Wednesday, August 10, 2016

Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya

Hai hai... Apa kabar semuanya? Tak terasa seminggu lagi kita akan merayakan HUT kemerdekaan negara Indonesia yang ke-71. Kita sebagai generasi muda tentu pernah mendengar slogan yang bunyinya "Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan jasa para pahlawannya". Nah, daripada bingung pas libur HUT RI mau kemana, gue punya rekomendasi salah satu tempat bersejarah di Jakarta nih. Cekidot yah guys!
Monumen Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya
Pada tanggal 7 Agustus 2016 yang lalu, untuk pertama kalinya gue pergi ke Monumen Pancasila Sakti yang terletak di Lubang Buaya. Dengan biaya tiket masuk hanya 5 ribu rupiah per orang dan gratis untuk kendaraan, maka tempat bersejarah ini wajib banget kamu kunjungi, apalagi bagi para pencinta sejarah perjuangan para pahlawan di masa lalu. Eits, tapi bukan masa lalumu bareng mantan lho yah! Hehehe... Ada apa ajah sih di sana? Yuk, cekidot!
Sumur Lubang Buaya
Monumen Pancasila Sakti dibangun atas gagasan Presiden ke-2 Indonesia, yaitu Soeharto. Dibangun di atas tanah seluas 14,6 hektare. Monumen ini dibangun dengan tujuan mengingat perjuangan para Pahlawan Revolusi yang berjuang mempertahankan ideologi negara Republik Indonesia, yaitu Pancasila dari ancaman ideologi komunis.
Monumen Pahlawan Revolusi
Keenam pahlawan revolusi tersebut adalah:
- Panglima Angkatan Darat Letjen TNI Ahmad Yani
- Mayjen TNI R.Suprapto
- Mayjen TNI M.T. Haryono
- Mayjen TNI Siswondo Parman
- Brigjen TNI DI Panjaitan
- Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo
Salah satu koleksi mobil jeep Monumen Pancasila Sakti
Jenderal TNI A.H. Nasution juga disebut sebagai salah seorang target tetapi dia selamat dari upaya pembunuhan tersebut. Sebaliknya, putrinya yang bernama Ade Irma Suryani Nasution dan ajudan A.H. Nasution yang bernama Lettu Pierre Tendean tewas dalam usaha pembunuhan tersebut.
Salah satu koleksi mobil sedan Monumen Pancasila Sakti
Monumen yang terletak di daerah Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur ini, berisikan bermacam-macam hal dari masa pemberontakan G30S-PKI, seperti pakaian asli para Pahlawan Revolusi. Di kawasan ini terdapat sebuah lubang sumur tua sedalam 12 meter yang digunakan untuk membuang jenazah para korban G30S. Sumur tua itu berdiameter 75 cm.
Koleksi kendaraan Monumen Pancasila Sakti
Monumen ini berdiri di atas lahan seluas 9 hektar dan terdiri dari beberapa tempat yang bersejarah seperti:
- Museum Pengkhianatan PKI (Komunis)
- Sumur Maut
- Rumah Penyiksaan. Rumah penyiksaan adalah tempat para Pahlawan Revolusi disiksa untuk menandatangani surat pernyataan untuk mendukung komunisme di Indonesia. Mereka disiksa sebelum akhirnya dibunuh. Di tempat ini ditampilkan diorama penyiksaan 7 Pahlawan Revolusi beserta kisah dimulainya pemberontakan PKI. Dahulu tempat ini merupakan sebuah sekolah rakyat atau sekarang lebih dikenal sebagai SD dan dialihfungsikan oleh PKI sebagai tempat penyiksaan kejam para Pahlawan Revolusi.
