Thursday, June 16, 2016

My First Time Mendaki Gunung di Gunung Gede Tanggal 11-12 Juni 2016

Hai hai... Apa kabar nih semuanya? Di bulan Juni ini saya akan memposting cerita yang spesial. Spesialnya dimana? Nah, kali ini saya ingin menceritakan mengenai pengalaman saya pertama kali mendaki gunung yang pastinya seru abis! Penasaran? Silakan disimak yah postingan kali ini! Hehehe...
The Lucky Laki \(^0^)/
Saya bersama 4 teman lainnya yang semuanya laki-laki memutuskan untuk mendaki ke Gunung Gede. Sebenarnya Gunung Gede ini adalah pendakian saya yang kedua setelah Gunung Bromo (itu kalau Gunung Bromo kalian anggap sebagai gunung sih. Hehehe...). Sebelumnya akan saya jelaskan sedikit yah mengenai Gunung Gede ini. Gunung Gede berada di dalam wilayah Taman Nasional Gede Pangrango. Gunung ini berada di wilayah 3 kabupaten, yaitu kabupaten Bogor, Cianjur, dan Sukabumi dengan ketinggian puncak 2.958 meter di atas permukaan laut. Gerbang utama menuju gunung ini adalah dari Cibodas dan Cipanas. Kali ini saya dan teman-teman mendaki gunung ini dari Cibodas.
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Berikut adalah beberapa lokasi / obyek yang menarik untuk dikunjungi atau bahkan akan kita lewati saat mendaki ke puncak Gunung Gede:
1) Telaga Biru. Danau kecil yang terletak 1,5 kilometer dari pintu masuk Cibodas. Danau ini selalu tampak biru diterpa sinar matahari karena ditutupi oleh ganggang biru.
2) Air terjun Cibeureum. Air terjun yang mempunyai ketinggian sekitar 50 meter, terletak sekitar 2,8 kilometer dari Cibodas.
3) Air panas. Terletak sekitar 5,3 kilometer atau 2 jam perjalanan dari Cibodas.
4) Kandang Batu dan Kandang Badak. Untuk kegiatan berkemah. Berada pada ketinggian 2.220 meter dari permukaan laut dengan jarak 7,8 kilometer atau 3,5 jam perjalanan dari Cibodas.
5) Puncak dan Kawah Gunung Gede. Panorama berupa pemandangan matahari terbenam (sunset) / terbit (sunrise). Berada pada ketinggian 2.958 meter dari permukaan laut dengan jarak 9,7 kilometer atau 5 jam perjalanan dari Cibodas.
6) Alun-Alun Suryakencana. Dataran seluas 50 hektare yang ditutupi hamparan bunga edelweiss. Berada pada ketinggian 2.750 meter di atas permukaan laut dengan jarak 11,8 kilometer atau 6 jam perjalanan dari Cibodas.
Air terjun Cibeureum
Untuk mencapai lokasi Taman Nasional Gede Pangrango bisa ditempuh melalui rute Jakarta-Bogor-Cibodas dengan waktu sekitar 2,5 jam (kurang lebih 100 kilometer) menggunakan mobil.
Indahnya pemandangan di titik awal pendakian Gunung Gede
Nah, itu tadi adalah penjelasan singkat mengenai Gunung Gede. Karena ini adalah pengalaman pertama kami dalam mendaki gunung, maka saya dan teman-teman sepakat untuk menggunakan biro jasa wisata yang memberikan fasilitas porter. So, apabila ada yang ingin mendaki gunung tapi tidak mempunyai peralatannya, tidak ingin terlalu banyak membawa barang. atau bahkan tidak punya pengalaman mendaki gunung sama sekali, maka saya sangat menyarankan menggunakan jasa porter. Lalu fasilitas apa saja sih yang didapatkan jika kita menggunakan biro jasa yang menyediakan porter? Berikut adalah daftarnya:
1) SIMAKSI
2) Surat Keterangan Sehat
3) Guide
4) Porter
5) Makan 3 kali
6) Snack 2 kali
7) Air mineral
8) Tenda dome (dipinjamkan)
9) Matras (dipinjamkan)
10) Sleeping bag (dipinjamkan)
11) Peralatan masak (dipinjamkan)
12) Peralatan makan (dipinjamkan)
F4 ala-ala \(^0^)/
Oke, sekarang saya ceritakan mengenai pengalaman pertama mendaki gunung ini yah! Yuk disimak!
