendarai motor trail rasanya berbeda dengan naik motor biasa.
Riding a motocycle is my pride
Untuk mengendarai motor trail di sana, kita diharuskan memakai berbagai macam perlengkapan untuk keselamatan, seperti helm dan sepatu bot. Namun jangan khawatir jika Anda tidak membawa perlengkapan tersebut. Saat kita menyewa motor trail di sana, kedua perlengkapan ini akan dipinjamkan tanpa biaya tambahan. Perlengkapan ini ditujukan untuk menjaga keselamatan selama berpetualang dengan mengendarai motor trail. Disarankan kita sudah mahir dalam mengendarai sepeda motor. Tetapi bagi yang belum mahir pun tetap dapat mengikuti dengan membonceng saja. Bagaimanapun juga, menjelajahi daerah-daerah yang dulu terkena erupsi Merapi terasa jauh lebih menegangkan jika kita mengendarai sendiri motor trail yang disewa. Jika kita memilih untuk mengendarai sendiri, akan ada pemandu yang menemani kita dengan mengendarai motor trail sendiri.
Ember yang meleleh
Penasaran dengan hal ini, saya pun menyambangi daerah Kaliurang dimana terdapat banyak motor trail yang disewakan. Paket yang ditawarkan ada 3 macam, yaitu yang jarak tempuhnya pendek, menengah, dan jauh. Kebetulan saya datang bersama adik laki-laki saya, sehingga kami memutuskan untuk mengambil paket jarak menengah. Biaya yang dikenakan adalah 150 ribu rupiah. Biaya ini sudah termasuk sewa helm untuk 2 orang dan sepasang sepatu bot untuk pengemudi. Motor trail yang disewa pun boleh digunakan berboncengan sehingga biayanya bisa Anda bagi dua dengan teman Anda dan bisa mengendarai secara bergantian.
Suasana di dalam museum mini
Jalur yang dilewati pun sangat menarik dan menegangkan. Kami ditemani oleh pemandu kami yang bernama Mas Gembel. Pertama, kita diajak untuk melalui kebun-kebun menuju ke bekas sungai yang sudah mengering dan banyak terdapat kerikil berukuran sedang dan besar. Dari sini, kita diajak menuju ke museum mini yang merupakan rumah salah satu korban erupsi Merapi. Di sana kita diperlihatkan beragam barang yang meleleh akibat awan panas dan lahar. Setelah dari museum mini, tujuan selanjutnya adalah bangker (bunker) dimana beberapa tahun lalu ditemukan dua orang yang meninggal di dalamnya. Perjalanan menuju ke bangker ini menurut saya yang paling seru dalam rute kali ini karena jalannya menanjak dan benar-benar dipenuhi kerikil berukuran sedang dan besar sehingga kemampuan kita untuk mengendarai motor trail diuji di tempat ini. Benar-benar menyenangkan! Di sini kita juga disuguhkan pemandangan yang benar-benar memukau. Anda harus mencobanya sendiri!
Sebuah laptop yang terkena dampak erupsi Merapi
Setelah dari bangker, destinasi selanjutnya sekaligus yang terakhir adalah petilasan almarhum Mbah Marijan yang dikenal sebagai salah satu juru kuncen Merapi. Di petilasan ini, terdapat pendopo untuk beristirahat dan bagian dari rumah Mbah Marijan yang terkena dampak ganasnya erupsi Merapi. Karena ini adalah tujuan yang terakhir, maka setelah dari sini, kami kembali ke tempat penyewaan motor trail.
Bangker Merapi
Untuk melengkapi postingan kali ini, maka akan saya sertakan juga foto-fotonya. Terima kasih sudah membaca postingan kali ini dan semoga bermanfaat! \(^0^)/
Merapi Tak Pernah Ingkar Janji
Foto-foto di dalam museum mini
Salah satu pepatah dalam bahasa Jawa
Pesan Merapi dalam bahasa Jawa
Sepeda motor Suzuki Spin yang terkena dampak erupsi Merapi
Tampak depan museum mini
Pintu masuk bangker (bunker) jika dilihat dari atas
Pemandangan Merapi yang berkabut
My little brother v(^0^)v
Ngetrail bareng adik dan saudara
Bangkai motor dan mobil evakuasi
Sisa-sisa perabot di bekas rumah almarhum Mbak Marijan
Petilasan Almarhum Mbah Marijan