- Pos Komando
- Dapur Umum
- Museum Paseban
Museum Pengkhianatan PKI (Komunis)
Demikianlah cerita singkat gue mengunjungi Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya. Semoga dapat menambah wawasan kita akan sejarah masa lalu para pahlawan. Mari kita isi kemerdekaan dengan hal-hal yang positif! Terima kasih sudah membaca. Merdeka~!! \(^0^)/
Diorama penyiksaan Pahlawan Revolusi (1)
Diorama penyiksaan Pahlawan Revolusi (2)
Diorama penyiksaan Pahlawan Revolusi (3)
Diorama penyiksaan Pahlawan Revolusi (4)
Museum Paseban di Monumen Pancasila Sakti
Rombongan lingkungan
Bapak-bapak bergaya ala-ala Pahlawan Revolusi
My Lovely Mom and Dad! \(^0^)/
Bonus: Generasi muda Pahlawan Revolusi masa kini! v(=^.^=)v

Ziarah ke Paroki Santa Klara, Ibu Teresa, dan Bukit Kalvari

Sekedar mengingatkan kembali bahwa di Tahun Kerahiman Allah ini, setiap umat Katolik dihimbau untuk mengunjungi 9 Gereja. Pada hari Minggu tanggal 7 Agustus 2016 umat lingkungan Don Bosco wilayah Santa Emerensia kembali mengadakan ziarah ke 3 paroki sesuai dengan rekomendasi KAJ, yaitu Paroki Santa Klara di Bekasi, Paroki Ibu Teresa di Cikarang, dan Paroki Bukit Kalvari di Lubang Buaya.
Umat lingkungan Don Bosco yang mengikuti ziarah
Seperti sebelumnya, ziarah kali ini terbuka untuk semua umur dan antusiasme umat lingkungan Don Bosco ternyata masih besar, bahkan tak hanya umat dari lingkungan Don Bosco saja, pada ziarah kali ini ada umat dari lingkungan lain yang ikut bergabung. Ziarah ini menggunakan 10 kendaraan berjenis MPV dan SUV.

Sekitar pukul 08.00 pagi, rombongan kembali berkumpul di lapangan parkir SMPN 140 Jakarta, lalu dilanjutkan dengan doa keberangkatan yang dipimpin oleh Bapak Paulus. Setelah berdoa, rombongan pun berangkat ke Paroki Santa Klara Bekasi. Untuk mempersingkat waktu, rombongan menuju ke paroki ini dengan melewati jalan tol karena jarak Paroki Santa Klara cukup jauh dari Sunter.
Doa keberangkatan yang dipimpin oleh Bapak Paulus
Sesampainya di Paroki Santa Klara kami disambut oleh pengurus yang berada di sana dan menjelaskan secara singkat mengapa Paroki Santa Klara termasuk ke dalam paroki yang sedang berjuang. Gereja Santa Klara ini kondisinya cukup memprihatinkan. Luas bangunannya hanya seluas 3 ruko saja dan hanya mampu menampung umat dengan jumlah yang sedikit. Tak hanya itu, Gereja Santa Klara ini diapit oleh gereja-gereja tetangga. Jadi, dalam satu deret ruko terdapat 5 tempat ibadah yang semuanya berupa gereja. Pantas saja Paroki ini tidak dimasukkan ke dalam rekomendasi kunjungan oleh KAJ karena memang situasinya masih belum benar-benar kondusif.
Gereja Santa Klara yang masih berupa ruko
Di Gereja Santa Klara rombongan berdoa bersama sesuai dengan ketentuan yang ada di buku panduan Kerahiman Allah yang dipimpin oleh Bapak Paulus. Selesai berdoa, rombongan berfoto bersama lalu menuju ke tujuan selanjutnya, yaitu Paroki Ibu Teresa di Cikarang.
Pengurus Gereja Santa Klara
Paroki Ibu Teresa lokasinya lebih jauh lagi dari Jakarta. Untuk menuju ke sana, kita bisa menggunakan tol Jakarta-Cikampek, lalu keluar di pintu tol Cikarang. Begitu sampai di sana, rombongan dibuat terkesima karena dilihat dari suasananya, terlihat sekali Paroki Ibu Teresa sedang berjuang. Lokasinya berada di dalam bangunan sekolah. Lahan yang disediakan untuk pembangunan gereja berada di sebelah bangunan sekolah tersebut dengan luas sekitar 5.600 meter persegi. Sayangnya, selama masih terkendala perizinan pembangunan gereja, lahan ini hanya dimanfaatkan sebagai tempat parkir saja. Gerejanya pun masih meminjam lapangan indoor sekolah, masih beratapkan tenda, dan kursinya masih menggunakan bangku plastik (seperti bangku bakso).