Break sejenak untuk pipis bareng v(^0^)v
Hari Jumat tanggal 10 Juni 2016 pukul 6 sore, saya bergegas meninggalkan kantor untuk segera packing lalu berkumpul dengan teman-teman lainnya pukul 8 malam di salah satu halte busway di daerah Sunter. Kami naik bus Transjakarta menuju ke Kampung Rambutan. Dari Kampung Rambutan, kami melanjutkan perjalanan dengan bus yang menuju ke Cianjur tetapi melewati Cibodas. Bus yang ada saat itu dengan rute yang sesuai dengan yang kami mau hanya tinggal satu bus, yaitu bus ekonomi Bahagia Utama dengan harga tiket Rp. 25.000,- per orang. Sebenarnya bus ini sangat jauh dari kata nyaman karena banyak pedagang asongan dan sering sekali ngetem, tapi apa mau dikata, kami tidak memiliki pilihan lain saat itu.
Selfie sejenak di air panas yang ada di salah satu bagian jalur pendakian Gunung Gede
Kurang lebih sekitar pukul 2 dini hari di hari Sabtu tanggal 11 Juni, kami tiba di pertigaan Cibodas. Hawa dingin langsung menghadang ketika turun dari bus. Kami menyempatkan diri untuk mampir ke swalayan membeli snack, minuman, dan beberapa barang yang kami butuhkan. Setelah itu, kami mencarter angkot menuju ke basecamp Gunung Gede.
Air panas ini mengalir layaknya air terjun. Jangan fokus ke muka gue yah! v(^0^)v
Sesampainya di basecamp, kami mencari warung makan dan memesan makanan serta beristirahat sejenak. Saat itu suasananya sangat sepi, mungkin karena sudah berada di bulan puasa sehingga tidak banyak orang yang mendaki. Udara malam saat itu begitu dingin. Selesai makan, kami tiduran sejenak untuk sekedar melepas lelah sambil menunggu datangnya fajar.
Di tengah Alun-Alun Suryakencana
Singkat cerita, pagi hari saya bangun sekitar pukul setengah 7 pagi, kemudian kami jalan menuju ke basecamp biro jasa yang kami sewa. Di sana kami melakukan persiapan akhir seperti membagi bekal makan siang dan buang air, lalu kami berjalan menuju ke pos pelaporan pendakian. Dalam perjalanan ini, kami lewat di samping Kebun Raya Cibodas.
Panorama di Alun-Alun Suryakencana memang sangat mengagumkan!
Di pos pelaporan dilakukan pemeriksaan dokumen izin pendakian (SIMAKSI), setelah itu kami diizinkan untuk mendaki. Dan perjalanan pendakian pun dimulai sekitar pukul 8 kurang!
Hamparan padang savana di Alun-Alun Suryakencana
Sebenarnya jalur pendakian di Gunung Gede sudah ditata cukup baik dengan menggunakan batu dan petunjuk arah berupa bendera plastik yang diikat di batang pohon sehingga pendaki yang baru pertama kali naik pun tidak akan tersesat. Banyak hal yang terjadi saat pendakian ini, seperti saat makan bekal bersama, berfoto ria, bahkan ada salah satu teman kami yang sangat kelelahan. Maklumlah, namanya juga baru pertama kali mendaki. Hehehe...
Ngaso dulu sambil menunggu teman yang berjalan lebih lambat. Hehehe... v(^0^)v
Sepanjang perjalanan, kami disuguhi pemandangan hutan hujan tropis, seperti pepohonan yang rimbun, air terjun, bahkan air panas yang mengandung belerang. Singkat cerita, sekitar pukul 1 siang, kami tiba di Kandang Badak. Di Kandang Badak ini kami beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan mendaki ke puncak Gunung Gede dengan jalur pendakian yang lebih curam lagi. Setelah beristirahat kurang lebih selama setengah jam, kami pun kembali melanjutkan perjalanan.
Berfoto di tengah hutan hujan tropis. Kapan lagi bray! Hahaha... \(^0^)/
Benar saja, jalur pendakian berikutnya jauh lebih curam dan sangat menguras tenaga. Setelah kurang lebih 2 jam kami mendaki, akhirnya kami sampai di tempat untuk mendirikan tenda. Tempat ini tidak terlalu jauh dari Puncak Gunung Gede. Sembari menunggu porter memasangkan tenda, kami beristirahat sejenak. Setelah tenda berdiri, kami diberikan gorengan sebagai kudapan. Mantap!