Beringin Kembar Alun-Alun Yogyakarta

Beringin kembar di Alun-Alun Kraton Yogyakarta, keberadaannya memang tak lepas dari sejumlah mitos bernilai mistis. Dua beringin inilah yang cukup terkenal dengan permainan Masangin (masuk di antara dua beringin).
Beringin Kembar Alun-Alun Yogyakarta
Permainan Masangin ini rupanya tak sekedar permainan, permainan ini bahkan mengandung mitos dan legenda terkait peristiwa pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I bertakhta. Legenda yang beredar di masyarakat Yogyakarta dan Jawa sekitarnya menyebutkan, kala itu putri Sri Sultan Hamengku Buwono I akan dipinang oleh seorang pria. Namun karena Sang Putri tidak mencintainya maka dia menolak secara halus dengan meminta syarat jika ingin menikah dengannya maka lelaki itu harus bisa berjalan dengan mata ditutup dari pendopo yang ada di sebelah utara alun-alun kidul melewati dua beringin kembar di tengah alun-alun sampai ke pendopo yang ada di sebelah selatan alun-alun kidul. Dan ternyata pemuda itu gagal melewati tengah-tengah pohon beringin kembar tersebut.

Kemudian sang sultan memberikan sabdanya bahwa yang bisa melewati syarat sang putri itu, hanya pemuda yang hatinya benar-benar bersih dan tulus. Sampai pada akhirnya datang seorang pemuda dari Siliwangi yang berhasil melewati rintangan yang diisyaratkan oleh Putri Sultan, dan sang putri akhirnya dipersunting oleh pemuda tersebut, sehingga secara politik kemudian muncul kekerabatan yang erat antara Mataram dengan Kerajaan Siliwangi.

Selain itu, beberapa mitos juga menyebutkan bahwa beringin kembar di alun-alun kidul memiliki hubungan erat dengan laut selatan atau segoro kidul. Kepercayaan seputar mitos yang berkembang ketika di zaman Hamengku Buwono VI menyebutkan bahwa beringin kembar di alin-alun kidul merupakan pintu gerbang ke laut selatan. Dalam kepercayaan warga lokal, Keraton Yogyakarta disebut-sebut memiliki "hubungan spesial" dengan Nyi Roro Kidul, penguasa laut selatan.
Beringin kembar dilihat dari dekat
Penasaran dengan mitos mengenai beringin kembar ini, saat liburan akhir tahun, saya menyempatkan diri untuk mampir ke sini dan mencoba permainan Masangin tadi. Berikut adalah langkah-langkah bermain Masangin:
1) Berdiri di trotoar sebelah utara dari beringin kembar.
2) Menutup mata dengan menggunakan penutup mata yang nyaman sehingga tidak terlihat apapun.
3) Memutar badan 360 derajat sebanyak 3 kali.
4) Sebutkan permintaan Anda dalam hati.
5) Berjalanlah dengan yakin menuju ke tengah-tengah beringin kembar tersebut.
6) Apabila tidak berhasil, cobalah terus hingga Anda menyerah.
Saat mencoba melewati tengah-tengah beringin kembar dengan penutup mata
Kelihatannya sederhana bukan? Tetapi saat saya mencoba, saya pun berkali-kali tidak berhasil melewati tengah beringin. Padahal jarak antara beringin yang satu dengan yang lain sangatlah lebar. Namun saat percobaan keenam kali, saya menabrak tembok pagar salah satu beringin, hampir saja saya membuka penutup mata, kemudian saya berjalan ke samping menuju ke tengah-tengah beringin dengan mata yang masih tertutup. Memang hal ini kelihatannya mudah untuk dilakukan, tetapi silakan mencobanya sendiri apabila Anda penasaran betapa sulitnya melewati tengah-tengah beringin.
Jarak antar pohon beringin sebenarnya sangatlah lebar
Kota Jogja memang memiliki banyak sekali objek wisata yang menarik untuk Anda datangi. Terima kasih sudah membaca blog ini dan semoga bisa bermanfaat untuk Anda... \(^0^)/

