Tuesday, June 2, 2015

Jelajah Taman Nasional Ujungkulon dan Pulau Peucang

Hai semuanya! Apa kabar nih? Pasti senang dong yah, longweekend gitu lho! Hehehe... Seperti clue di postingan sebelumnya, kali ini gue ingin menceritakan mengenai liburan gue selama longweekend ini dan yang berbeda adalah liburan kali ini lebih seru ketimbang liburan sebelumnya. So, silakan disimak yah cerita gue ini. Hehehe...

Jika liburan sebelumnya gue pergi bersama dengan teman-teman kantor gue, maka pada liburan kali ini pun gue pergi dengan teman-teman kantor gue juga. Bedanya adalah kalau liburan bulan lalu bersama dengan teman-teman satu divisi yaitu back office, nah kali ini gue liburan bersama teman-teman beda divisi dan ada pula yang sudah resign dari kantor. Tim gue kali ini terdiri dari 5 orang IT dan 1 orang account executive dan kami mendapat julukan grup "boyband" dari tour leader kami. Hahaha...

Destinasi utama liburan kami kali ini adalah Taman Nasional Ujungkulon dan Pulau Peucang. Kami pergi dari tanggal 29-31 Mei 2015 dengan menggunakan jasa tour. Sebenarnya kami sudah merencanakan liburan kali ini jauh-jauh hari sebelumnya dan melakukan DP sekitar satu bulan sebelumnya. Jika di liburan sebelumnya sifatnya semi private, maka pada liburan kali ini lebih mirip open trip. Alasannya adalah fasilitas yang disediakan oleh pihak tour kami gunakan bersama-sama dengan orang lain yang juga bergabung dalam perjalanan kali ini. Dan tak terasa, tanggal 29 Mei pun tiba.

Tanggal 29 Mei 2015 pagi, gue berangkat ke kantor diantar oleh bokap gue tercinta karena sepulang kantor, gue berencana langsung menuju ke meeting point yang ditentukan oleh pihak tour bersama-sama dengan teman-teman gue yang lain. Sekitar jam 9 malam, kami tiba di meeting point yang sudah ditentukan, yaitu Plaza Semanggi. Setelah tiba, kami melakukan registrasi ulang ke tour leader yang sudah ditunjuk langsung oleh pihak tour, yaitu Kak Akbar dan Kak Rendy. Perjalanan ke Ujungkulon memakan waktu yang cukup lama. Untuk mencapai tujuan ditempuh dengan perjalanan darat dan laut. Kami berangkat menggunakan mikro bus sebesar Metromini atau Kopaja gitu deh, tapi ternyata bus yang kami gunakan ini berplat militer. Wew! Ngeri-ngeri sedap nih. Hehehe... Setelah semua peserta tour lengkap, kami berangkat pukul 10 malam.

Singkat cerita, kami sampai di desa Sumur pukul 5 pagi. Lho kenapa malah ke Sumur, bukan ke Ujungkulon? Jadi gini, Sumur ini adalah desa paling ujung yang bisa diakses oleh kendaraan roda empat karena akses jalan hanya sampai di sini, dan desa Sumur ini letaknya di pesisir pantai. Setelah turun dari bus, kami diantar oleh tour leader kami ke homestay atau bahasa populer di sini adalah rumah kapten. Sesampainya di homestay, kami beristirahat sejenak sambil menikmati minuman hangat seperti teh atau kopi serta mempersiapkan diri untuk snorkling. Tak lama berselang, sarapan pagi pun datang, nasi bungkus berisi nasi uduk dan telor ceplok. Sederhana tapi nikmat bagi perut kami yang sudah kelaparan. Hehehe... Sekitar jam 7 pagi, kami berangkat menuju kapal kami untuk melanjutkan perjalanan sesuai dengan itinerary.
Kapal yang kami gunakan selama di Ujungkulon
Satu rombongan kami bersama dengan tour leader berisi sekitar 27 orang dan kapal ini cukup untuk orang sebanyak itu ditambah dengan kru kapal yang terdiri dari satu orang nakhoda, satu orang kapten kapal, satu orang koki, beserta 2 orang anak buah kapal. Kapal yang digunakan tidak terlalu besar. Sebagai informasi, kapal inilah yang akan menemani kita selama 2 hari 1 malam di Ujungkulon dan Pulau Peucang. Setelah semua penumpang naik, kapal berangkat! Hati pun gembira bercampur rasa deg-deg-an karena penasaran dengan semua destinasi yang akan kami datangi. Hehehe...