Kawah Gunung Gede yang posisinya berada di sebelah tenda kami
Hari sudah sore, rencananya kami ingin ke Alun-Alun Suryakencana, tetapi badan kami sudah terlalu lelah untuk berjalan lebih jauh. Oleh karena itu, kegiatan kami sore ini adalah hunting sunset, tetapi sayang sekali, awan tebal menggantung di langit sehingga mataharinya tidak terlihat. Waktu terus berjalan dan tak terasa hari sudah malam, kami pun dibuatkan makanan oleh porter. Menurut saya, makan malam kali ini cukup mewah untuk ukuran camping di gunung. Kenapa? Karena malam ini kami makan nasi, ayam goreng, dan sayur sop. Untuk para pendaki, mungkin sangat menghindari makan sop di atas gunung. Alasannya karena memasak sop membutuhkan air yang jauh lebih banyak dan ini akan memberatkan barang bawaan kita. So, makan sayur sop di puncak gunung adalah makanan yang mewah! Catet! Hahaha...
Suasana senja saat hunting sunset di puncak Gunung Gede
Setelah makan malam, kami menghabiskan waktu dengan bercengkrama bersama para porter membahas mengenai suasana di Gunung Gede, hal-hal yang berhubungan dengan mendaki gunung, dan sekedar mendengarkan suka duka menjadi porter. Kalian akan merasa sangat kagum karena ada beberapa porter yang tetap berpuasa walaupun ada pekerjaan untuk mengantarkan tamu mendaki. Bayangin ajah, lagi puasa, membawa barang puluhan kilo di punggung, dan masih harus berjalan mendaki sepanjang belasan kilometer. Gila, sulit dipercaya! Hahaha... Setelah puas bercengkrama, kami menikmati malam itu dengan melihat gugusan bintang. Dari ketinggian seperti ini dan untungnya seharian ini langit cerah, membuat gugusan bintang di langit menjadi mudah dilihat dan begitu indah. Seindah dirimu yang membaca postingan ini. Cieee~!! Tapi mohon maaf, karena keterbatasan peralatan fotografi yang dibawa, kami tidak bisa mendokumentasikannya. Setelah puas melihat bintang, kami menuju ke tenda untuk tidur karena esok subuh kegiatan selanjutnya adalah hunting sunrise dan jalan-jalan ke Alun-Alun Suryakencana. Yay!
Suasana malam setelah dinner di Gunung Gede. Ngebandrek dulu coy! v(^0^)v
Pukul 5 pagi, kami bangun untuk bersiap-siap hunting sunrise di puncak Gunung Gede. Setelah siap, kami berangkat! Ternyata di puncak sudah banyak orang berkumpul dengan tujuan yang sama seperti kami, yaitu hunting sunrise! Tetapi sayangnya pagi itu awan masih tebal dan menutupi matahari. Setelah puas hunting sunrise, kami melanjutkan perjalanan ke Alun-Alun Suryakencana. Dari puncak Gunung Gede, jarak Alun-Alun Suryakencana tidak begitu jauh sebenarnya, waktu yang dibutuhkan kurang lebih hanya setengah jam dengan track menurun. Dan begitu sampai di Alun-Alun Suryakencana, hanya satu kata yang terlontar dari mulut saya, WOW~!!
Panorama sunrise di puncak Gunung Gede. Ada siluet pendaki lain. Hehehe...
Pemandangan Alun-Alun Surya Kencana begitu indah dan sangat mengagumkan! Hamparan padang rumput nan hijau yang ditumbuhi banyak tanaman bunga edelweiss dan dikelilingi oleh hamparan perbukitan pasti membuat siapapun berdecak kagum dibuatnya. Gunung Gede menyimpan sejuta pesona alam yang luar biasa! Boleh dibilang Gunung Gede adalah salah satu gunung dengan pemandangan terindah yang ada di Jawa Barat. Karena begitu indahnya, tentu saja kami tak melewatkan kesempatan untuk berfoto ria dan hasilnya pun luar biasa!