Friday, November 27, 2015

Pengalaman Menjadi Talent Iklan Trenzing Topic November 2015

Hi all! Apa kabar nih semuanya? Semoga sehat-sehat yah! Kali ini gue akan menyisipkan satu postingan yang menurut gue unik dan ngga ada hubungannya sama travelling, yaitu pengalaman jadi talent iklan lagi! Hehehe... Kira-kira kali ini gue berperan sebagai apa yah? Penasaran? Yuk, mari disimak!
Hai! v(=^0^=)v
Sebelumnya gue ingin flashback sedikit dulu yah! Pengalaman pertama gue menjadi talent iklan adalah bulan September lalu dengan brand yang sama seperti sekarang. Kalau dulu gue berperan sebagai Pak Lurah, maka kali ini gue kedapatan peran yang mengejutkan! Hahaha... Apa itu? Sabar yah, nanti gue ceritain detail di paragraf selanjutnya. Selain itu, bila di iklan yang terdahulu gue hanya tampil 3 detik, dan ada yang kecewa melihat penampilan gue yang singkat itu *pede mode on*, maka kali ini gue tampil dengan durasi yang lebih lama. Nah, kalau dulu muka gue emang sengaja dibikin ganteng, kali ini lebih dibikin ancur. Walah, malah makin penasaran yah? Oke deh, gue mulai ceritanya yah...
Gue sebagai Pak Lurah di Iklan Sebelumnya
Jadi gini, temen-temen talent di iklan sebelumnya ditawari lagi untuk jadi talent di iklan kali ini. Ada juga beberapa pemain baru. Nah, iklan kali ini ada 2 tema, yaitu pernikahan Chelsea dan Halloween. Nah, menurut kalian kira-kira gue berperan sebagai apa nih? Hahaha... Kalau liat fotonya pasti langsung tau. Hahaha... Yap betul! Sebagai Bapak Ponco. Sedangkan yang menjadi Neng Kuntinya adalah temen kantor juga, sebut saja Kak Farah. Itu juga agak dadakan sih dipilihnya, karena ngga ada yang mau jadi Neng Kunti. Hehehe...
Bapak Ponco dan Neng Kunti
Sebelum proses shooting, kami, para talent diminta persetujuannya untuk berperan lagi di iklan kali ini. Lalu bagi yang setuju, diberikan script yang harus dihafalkan beberapa hari sebelumnya.
Foto Setelah Di-Make-Up
Di hari H, proses shooting dimulai dari pagi hari. Pengambilan gambar dilakukan di beberapa spot kantor dan gue kedapetan scene di gudang. Wardrobe dan segala peralatan yang dibutuhkan sudah disiapkan oleh teman-teman, bahkan sampe ke make-up make-upnya. Hahaha... Keren juga sih menurut gue. Walaupun persiapannya singkat, tapi proses shooting berjalan lancar dan tidak ada gangguan. Sebenernya gue agak deg-deg-an sih karena temen-temen gue pada ngeliatin, apalagi disediain monitor untuk memantau gambar dari kamera. Wah, makin keliatan ancur dah gue! Tapi demi yang namanya profesionalitas, tentu gue harus melawan rasa canggung gara-gara diliatin. Azek! Hehehe... Dan setelah menunggu hampir satu bulan lamanya, maka jadilah sebuah iklan seperti di bawah ini! Cekidot yah!