Pengurus Gereja Ibu Teresa
Kemudian kami disambut salah satu umat yang juga pengurus paroki. Menurutnya, kendala terbesar belum bisanya dibangun sebuah gereja di sana adalah kendala soal perizinan dan sertifikat tanah. Beliau menceritakan bahwa sebenarnya beberapa waktu lalu, izin sudah diberikan oleh kepala pemerintahan setempat, akan tetapi karena rumitnya birokrasi maka pengurusan izin pun bahkan sampai ke kesatuan keamanan setempat. Setelah mendengarkan penjelasan ini, rombongan pun berdoa bersama yang dipimpin oleh Bapak Paulus. Selesai berdoa, rombongan meminta izin kepada petugas gereja untuk menggelar makan siang bersama. Makanan yang ada sudah disiapkan bersama-sama oleh umat lingkungan Don Bosco secara swadaya. Selesai makan bersama, rombongan berangkat menuju tujuan terakhir, yaitu Paroki Bukit Kalvari.
Makan siang bersama
Rombongan sampai di Gereja Bukit Kalvari sekitar jam 3 sore dan di gereja ini akan ada misa pukul 17.00. Begitu tiba, kami disambut oleh pengurus yang berada di sana dan beliau menjelaskan secara singkat mengapa Paroki Kalvari termasuk ke dalam paroki yang sedang berjuang. Saat masuk ke dalam bangunan gereja, terdapat gapura kecil yang bertemakan Tahun Kerahiman Allah. Berdasarkan penjelasan pengurus gereja, gapura ini merupakan hasil dari ide salah satu pastor yang bertugas di sana. Ini merupakan hal yang unik, karena dari sekian banyak gereja yang saya kunjungi, baru kali ini saya menemukan dekorasi sederhana di dalam bangunan gereja yang bertemakan Tahun Kerahiman Allah. Doa bersama kembali dipimpin oleh Bapak Paulus. Selesai berdoa, rombongan berfoto bersama. Di samping gereja, terdapat sebuah taman kecil yang bertemakan Bukit Kalvari dan ternyata taman ini terhubung dengan Goa Maria yang terletak di belakang bangunan gereja. Walaupun kecil, tetapi taman ini cukup teduh dan di tengah-tengah taman terdapat saung yang boleh digunakan untuk bersantai sejenak.
Pengurus Gereja Bukit Kalvari
Karena umat Gereja Bukit Kalvari yang akan misa sudah berdatangan, maka rombongan memutuskan untuk pulang. Sebelum pulang, rombongan menyempatkan diri untuk mampir ke Monumen Pancasila Sakti yang tidak jauh dari sana. Semoga kegiatan ziarah ini dapat mengakrabkan seluruh umat di lingkungan Don Bosco.
Kondisi lapangan parkir di Gereja Santa Klara
Goa Maria Gereja Ibu Teresa
Bangunan Gereja Ibu Teresa yang masih menumpang dengan bangunan sekolah
Serah terima kolekte dengan pengurus Gereja Santa Klara
Berfoto bersama di Gereja Santa Klara
Berfoto bersama di Gereja Ibu Teresa
Berfoto bersama di Gereja Bukit Kalvari
Bonus: Gapura Tahun Kerahiman Allah \(^0^)/

Friday, July 29, 2016

MirumGetaway di Legok Kondang Bandung Tanggal 21-22 Juli 2016

Hai hai... Apa kabar nih semuanya? Setelah sebelumnya gue posting mengenai pertama kalinya gue mendaki gunung, kali ini gue akan bercerita mengenai kegiatan adventure lainnya yang ga kalah seru, di antaranya rafting dan paintball. Jalan-jalan kali ini pun lokasinya ga terlalu jauh dari ibukota Jakarta dan juga memiliki pemandangan alam yang tak kalah mengagumkan. Namun sebelum gue bercerita lebih jauh, akan gue jelaskan sedikit yah mengenai maksud dari judul di atas.