Hamparan bunga edelweiss di Alun-Alun Suryakencana
Tak terasa waktu menunjukkan pukul 7 pagi, kami harus segera kembali ke tenda untuk sarapan dan bersiap untuk turun gunung. Karena Alun-Alun Suryakencana berada di lembah dan kami harus kembali ke puncak Gunung Gede yang berada di atas, maka perjalanan untuk kembali ke puncak Gunung Gede merupakan salah satu perjalanan yang melelahkan, bahkan kami sampai harus istirahat beberapa kali.
Hamparan bunga edelweiss di bagian lain di Suryakencana
Setelah sekitar 40 menit mendaki, akhirnya tiba juga di puncak. Kami tahu bahwa setelah sarapan, semua peserta harus kembali turun gunung. Oleh karena itu, saat tiba kembali di puncak, kami berfoto ria sepuasnya sambil berjalan menuju ke tenda. Dan hasil fotonya tak kalah luar biasa! Silakan cek foto-foto yang saya upload di postingan kali ini! Hehehe...
Panorama nan fantastis di puncak Gunung Gede saat pagi hari \(^0^)/
Setelah tiba di tenda, kami sarapan nasi goreng yang tentunya sudah disiapkan oleh porter kami yang baik hati. Sekitar pukul 8 pagi, kami packing dan beberes, bersiap untuk turun gunung. Perjalanan menuruni gunung juga tak kalah melelahkan. Banyak hal yang terjadi ketika perjalanan turun ini, salah satunya adalah ketika kami harus menuruni tebing yang curam menggunakan tali (istilahnnya rappeling). Hehehe...
Salah satu teman kami yang berusaha menuruni tebing dengan cara rappeling
Saat sedikit lagi sampai di pos pelaporan, hujan deras pun melanda. Untungnya hujan ini hanya turun sebentar saja sehingga tidak terlalu merepotkan. Inilah pentingnya membawa mantel saat mendaki gunung. Kami tiba di pos pelaporan kurang lebih pukul setengah 4 sore. Setelah itu, kami mencari kendaraan untuk kembali ke Jakarta.
Suasana saat menuruni Gunung Gede menuju ke pos pelaporan
Dari Kebun Raya Cibodas, kami naik angkot menuju ke pertigaan Cibodas, lalu menggunakan angkot lagi menuju ke stasiun Bogor. Di stasiun Bogor, kami menggunakan kereta commuter line menuju ke Jakarta dan berakhirlah acara naik gunung ini! Hehehe...
Hamparan bunga edelweiss di Alun-Alun Suryakencana
Saya sangat bahagia sekali akhirnya salah satu impian untuk mendaki gunung paling tidak 1 kali dalam hidup bisa sukses terlaksana walaupun harus dibayar dengan rasa lelah yang luar biasa. Jangan pernah takut untuk mencoba hal yang rasanya sulit untuk kita lakukan, terkadang kita hanya butuh untuk melakukannya saja. Hal inilah yang akan mendorong kita untuk terus maju dan menggunakan seluruh potensi yang kita miliki atau bahkan potensi yang tidak kita sadari sebelumnya. Mendaki gunung bukan hanya sebuah pengalaman travelling semata, tetapi menurut saya mendaki gunung adalah pengalaman hidup yang memberikan pelajaran kepada kita. Mendaki gunung adalah kegiatan melawan rasa takut dan melawan kekhawatiran yang ada di dalam diri kita. Just do it! Yakinlah bahwa kehidupan akan menemukan jalannya sendiri dan jangan lupa untuk selalu terus bersyukur kepada Sang Pencipta karena kita begitu kecil bila dibandingkan seluruh ciptaan-Nya!