Demikianlah pengalaman gue menjadi talent iklan untuk yang kedua kalinya. Semoga ke depannya gue bisa dapat kesempatan lagi, syukur-syukur durasi nongolnya lebih lama. Hahaha... *ngarep* Terima kasih sudah membaca! Enjoy~!! \(^0^)/

Monday, November 23, 2015

Makam Raja-Raja Mataram Imogiri, Jogja

Hai hai... Apa kabar semuanya? Kali ini gue ingin meng-update destinasi wisata menarik lainnya yang ada di Jogja, yaitu Makam Raja-Raja Mataram Imogiri.
Bentuk Gerbang Masing-Masing Makam
Gue berangkat dari Jakarta pada tanggal 19 malam dan kembali lagi di Jakarta pada tanggal 22 November 2015. Salah satu destinasi menarik yang gue kunjungi di Jogja adalah Makam Raja-Raja Mataram Imogiri. Ada apa ajah sih di sana? Tapi sebelumnya ijinkan gue menceritakan sedikit sejarahnya dulu yah. Cekidot!
Gerbang utama menuju pintu masuk makam
Makam raja-raja Mataram atau lebih dikenal dengan Makam Imogiri terletak di desa Ginirejo, Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Makam ini mulai dibangun sekitar tahun 1632 sampai 1640 Masehi oleh Sultan Agung Adi Prabu Hanyokrokusumo, Sultan Mataram yang ke-3, keturunan dari Panembahan Senopati, Raja Mataram pertama. Hingga saat ini makam-makam tersebut tetap dilestarikan dan sering dikunjungi oleh masyarakat Jogja dan para wisatawan dari berbagai daerah. Pemakaman ini merupakan salah satu objek wisata andalan di Imogiri yang menjadi bagian dari berbagai keunikan pariwisata di Yogyakarta.
Gerbang menuju ke makam raja-raja
Menurut sejarah, makam Imogiri sebenarnya bagian dari bangunan Keraton Kasultanan. Makam para raja ini terletak di atas perbukitan. Setelah Kerajaan Mataram Islam mengalami perpecahan dan terbagi menjadi 2, yaitu Kasunanan yang terletak Surakarta dan Kasultanan yang berada di Yogyakarta, maka makam Imogiri pun juga terpecah menjadi 2 bagian. Untuk bagian sebelah Barat digunakan sebagai tempat pemakaman bagi para raja-raja yang berasal dari Kasunanan Surakarta. Sedangkan untuk bagian Timur digunakan sebagai tempat pemakaman para raja yang berasal dari Kasultanan Yogyakarta.
Penampakan anak tangga dari atas
Raja Mataram yang pertama kali dimakamkan di makam Imogiri ini adalah Sultan Agung Hanyokrokusumo, beliau telah berpesan bila kelak beliau mangkat atau wafat minta untuk dimakamkan di tempat tersebut. Sampai sekarang para raja baik dari Kasultanan Yogyakarta maupun Kasunanan Surakarta yang telah mangkat, semua dimakamkan di pemakaman Imogiri ini. Komplek pemakaman Imogiri memiliki luas sekitar 10 hektar. Di tempat ini tidak hanya terdapat makam persemayaman para raja-raja saja, melainkan juga ada masjid, gapura, kelir (sebuah bangunan yang digunakan sebagai pembatas pintu gerbang), padasan (tempat unutk berwudhu yang biasa diisi satu tahun sekali lebih tepatnya di bulan Suro), dan juga sebuah kolam yang terletak di sekitar masjid.
Ini anak tangga menuju makam, siapkan tenagamu guys!
Namun, untuk mencapai makam ini, siapkan tenaga yah teman-teman, karena sebelum tiba di makam para raja, kita harus naik tangga sebanyak hampir 400 anak tangga (setidaknya itu yang berhasil gue hitung). Hehehe... Sayangnya, saat gue tiba di sana, pintu gerbang menuju ke masing-masing makam dikunci sehingga gue tidak bisa mengunjungi makam masing-masing raja. Oh iya, jika kalian berziarah ke tempat ini, jangan lupa untuk membeli buku tipis berisi sejarah makam Imogiri ini. Mungkin hal ini ga penting buat kalian, tetapi yang menjual rata-rata adalah nenek-nenek yang sudah berusia lanjut. Dengan hanya mengeluarkan 5 ribu rupiah saja, kita dapat membantu mereka. Yah, itung-itung amal sih. Hehehe...
Denah Makam Raja-Raja Mataram Imogiri
Demikianlah cerita gue mengunjungi makam raja-raja di Imogiri. Semoga dapat menambah wawasan kita mengenai tempat-tempat wisata yang ada di Jogja. Terima kasih sudah membaca. Enjoy~!! \(^0^)/