Legok Kondang di Ciwidey, Bandung
MirumGetaway adalah sebuah kegiatan outing yang diadakan oleh kantor gue pada tanggal 21-22 Juli 2016 kemarin. Destinasi MirumGetaway kali ini yaitu Legok Kondang yang berada dalam wilayah Ciwidey di Bandung. Legok Kondang merupakan salah satu tempat yang saat ini cukup ngehits di kalangan traveler. Tempat ini menjadi cukup terkenal karena menawarkan suasana yang berbeda dari penginapan lainnya. Legok Kondang mengusung tema "glamping" yang merupakan kepanjangan dari glamour camping. Maksud glamour camping di sini adalah camping tetapi dengan fasilitas seperti hotel, sangat jauh berbeda dengan pengertian camping secara tradisional yang mungkin pernah kita alami waktu pramuka dulu. Tenda di Legok Kondang ini bukan tenda biasa, dari luar memang penampakannya seperti sebuah tenda besar, tetapi di dalamnya terdapat fasilitas layaknya sebuah penginapan atau hotel seperti tempat tidur kasur, televisi, colokan listrik, kamar mandi pribadi yang bersih, dan lingkungannya yang ditata seindah mungkin. Gue upload juga foto-fotonya sebagai gambaran bagaimana suasana di sana. Nah, setelah cerita mengenai Legok Kondang, selanjutnya gue ceritakan gimana serunya kegiatan kami di sana. So, cekidot yo!
Private bathroom ala hotel bintang 4
Hari Kamis tanggal 21 Juli 2016 sekitar pukul 05.39, gue sudah sampai di meeting point, yaitu kantor gue sendiri. Hahaha! Pukul setengah 8 pagi, gue dan teman-teman kantor berangkat menggunakan 3 bus pariwisata berukuran besar menuju ke destinasi kami yang pertama, yaitu tempat rafting! Kami berangkat melalui jalan tol dalam kota, melewati tol Cikampek, dan berlanjut ke tol Cipularang. Perjalanan kali ini memakan waktu cukup lama karena kondisi lalu lintas yang lumayan ramai dan karena ukuran jalan raya di Bandung yang rata-rata cukup sempit untuk ukuran bus besar. Sekitar pukul setengah 2 siang kami tiba di sebuah danau di kawasan Pangalengan. Kondisi cuaca saat itu gerimis rintik-rintik dan membuat suhu udara semakin bertambah dingin. Kami pun turun dari bus dan bergegas untuk berganti pakaian, kemudian dilanjutkan dengan makan siang. Sebelum kegiatan rafting dimulai, kami dibagi ke dalam beberapa kelompok yang setiap kelompoknya terdiri dari 5 sampai 6 orang. Setelah itu, kami diberikan perlengkapan rafting dan briefing singkat bagaimana cara menggunakan dayung serta apa saja yang harus dilakukan jika terjadi hal-hal yang tidak terduga. Buat gue, ini adalah pengalaman pertama. Kami sudah siap lalu berjalan kaki menuju ke perahu karet masing-masing. Di setiap perahu sudah ada kakak-kakak yang akan membantu kita mengarahkan dan menjelaskan beberapa instruksi penting selama rafting. Sambil menyusuri danau menuju ke sungai yang berarus, kami dilatih untuk memahami beberapa instruksi ini. Dan setelah tiba di hulu sungai, kami bersiap untuk memulai kegiatan rafting yang sangat menyenangkan ini!
Subuh-subuh ngumpul dulu di kantor
Menurut saya yang baru pertama kali rafting, arus sungainya cukup deras, sudah cukup menegangkan bagi para pemula yang ingin mencoba rafting. Sungai yang berkelok-kelok serta arus yang kencang ditambah dinginnya air dan curamnya jeram yang kami lalui membuat kegiatan rafting ini begitu seru! Sayang sekali, karena minimnya peralatan dokumentasi yang gue miliki membuat gue kesulitan mendokumentasikan kegiatan ini. Mohon maaf kalau gue ga memiliki foto mengenai kegiatan rafting ini. Tetapi jangan kecewa, karena gue akan menceritakan kegiatan selanjutnya yang ga kalah seru! So, cekidot yo!