Panorama puncak Gunung Gede di pagi hari \(^0^)/
Akhir kata, terima kasih telah membaca postingan yang sangat spesial kali ini. Sebagai bonus, saya sertakan banyak foto yang menarik. Sampai jumpa di postingan yang tak kalah seru selanjutnya! Enjoy~!! \(^0^)/
Puncak Gunung Gede dengan latar belakang Gunung Pangrango
Behind the scene: menunggu teman yang kelelahan
Puncak Gunung Gede, 2958 meter di atas permukaan laut
Puncak Gunung Gede yang menghadap ke arah Alun-Alun Suryakencana
Negeri di atas awan ala-ala Gunung Gede d(^0^)b
Selfie dulu di kawah Gunung Gede v(^0^)v
Air panas yang mengandung belerang
Jalan setapak di puncak Gunung Gede
Jembatan menuju Gunung Pangrango. Iya kalii... v(^0^)v
Jalan berkabut dengan pemandangan puncak Gunung Pangrango
Kawah Gunung Gede
See you again guys~!! \(^0^)/

Sunday, May 29, 2016

Fridayous di The Wave, Pondok Indah Mall, Jakarta

Hai hai... Setelah gue posting cukup banyak kegiatan yang berbau religius, sekarang gue akan kembali memposting mengenai salah satu tujuan piknik seru di Jakarta. Postingan kali ini sifatnya ringan saja. Hehehe... Oh iya, weekend nanti kalian berencana kemana? Pengen piknik tapi ga bisa jauh-jauh karena ngga ada tanggal merah? Nah! Pas banget kalian baca postingan ini. Hehehe... Kali ini gue akan bercerita mengenai pengalaman gue pertama kali ke The Wave, Pondok Indah Mall, Jakarta. Penasaran kan The Wave itu sebenernya tempat apaan sih? Seru ga? Terus Fridayous itu apa? Kok ada di judul? Nah! Daripada penasaran, yuk disimak cerita gue! Pertama-tama gue akan menjelaskan mengenai apa itu Fridayous dulu yah!
The Wave, Pondok Indah Mall, Jakarta
Fridayous adalah sebuah istilah yang sangat dinantikan oleh semua karyawan di kantor tempat gue bekerja. Kenapa? Karena Fridayous merupakan hari Jumat di minggu terakhir setiap bulannya dan semua karyawan diizinkan meninggalkan kantor pukul 2 siang jika semua pekerjaan sudah selesai. Mantap kan? Tanggal 25 gajian, hari Jumatnya pulang cepet! Godaan buat refreshing pun semakin besar! Hahaha... Lanjuuuttt~!!
Ruang ganti, shower room, toilet, dan locker room
So, Fridayous kali ini, tanggal 27 Mei 2016, gue pergi ke The Wave, Pondok Indah Mall, Jakarta bersama 3 orang teman kantor yang semuanya adalah lelaki tulen. Jadi jangan mikir yang aneh-aneh yah! Hehehe... Awalnya kami memilih The Wave karena melihat diskon di salah satu situs e-commerce. Saat itu, kami ingin membeli 10 tiket, tetapi sayang, diskon yang tersedia tidak sampai 10 dan kami akhirnya membeli tiket on-the-spot. Tentu saja tiket on-the-spot dikenakan harga normal dan ini yang membuat kami pergi hanya berempat saja dari yang tadinya ada 10 orang. Dirasa sudah kepalang tanggung dan gue penasaran banget The Wave kayak apa karena gue belum pernah ke sana, akhirnya kami tetap memutuskan untuk pergi ke sana.
Olympic Pool
Sekitar pukul setengah 3 sore, kami meninggalkan kantor menuju ke lokasi yang dimaksud. Tetapi sebelumnya kami menyempatkan diri mampir ke sebuah toko swalayan untuk membeli sabun cair karena sabun cair di rumah sudah habis. Halah, ga penting! Hahaha... Setelah membayar di kasir, kami melanjutkan perjalanan ke The Wave.
Kolam ombak yang aktif sekitar setengah jam sekali
Setelah sekitar satu jam lamanya perjalanan, akhirnya kami tiba di lokasi. Cuaca hari itu cerah berawan sehingga sangat mendukung aktivitas kami. Tidak ingin menyia-nyiakan waktu lagi, kami langsung membeli tiket, berganti pakaian, dan memesan loker untuk menyimpan barang-barang yang kami bawa. Setelah semuanya siap, kami langsung bergegas untuk nyebur. Byuuurrr~!!
Aqua Play untuk anak-anak
Di The Wave ini ada beberapa wahana air yang dapat kita gunakan, seperti kolam ombak, kolam arus yang berukuran tidak terlalu besar, tube slide, whizzard slide, aqua play untuk anak-anak, dan olympic pool. Untungnya saat kami datang ke sana, pengunjungnya tidak ramai sehingga kami bisa bermain air sampai puas! Sangat menyenangkan sekali ketika kita bersama teman-teman bisa menyempatkan waktu untuk piknik, sekedar melepas penat. Hehehe...
Tube Slide
Singkat cerita, sekitar pukul 6 sore kami menyudahi acara renang kami dan kami menuju ke shower room untuk bilas lalu berganti pakaian. Setelah semuanya beres, kami menuju ke Pondok Indah Mall untuk makan malam di foodcourt. Setelah puas mencoba berbagai makanan yang ada, kami memutuskan untuk pulang menggunakan busway.