Tuesday, November 10, 2015

Upacara Adat Merti Dusun Candi Winangun, Jogja

Hai semuanya! Apa kabar nih? Semoga kita semua selalu dilindungi oleh Yang Mahakuasa yah! Pada postingan kali ini, gue ingin mencoba melakukan ekspansi dengan memasukkan tema postingan yang baru. Biasa gue bercerita mengenai travelling, tapi kali ini, gue akan membahas hal yang lebih dalam, yaitu travelling untuk melihat upacara adat budaya. Buat kalian yang ngaku cinta budaya Indonesia dan punya jiwa nasionalis yang tinggi, kalian kudu baca postingan kali ini. Hehehe... Lanjut!
Jadwal Acara Merti Dusun Candiwinangun
Baru sekitar 3 minggu lalu gue travelling ke Jogja dan Ambarawa dan kali ini gue melakukan travelling ke Jogja lagi. Namun kali ini tujuannya berbeda, yaitu meliput upacara adat di Jogja. Karena cuti yang gue punya tinggal 1 hari, maka kali ini gue melakukan travelling hanya di weekend. Berangkat menggunakan kereta api dari Jakarta hari Sabtu pagi dan kembali tiba di Jakarta Senin subuh dengan menggunakan kereta api juga. Hehehe... Okelah, daripada kelamaan basa-basi, langsung ajah yah gue ceritakan upacara adat seperti apa sih yang kali ini gue ikuti. Cekidot ya!
Barisan Pasukan Ala Keraton Yogyakarta
Upacara adat yang gue ikuti ini disebut Merti Desa atau Merti Dusun. Sebelum gue bercerita seperti apa rangkaian acara adat ini, gue akan coba jelaskan secara singkat pengertian dari Merti Dusun. Merti Dusun sering disebut juga dengan bersih desa, hakikatnya sama dengan makna simbol rasa syukur masyarakat kepada Sang Pencipta atas apa yang telah diberikan. Karunia tersebut dapat berupa rezeki yang melimpah, keselamatan, ketentraman, serta keselarasan hidup. Masyarakat Jawa percaya ketika sedang dilanda duka dan musibah pun masih banyak hal yang pantas disyukuri. Ada banyak cara untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Sang Pencipta seperti tradisi Merti Dusun. Ungkapan rasa syukur salah satunya berbentuk Gunungan yang merujuk dan menyerupai bentuk sedekah seperti upacara Grebeg.
Badut-Badutan yang sedang ngehits ini turut memeriahkan acara Merti Dusun
Acara Murti Dusun dimulai hari Sabtu malam, dimulai dengan dangdutan bersama ala-ala Pantura. Udah kebayang banget khan gimana suasana panggung yang diisi oleh biduan-biduan bohay nan seksi. Tapi mohon maap nih guys, karena ini topiknya membahas mengenai budaya, maka bagian ini gue skip yah! Biarlah gue yang nikmati sendiri. Ehe... Next!
Dangdutan ala Pantura. Tariiikkk Maaang~!!
Pagi harinya sekitar pukul setengah 8, para warga sudah berkumpul di lapangan yang lokasinya tak jauh dari rumah nenek gue. Gue bersama nyokap berjalan kaki menuju ke lapangan. Di lapangan, para warga yang berkumpul menggunakan pakaian tradisional Jogja dan ada sekumpulan pasukan ala Keraton Yogyakarta. Acara Merti Dusun pagi itu dibuka oleh lurah Candiwinangun. Candiwinangun merupakan nama daerah dimana acara adat ini diadakan.
Nyokap gue berfoto bersama rekannya yang menggunakan pakaian tradisional Jawa