Dapur yang ada di lambung kapal bersama masterchefnya d(^.^)b
Ujungkulon memiliki pemandangan yang sungguh menawan, dari pantai kita bisa melihat perbukitan yang berbaris, sungguh sedap dipandang mata. Oh iya, informasi penting yang harus kalian tahu adalah bahwa Taman Nasional Ujungkulon ini benar-benar dijaga keasriannya. Jadi jangan berharap ada sinyal selama 24 jam penuh. Sinyal hanya ada di siang hari dan operator yang bisa pun hanya Telkomsel. Selama perjalanan di laut, mata kita akan dimanjakan dengan indahnya alam Ujungkulon yang benar-benar masih asri baik daratan maupun lautnya. Di laut sangat mudah untuk menemukan burung-burung laut dan burung elang. Karena laut di Ujungkulon masih asri, maka kita akan menemukan banyak tambak milik nelayan yang terapung di sana. Benar-benar perjalanan yang sempurna karena alamnya sangat indah dan sinyal telepon tidak ada sehingga kita benar-benar hanya punya pilihan untuk menikmati keindahan alam Ujungkulon. Setelah beberapa lama perjalanan, kami tiba di spot snorkling yang pertama, yaitu sekitar Pulau Badul. Menurut gue, di sini lautnya masih tergolong dalam sehingga batu karangnya pun tidak terlihat begitu jelas. Sempat berpikir beberapa saat, akhirnya gue memutuskan untuk turun snorkling juga. Setelah beberapa saat snorkling dan merasa lelah, akhirnya gue naik ke kapal dan menunggu kapal berangkat lagi. Beberapa menit kemudian, kapal pun berangkat menuju ke Pulau Handeleum.
Tambak milik nelayan yang ada hampir di seluruh laut Ujungkulon
Pulau Handeleum merupakan pulau pertama yang harus dikunjungi oleh wisatawan karena wisatawan diwajibkan untuk melapor di pulau ini. Namun saat kami tiba di sana, tak ada satu orang pun di sana. Kami malah menemukan beberapa ekor rusa. Oh iya, di pulau Handeleum terdapat beberapa bangunan yang sepertinya digunakan sebagai kantor administrasi di Ujungkulon karena terdapat bangunan 2 lantai yang cukup luas. Karena tidak menemukan satu orang petugas pun, kami melanjutkan perjalanan kami ke pulau selanjutnya.
Persiapan terakhir pasukan katak sebelum menjalankan misi yang sangat penting \(^0^)/
Setelah beberapa lama perjalanan dari pulau Handeleum, kami tiba di pulau yang entah apa namanya. Hehehe... Di pulau ini, kami akan melakukan canoing di sepanjang sungai Cigenter. Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang dan nasi uduk yang kami makan pagi tadi sudah kehilangan kedigdayaannya, maka sebelum melakukan canoing, kami makan siang dahulu di kapal. Seperti yang gue bilang tadi, kapal yang kita gunakan akan menemani kita selama di Ujungkulon dan selanjutnya kita sudah pasti makan di atas kapal. Selesai makan siang, kami dijemput oleh speedboat menuju ke muara Sungai Cigenter. Di sana sudah disiapkan beberapa kano bagi yang ingin melakukan canoing. Kami canoing selama satu jam menyusuri Sungai Cigenter dan menurut gue Sungai Cigenter ini punya banyak kemiripan dengan sungai di amazon yang cukup dalam dan airnya keruh dan benar saja, selama perjalanan kami menemukan ular di atas pohon, tepat di atas kepala kami. Namun asalkan kita tidak mengganggunya, maka ular tersebut tidak akan mengganggu kita juga. Satu jam berlalu dan canoing pun selesai, kami kembali ke start point canoing. Destinasi kami selanjutnya adalah Pulau Peucang, yaitu pulau yang akan kami singgahi malam nanti dan masih ada kegiatan lainnya di Pulau Peucang ini. So, jangan lelah membaca postingan ini yaaa! Hehehe... Lanjut!