Whizzard Slide
Menurut gue pribadi, The Wave sangatlah cocok bagi kita yang memiliki kesibukan yang padat untuk sekedar melepas penat. Lokasinya yang strategis dan sangat mudah dijangkau menggunakan busway merupakan salah satu kelebihan tempat ini. Namun menurut gue pribadi, dibandingkan dengan Waterboom Pantai Indah Kapuk, The Wave memiliki wahana yang lebih sedikit. Hal ini membuat gue merasa cukup sekali saja ke The Wave karena akan cepat bosan. Tetapi ada yang menarik, bagi kalian yang suka sama bule atau pengen lihat bule ganteng dan wanita-wanita cantik, tempat ini sangat gue rekomendasikan, bikin mata segar selalu! Hahaha... Mungkin sekali-sekali kalian bisa mempertimbangkan The Wave sebagai tempat untuk melepas penat sesaat. Jangan sampai lupa bawa handuk yah! Karena kemarin 2 orang teman gue kelupaan bawa handuk.

Inilah cerita singkat gue di weekend kemarin. Akhir kata, thanks for reading! Enjoy~!! \(^0^)/

OMK Gathering Paroki Santo Lukas Sunter di Gunung Pancar Sentul Tanggal 21-22 Mei 2016

Hai manteman semua... Di bulan Mei ini kebetulan gue lagi banyak kegiatan yang berbau rohani. Bukannya mau pamer, tapi begitulah kenyataannya. Hehehe... Nah, setelah 2 postingan sebelumnya berisi tentang ziarah 9 Gereja yang gue lakukan di bulan Mei ini, maka postingan kali ini gue ingin menceritakan mengenai OMK Gathering yang diadakan di Gunung Pancar, Sentul tanggal 21-22 Mei 2016. Gue jamin postingan kali ini ga kalah menarik dengan postingan sebelumnya. Hal ini didukung dengan pemilihan bahasa yang lebih friendly, gaul, dan ga terlalu formal, berbeda dengan 2 postingan sebelumnya yang ditulis secara formal. Oke deh, daripada kebanyakan basa-basi, gue berikan dulu yah pengantar singkat mengenai kegiatan ini dan makna singkatan yang digunakan di postingan kali ini.
Peserta OMK Gathering Paroki Santo Lukas Sunter di Gunung Pancar
Seperti yang sudah gue singgung sebelumnya bahwa postingan kali ini pun bersifat religius. Hehehe... So, kita mulai dari singkatan OMK ya! Sebenarnya apa sih OMK itu? OMK merupakan singkatan dari Orang Muda Katolik. Anggota OMK adalah semua anak muda yang berusia antara 13 sampai dengan 35 tahun dan belum pernah menikah. So, pada postingan kali ini, OMK yang dimaksud lebih spesifik, yaitu OMK Paroki Santo Lukas Sunter, artinya adalah semua Orang Muda Katolik yang berdomisili di dalam wilayah Paroki Santo Lukas Sunter. Oke, gue lanjutkan dengan inti ceritanya yah! Hehehe...
Desain name tag yang digunakan
Hari Sabtu tanggal 21 Mei 2016 sekitar pukul 7 pagi, para peserta yang mengikuti OMK Gathering kali ini berkumpul di Gereja Santo Lukas Sunter. Suasana pagi itu cukup ramai karena jumlah peserta yang mengikuti OMK Gathering kali ini berjumlah sekitar 50-an orang. Yah walaupun sebenarnya masih di bawah target karena yang ditargetkan untuk ikut berjumlah 100 orang, tetapi hal ini tidak menyurutkan semangat kami. Oke, setelah semua peserta berkumpul, panitia mengabsen peserta sambil membagikan kaos dengan ukuran yang diminta peserta saat pendaftaran dan dilanjutkan dengan pembagian tempat duduk di bus. Kendaraan yang kami gunakan untuk menuju ke Gunung Pancar berupa mikro bus (bus dengan ukuran sebesar Kopaja AC) sebanyak 3 bus. Karena peserta yang ikut hanya 50-an orang, so tempat duduk di dalam bus masih banyak yang kosong. Sebelum berangkat, tak lupa kami berdoa, lalu kami menuju ke bus kami masing-masing dan sekitar pukul 8 pagi, kami berangkat ke Gunung Pancar Sentul. Untungnya pagi itu jalanan menuju ke Gunung Pancar termasuk lancar walaupun sudah memasuki masa weekend sehingga kami hanya membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk sampai ke sana. Sebelum gue bercerita mengenai kegiatan kami di sana, gue akan ceritakan sedikit gambaran mengenai Gunung Pancar bagi teman-teman yang belum pernah ke sana dan ingin menjadikan Gunung Pancar sebagai salah satu destinasi untuk mengisi liburan. Hehehe...