Meeting point rafting di tepi danau
Setibanya di muara sungai, kami diangkut menggunakan mobil bak terbuka yang telah dimodifikasi ke danau yang menjadi tempat pertama memulai rafting. Jalan yang belum rata, dinginnya suhu udara kala itu, dan hamparan kebun teh yang kami lalui membuat pengalaman naik mobil bak terbuka ini pun ga kalah seru. Hahaha... Maklum yah kalo gue agak kampungan. Hehehe... Skip!

Sesampainya di tepi danau, ternyata sudah disediakan kudapan berupa tahu goreng, pisang goreng, dan minuman hangat! Pas banget nih pas lagi dingin-dingin basah kayak gini! Hehehe... Setelah menikmati kudapan, kami bilas di kamar mandi yang banyak tersedia di sana. Tak terasa hari menjelang sore, waktu sudah menunjukkan pukul 18.00. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke tempat penginapan kami, yaitu Legok Kondang.
Suasana di tepian danau
Begitu sampai, bus kami parkir tidak jauh dari jalan raya. Kondisi cuaca saat ini masih gerimis rintik-rintik. Legok Kondang ini posisinya cukup tersembunyi dan akses jalannya cukup kecil sehingga bus kami tidak bisa parkir di halaman Legok Kondang. Dari parkiran bus, kami dijemput oleh tuk-tuk. Tuk-tuk adalah kendaraan bak terbuka yang dimodifikasi sedemikian rupa dan diberi tempat duduk. Tuk-tuk mirip dengan mobil keliling yang ada di Jakarta Fair, Taman Buah Mekarsari, atau Taman Safari. Lama perjalanan dari tempat parkir bus ke Legok Kondang menggunakan tuk-tuk kurang lebih memakan waktu 10 menit.
Suasana malam di Legok Kondang
Sesampainya di Legok Kondang, kegiatan pertama kami adalah makan malam! Maklum saja, jam sudah menunjukkan pukul 8 malam lewat tetapi kami belum makan. Setelah makan, kami menuju ke kamar kami masing-masing yang penampakannya dari luar seperti tenda untuk meletakkan barang-barang kami. Acara dilanjutkan dengan BBQ dan bermain games bersama. Untuk acara BBQ, kita ga perlu repot bakar-bakaran karena sudah dibakarin oleh petugas dari Legok Kondang, jadi tinggal makan doang! Hehehe... Selain BBQ, ada jagung bakar juga. Menurut gue, rasa BBQ di Legok Kondang ini cukup enak dan dagingnya cukup empuk! Maknyoslah saat dingin-dingin begini! Hehehe... Setelah BBQ, dilanjutkan dengan acara terakhir malam ini, yaitu peluncuran lentera di lapangan. Suasana malam itu menjadi indah dengan hadirnya cahaya yang memancar dari lentera-lentera yang kami terbangkan tersebut.
Suasana makan malam di Legok Kondang
Walaupun acara resmi sudah berakhir, pantang bagi gue untuk langsung naik ke kasur dan tidur. Oleh karena itu, gue menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan teman-teman lain yang kebetulan belum tidur juga. Kebetulan topik malam ini adalah pengalaman gue dan teman-teman saat mendaki gunung. Malam semakin larut, udara pun semakin dingin. Rasa kantuk pun tak tertahankan lagi. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Akhirnya kami bubar menuju ke kamar kami masing-masing. Begitu sampai di kamar, gue melakukan ritual sebelum tidur, seperti cuci kaki dan lain-lain. Tak lupa gue pasang alarm karena besok pagi dijadwalkan akan ada tracking. Karena hari ini cukup melelahkan, gue langsung terlelap hingga pagi hari.
Camping tapi kasurnya mayan elit \(^0^)/
Hari Jumat pagi tanggal 22 Juli 2016, gue terbangun karena mendengar suara alarm yang keluar dari ponsel kesayangan gue. Setelah cuci muka dan bersiap, kami menuju ke meeting point, yaitu tempat dimana BBQ semalam diadakan. Ternyata masih sedikit orang yang berkumpul untuk tracking. Sambil menunggu teman-teman yang lain, kami menyeduh mie instan dalam kemasan sterofoam (pasti taulah apa merknya) untuk sekedar mengganjal perut kami yang kelaparan pagi itu, sekaligus sebagai sumber tenaga kami untuk tracking.