Rusa liar di Pulau Handeleum
Perjalanan menuju Pulau Peucang sekitar satu jam. Walaupun Pulau Peucang ini dijadikan tempat bersinggah para wisatawan, tetapi keasriannya tetap dijaga dan menurut gue Pulau Peucang ini sangatlah indah. Sesampainya di Pulau Peucang, hamparan pasir putih dan pesisir pantai yang membiru menyambut kami. Kesan pertama gue pada pulau ini adalah amazing! Kami turun dari kapal membawa barang-barang kami menuju ke dermaga, lalu ke barak. Gue jelaskan sedikit mengenai barak di Pulau Peucang ini. Barak di sini merupakan rumah panggung tradisional yang terbuat dari kayu dan setiap rumahnya dibagi menjadi 4 kamar. Satu kamar bisa dimuati 5 hingga 7 orang. Kamar mandi berada di luar dan digunakan bersama-sama dengan wisatawan lainnya. Sekali lagi gue tekankan, sinyal hanya ada di siang hari. Hampir sama dengan listrik yang hanya bisa digunakan pada malam hari. Hal ini disebabkan mungkin pembangkit listrik di Pulau Peucang ini hanya berupa generator. Selain itu, yang perlu diperhatikan adalah jangan membawa makanan dengan hanya digenggam di tangan, makanan harus dimasukkan ke dalam tas karena di sekitar barak banyak terdapat hewan liar seperti babi, monyet, dan rusa. Apabila kita membawa makanan dan dilihat oleh monyet, maka monyet-monyet di sana akan langsung melompat ke arah kita dan saat kita kaget, mereka akan merebut makanan kita, sekalipun kita belum membuka pembungkus makanan tersebut. Hal ini dibuktikan oleh salah satu rekan rombongan kami yang lupa akan himbauan ini dan menenteng makanan. Tak sampai 10 langkah dari barak, makanan tersebut direbut oleh monyet dan dibawa lari. Kami hanya bisa tertawa melihat hal ini. Hehehe...
Bangkai kapal yang tergeletak di Pulau Handeleum
Setibanya di Pulau Peucang, kami hanya meletakkan barang-barang kami ke dalam barak dan dilanjutkan dengan acara berikutnya, yaitu jungle tracking atau jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, artinya adalah menyusuri hutan. Hehehe... Hutan di pulau ini masih asri dan tujuan jungle tracking adalah merasakan sensasi menyusuri hutan yang masih asri dan alami untuk menuju ke Karang Copong yang terletak di belakang Pulau Peucang dan menyaksikan sunset. Jungle tracking memakan waktu kurang lebih selama 3 jam bolak-balik. Peralatan yang kami bawa adalah botol minum, kamera, dan senter karena diperkirakan saat pulang sudah cukup gelap. Jungle tracking dimulai pukul 4 sore dan dengan semangat, kami berjalan memulai jungle tracking ini.
Suasana alam di Pulau Handeleum
Pepohonan di hutan Pulau Peucang memiliki ukuran yang cukup besar dan terdiri dari berbagai macam jenis pohon. Beberapa pohon diberi nama sesuai dengan jenisnya, antara lain pohon melinjo dan pohon merbau. Kami merasa jungle tracking ini cukup panjang tetapi tak kunjung kami dengar suara air laut. Dan setelah kurang lebih 1,5 jam berjalan, kami akhirnya mendengar suara air laut dan pancaran sinar matahari yang tak lama lagi tenggelam. Kami menuju pantai dan wow! Pemandangannya benar-benar memukau! Di sebelah kami terdapat bukit yang bisa didaki, kami mendaki ke atas bukit yang katanya dari atas bukit tersebut, kami bisa melihat Karang Copong. Selain itu, ternyata bukit tersebut merupakan tebing yang berbatasan langsung dengan laut, sangat curam apabila kita lihat ke bawah. Dan nun jauh di ufuk barat, kita bisa melihat indahnya siluet anak gunung Krakatau. Wow! Amazing! Benar-benar indah alam ciptaan Tuhan dan kita sebagai manusia seharusnya bersyukur bisa diberikan rahmat oleh-Nya untuk menikmati karya-Nya yang begitu agung dan indah. Hamparan laut luas terbentang di depan mata dan kita melihat dari ketinggian. Sungguh luar biasa! Amat sangat sulit diungkapkan dengan kata-kata! Gue sebagai manusia merasa begitu kecil, ngga ada apa-apanya. Gue begitu takjub melihat keindahan alam yang terpampang di depan mata gue. Setelah beberapa menit menikmati keindahan alam tersebut, kami menuruni bukit dan kembali ke pantai untuk melihat sunset. Sayangnya cukup berawan sehingga kami tidak bisa menyaksikan sunset sampai matahari benar-benar tenggelam di ufuk barat. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore dan kami harus kembali ke barak.