Jembatan buatan di hutan pinus Gunung Pancar Sentul
Gunung Pancar berada di daerah Sentul dan termasuk ke dalam wilayah Bogor. Walaupun namanya Gunung Pancar, sebenarnya di daerah ini tidak ada gunungnya sama sekali, yang ada hanya perbukitan. So, jangan tertipu sama namanya yah! Hehehe... Lanjuuuttt! Rute untuk sampai ke Gunung Pancar adalah dari tol Jagorawi. Jika dari arah Jakarta menuju Bogor, maka exit tol yang diambil adalah exit Sentul yang langsung menuju ke Mall Sentul City. Serelah itu, kita akan melewati jalan boulevard yang cukup lebar lalu berbelok ke arah Gunung Pancar. Jalan untuk menuju ke Gunung Pancar cukup sempit, inilah alasan mengapa kami menggunakan mikro bus yang berukutan lebih kecil daripada bus biasa pada umumnya. Saat melewati wilayah Gunung Pancar, kita akan disambut pemandangan yang amat sangat berbeda dengan pemandangan yang biasa kita temui di kota besar. Pemandangan di Gunung Pancar berupa hutan pinus yang pastinya akan menyegarkan pikiran siapapun yang datang ke sana. Hutan pinus di sini begitu hijau, rimbun, dan alami. Di lokasi yang kami datangi ini terdapat camping ground dan lokasi outbound. Biar ga pada penasaran kayak apa sih suasana di Gunung Pancar, gue sertakan juga yah beberapa fotonya. Hehehe... Nah, makin penasaran pengen ke Gunung Pancar? Hehehe... Oke, lanjut ke topik utama yah mengenai OMK Gathering tuh ngapain ajah sih?
Camping ground pria yang kami gunakan
Begitu tiba di Gunung Pancar, kami meletakkan tas kami di aula. Setelah itu, kami menuju ke lapangan di depan aula untuk kegiatan ice breaking. Sayangnya, saat sedang ice breaking, tiba-tiba cuaca menjadi tak bersahabat karena gerimis. Kegiatan ice breaking kemudian dilanjutkan di dalam aula. Selesai ice breaking, diteruskan dengan makan siang dan outbound. Nah, acara outbound ini merupakan salah satu acara favorit gue di OMK Gathering kali ini. Kenapa? Karena seru banget! Penasaran? Oke deh, nih gue ceritain yah!
Kegiatan ice breaking dan pembagian kelompok
Setelah makan siang, kami berkumpul di lapangan depan aula. Hal pertama yang dilakukan adalah membagi peserta ke dalam 6 kelompok dan tiap kelompoknya terdiri dari 9 sampai 10 orang. Setelah dibagi ke dalam kelompok, outbound pun dimulai. Permainan yang kami lakukan semuanya membutuhkan kerja sama tim dan kerja sama inilah yang harus dilatih bagi generasi penerus Gereja seperti kami. Keren kan? Hahaha... Sebenarnya cukup banyak permainan yang dilakukan saat outbound ini, tetapi sayang sekali karena gue kesulitan untuk menceritakan secara detail permainan outbound ini, maka bagian ini gue skip yah. Namun jangan kecewa, karena masih ada cerita seru selanjutnya!
Salah satu permainan outbound
Sangat disayangkan, lagi-lagi saat tengah asik outbound, hujan turun dan kali ini cukup deras sehingga permainan outbound terpaksa dihentikan. Sebenarnya kami sangat kecewa, tetapi ga mungkin juga memaksakan kehendak. Kegiatan pun dilanjutkan lagi di dalam aula, kemudian kami diberikan waktu mandi sore setelah acara selesai.