Suasana pagi hari di Legok Kondang
Setelah beberapa lama menunggu, tracking dimulai dengan pemanasan di lapangan yang dilakukan kurang lebih selama 10 menit. Setelah pemanasan, tracking pun dimulai! Kami berjalan menyusuri perbukitan. Track awalnya merupakan track mendaki ke puncak perbukitan. Udara pagi itu sangat segar, jauh berbeda dengan udara perkotaan yang setiap hari gue rasakan. Selama perjalanan, kami disuguhkan pemandangan hamparan perbukitan yang menghijau. Sambil tracking, gue mengabadikan pemandangan yang foto-fotonya juga gue upload di postingan kali ini.
Pemanasan dulu sebelum tracking guys!
Kami tracking kurang lebih selama 2 jam. Selesai tracking dilanjutkan dengan sarapan pagi. Sarapan pagi ini cukup menggairahkan karena kami disuguhkan 2 macam nasi, yaitu nasi kuning dan nasi goreng. Lalu terbesit di benak gue, bagaimana kalo kedua nasi ini dicampur? Hahaha...
Tampilan tenda dari luar
Selesai sarapan, tiba-tiba ada beberapa teman yang memberitahukan bahwa bagi yang ingin mencoba bermain paintball bisa berkumpul di lapangan. Karena gue belum pernah main paintball maka gue bergegas menuju ke lapangan. Kali ini kuota yang disediakan hanya 20 orang saja!
Sejuknya udara pagi hari di Legok Kondang
Sebelum bermain, kami menggunakan perlengkapan paintball terlebih dahulu, lalu kami dibagi ke dalam 4 kelompok yang masing-masing terdiri dari 5 orang dan dijelaskan aturan mainnya serta cara menggunakan senjata. Kemudian kami pun segera menuju ke arena paintball!
Pemandangan hijau nan asri di Legok Kondang
Sebelum bermain, kami diberikan waktu beberapa menit untuk melakukan simulasi peperangan sekaligus untuk latihan membidik dan menembak. Setelah selesai simulasi, permainan pun dimulai! Setiap kelompok diberikan jatah bermain 2 kali melawan tim yang berbeda. Mohon maaf, lagi-lagi karena keterbatasan alat dokumentasi yang gue miliki, maka gue tidak mendokumentasikan kegiatan ini.
Salah satu spot foto terbaik di Legok Kondang
Selesai bermain, gue bergegas menuju  ke kamar untuk segera ganti baju, mandi, dan beberes karena kami akan pulang. Kegiatan selanjutnya adalah makan siang, lalu berfoto bersama. Acara berfoto bersama kali ini sedikit berbeda dan futuristik. Kenapa? Karena kali ini kami berfoto bersama menggunakan sebuah drone yang diambil dari ketinggian. Penasaran kayak apa hasilnya? Gue upload hasilnya yah!
Drone yang digunakan untuk mengambil foto dari ketinggian
Singkat cerita, dari Bandung kami berangkat sekitar pukul setengah 4 sore. Di jalan, kami menyempatkan diri untuk membeli oleh-oleh di rest area KM 97 tol Cipularang. Gue pun tidak melewatkan kesempatan ini untuk membeli salah satu oleh-oleh yang amat tersohor di Bandung, yaitu molen pisang cokelat keju untuk keluarga tercinta! Perjalanan memakan waktu kurang lebih 6 jam dan sudah termasuk istirahat. Kami tiba kembali di kantor kurang lebih pukul setengah 10 malam. Begitu sampai, gue langsung memesan ojek online untuk pulang ke rumah.
Hasil foto menggunakan drone
Demikianlah cerita seru mengenai MirumGetaway kali ini. Terima kasih sudah membaca dan sampai jumpa di postingan selanjutnya! Enjoy~!! \(^0^)/
Cheers!
Suasana saat BBQ
Persiapan peluncuran lentera \(^0^)/
Lentera diluncurkan! \(^0^)/
Asrinya lingkungan di Legok Kondang
Kamar yang berupa tenda di Legok Kondang
Pemandangan di Legok Kondang yang menyejukan hati
Pemandangan yang kami jumpai saat tracking di pagi hari
Kompleks Legok Kondang cukup luas
Pemandangan alam di Ciwidey! \(^0^)/