Setelah acara dibuka dengan sambutan dari lurah dan doa, 3 buah gunungan yang sudah dibuat oleh warga RW 11, 12, dan 13 diarak keliling kampung. Sekitar pukul 10 pagi, rombongan sudah kembali ke lapangan yang menjadi titik awal keberangkatan, kemudian gunungan tersebut didoakan. Setelah didoakan, warga berebut sayuran dan buah-buahan dari tumpengan tersebut. Gue pun cuma kedapetan sebuah pisang, tapi tak apalah. Sayuran dan buah-buahan ini dianggap oleh warga memiliki berkah. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan kesenian jathilan atau kuda lumping.
Pemain Kuda Lumping
Jathilan dikenal juga sebagai Jaran Kepang atau Kuda Lumping. Di daerah lain, jathilan adalah sebuah seni pertunjukan yang berkembang luas di berbagai penjuru Yogyakarta. Dengan anyaman bambu yang dibuat menyerupai kuda, jathilan dipertunjukkan umumnya pada siang dan sore hari oleh sekelompok seniman yang terdiri dari penari dan pemain gamelan. Dahulu jathilan merupakan sebuah tarian ritual untuk memanggil roh kuda dan meminta keamanan desa serta keberhasilan panen. Menurut perannya dalam masyarakat Jawa, kuda melambangkan kekuatan, kepatuhan, dan sikap pelayanan dari kelas pekerja. Hal inilah yang menginspirasi seluruh pertunjukan jathilan yang menempatkan penari dengan kuda-kudaan sebagai pusat perhatian.
Aksi salah satu pemain jathilan yang sedang kesurupan
Pertunjukkan jathilan sering diidentikan dengan pertunjukkan yang berbau mistis karena memanggil roh untuk merasuki para penari dan menggunakan dukun yang sering disebut sebagai pawang. Namun, di sinilah letak serunya pertunjukkan ini. Seiring dengan perkembangan jaman, pertunjukan ini juga berkembang. Pada pertunjukan jathilan kali ini, terdapat penari perempuan. Penari perempuan memang jarang ditemukan saat pertunjukan jathilan pada umumnya. Pertunjukan jathilan kali ini terdiri dari 4 babak. Namun karena gue harus ke stasiun karena kereta api menuju Jakarta berangkat pukul 6 sore, maka gue hanya menyaksikan 3 babak saja dan tidak menonton jathilan sampai selesai.
Aksi para pemain Kuda Lumping
Demikianlah postingan gue mengenai adat Merti Dusun. Semoga postingan ini memberikan wawasan bagi kita semua sebagai bangsa Indonesia bahwa bangsa yang kaya ini memiliki beragam suku serta adat istiadat dan dapat meningkatkan rasa nasionalisme kita sebagai bangsa yang besar. Terima kasih sudah membaca blog gue ini dan nantikan postingan gue selanjutnya karena di bulan November ini akan ada postingan seru lainnya di setiap minggunya! Enjoy~!! \(^0^)/
Barisan pasukan ala Keraton Yogyakarta
Salah satu gunungan yang akan diarak keliling kampung
Kata sambutan oleh Pak Lurah (yang pakai baju pink)
Persiapan sebelum keliling kampung
Warga yang mengikuti perarakan keliling kampung
Ramainya acara Merti Dusun Candiwinangun
Keliling Kampung Candiwinangun
Barisan Pasukan ala Keraton Yogyakarta
Warga keliling kampung Candiwinangun
Barisan Pasukan ala Keraton Yogyakarta
Persiapan sebelum Gunungan diserbu warga
Warga berebut Gunungan yang dianggap memiliki berkah
Salah satu Gunungan yang diserbu warga
Aksi para pemain Kuda Lumping
Salah satu pemain jathilan yang kesurupan saat sedang beraksi
Pemain gamelan
Pemain gamelan tradisional
Pemain jathilan perempuan
Aksi salah satu pemain jathilan perempuan