Kegiatan kelompok di dalam aula
Sekitar pukul 6 sore, kami kembali berkumpul di aula. Acara yang pertama adalah kami diajak untuk melihat mini drama. Mini drama ini menceritakan tentang 5 kategorial anak muda yang ada di Gereja kami, antara lain misdinar, Bina Iman Remaja, PDOMK Hosanna, theater Genesius, dan tentunya yang paling kece dan keren adalah KKMK! Hahaha... Khusus untuk KKMK, gue sudah menjelaskan secara singkat yah di postingan sebelumnya, silakan dibaca-baca, lumayan buat nambah counter hits blog ini. Hihihi.... Oke next!
Kegiatan di dalam aula
Setelah menyaksikan mini drama, kami makan malam bersama. Setelah makan, acara dilanjutkan dengan ramah-tamah bersama dengan koordinator OMK yaitu Rickhy, Romo Gonsalez, dan Om John. Ramah-tamah ini membahas mengenai hal-hal yang berhubungan dengan iman Katolik, tata cara Ekaristi di Gereja, dan kategorial yang ada di OMK. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan doa Rosario bersama dan ini merupakan acara terakhir di hari ini. Karena sudah lelah akibat beraktivitas selama seharian penuh, gue memutuskan untuk kembali ke tenda dan tidur.
Berfoto bersama kakak-kakak fasilitator
Pagi harinya sekitar jam 6 pagi, gue bergegas untuk mandi karena jam setengah 7 akan diadakan misa yang dibawakan oleh Romo Gonsalez. Selesai misa, kami sarapan pagi bersama. Setelah sarapan, kami bersiap untuk melanjutkan beberapa kegiatan seru di hari ini, yaitu tracking! Kami berkeliling di sekitar Gunung Pancar. Sebenarnya tidak banyak spot bagus selama tracking, spot bagusnya justru ada di bagian akhir tracking yang tidak begitu jauh dari tenda. Tentu saja kami tidak melewatkan kesempatan ini untuk berfoto ria! Yeay~!!
Salah satu foto terbaik saat tracking
Selesai tracking, kami diberi waktu untuk mandi lagi, dan akan dilanjutkan dengan sesi penutup. Di sesi penutup ini kami diberikan sebuah post it dan balon. Kami diminta untuk menuliskan kata-kata yang memotivasi di post it tersebut dan menempelkannya ke balon. Harapannya adalah apabila balonnya pecah, maka post it tersebut akan terjatuh dan diharapkan akan memotivasi setiap orang yang menemukannya. Seru banget kan?! Selesai menerbangkan balon, kami berfoto bersama, kemudian kembali ke Jakarta, ke rumah tercinta kami. Sekitar pukul setengah 3 sore, kami sudah tiba kembali di Sunter.
Menerbangkan balom yang sudah ditempeli post it
Tanpa terasa OMK Gathering kali ini sudah berakhir. Dua hari kebersamaan yang begitu berkesan terasa amat singkat. Banyak yang didapat dari OMK Gathering kali ini, antara lain teman-teman baru, wawasan baru, dan tentunya kebahagiaan. Hahaha... Lebay! Gue berharap semoga OMK Paroki Santo Lukas semakin baik ke depannya dan acara-acara seperti ini bisa diadakan kembali.
OMK Paroki Santo Lukas memang top! d(^0^)b
Akhir kata, sebagai penulis, gue ingin mengucapkan terima kasih karena sudah berkunjung ke blog ini dan sampai jumpa di postingan selanjutnya! Sebagai bonus, gue sertakan foto-foto keren di bawah yah! Enjoy~!! \(^0^)/
Stay cool! Stay awesome! Padahal baru nyampe
Best teammate, Derry & Kons
Candid colongan! (-.^)v
Permainan outbound lainnya. Fokus ke bolanya please! (>.<)
Ganteng-ganteng jomblo (>.<)
Single happy! \(^0^)/
Kuberlari ke hutan teriakku... *edisi galau*
Anggota kelompok 3 yang juga juara 3! Yeah~!! \(^0^)/
Selfie di atas batu. Piss! v(^0^)v
Pemandangan saat tracking dimulai
Pemandangan saat tracking
Pemandangan di jalur tracking
Ada bangunan di tengah-tengah hutan pinus. Keliatan ga?
Nih gue perjelas deh! Udah keliatan kan?
Stairway to heaven!
Down to earth!
Ini penampakan lapangan di depan aula kalau dilihat dari kejauhan
Nah, bangunan di sebelah kanan itulah aulanya!