Papan nama Pulau Handeleum
Perjalanan pulang ke barak tak kalah seru dengan perjalanan berangkat. Waktu pergi dan pulang sama-sama sekitar 1,5 jam. Apabila saat berangkat kita bisa menyaksikan berbagai macam pohon di hutan yang masih asri, melihat rusa, dan menikmati cahaya matahari yang menyusup di sela-sela pepohonan, maka saat pulang keseruan yang kami alami adalah kami menyusuri kegelapan malam di dalam hutan dengan menggunakan senter sambil mendengar suara hewan-hewan liar. Walaupun kaki gue merasa pegal karena berjalan jauh dan dahaga begitu menerpa karena kehabisan perbekalan air minum, tetapi kami harus tetap semangat agar bisa cepat tiba di barak dan kembali makan malam di kapal. Singkat cerita, kami sudah tiba di barak dan melanjutkan makan malam di kapal lagi.
Gue di Dermaga Pulau Handeleum
Setelah selesai makan malam, kami mengobrol sambil menunggu giliran untuk mandi. Sebenarnya kami membawa kompor berbahan bakar spiritus tetapi karena ada babi hutan di sekitar barak, maka kami mengurungkan niat untuk menggunakan kompor tersebut untuk memasak air yang rencananya akan kami gunakan untuk menyeduh mie instan dalam kemasan. Sembari menunggu waktu, kami bermain kartu di dalam barak karena gue membawa kartu remi dan kartu domino alias gaple. Hehehe... Setelah selesai bermain, kami berjalan-jalan sebentar keliling barak untuk mencari angin, lalu kami kembali ke kamar untuk tidur. Sebenarnya gue ngga ada masalah saat tidur, tapi ada teman gue yang kesulitan tidur karena kepanasan. Hehehe...
Canoing di Sungai Cigenter
Pagi hari pun menjelang. Ini adalah hari terakhir kami menikmati indahnya Ujungkulon dan pulau-pulau di sini. Jam setengah 6 pagi, gue bangun dari tidur dan bersama dengan 2 orang teman kami, gue mencoba untuk berburu sunrise. Namun sepertinya dewi fortuna tidak berpihak kepada kami lagi karena pagi ini langit kembali berawan. Gue bersama dengan 2 orang teman gue tersebut berjalan kaki di sepanjang pesisir Pulau Peucang sambil bermain pasir dan ombak serta berfoto ria.
Babi hutan yang berkeliaran di sekitar barak Pulau Peucang
Setelah satu jam berlalu, kami berjalan menuju kapal untuk sarapan pagi. Destinasi pertama di hari ini adalah menuju ke Pulau Cidaon untuk melihat padang savana. Konon di pulau ini kita bisa melihat hewan liar seperti, rusa, merak, dan banteng dan Pulau Cidaon pun letaknya berseberangan dengan Pulau Peucang dengan jarak yang tidak begitu jauh. Namun lagi-lagi keberuntungan tidak berpihak pada kami sehingga kami tidak melihat rusa, merak, ataupun banteng di sana, kami hanya melihat hamparan padang savana.
Hewan liar yang hidup saling berdampingan di Pulau Peucang
Setelah mengunjungi pulau Cidaon, kami menuju ke spot snorkling selanjutnya. Spot ini terletak tak jauh dari Pulau Peucang. Dari atas kapal gue melihat karang yang berwarna-warni di dasar laut. HmMm... Rasa penasaran akhirnya membuat gue turun snorkling juga. Dan ternyata benar, walaupun saat snorkling rasanya seperti disengat setrum-setrum kecil yang asalnya dari plankton yang tak kasat mata, tetapi pemandangan di dasar laut sungguh memukau. Terdapat banyak karang dengan berbagai bentuk, warna, dan ukuran. Bahkan ada yang bentuknya cukup unik, yaitu berbentuk lingkaran bertingkat seperti kepingan CD dengan diameter yang cukup besar. Namun sayang, besarnya arus dan kemampuan berenang gue di laut yang sangat minim membuat gue sedikit demi sedikit terseret arus laut menjauhi kapal sampai akhrinya gue ditarik oleh tour leader kami kembali ke kapal. Cukup memalukan, tapi ya sudahlah yaaa, ga usah dibahas. Hahaha... Next!
Jungle tracking di Pulau Peucang
Destinasi selanjutnya adalah spot kedua yang tidak terlalu jauh dari dermaga Pulau Peucang. Sebenarnya ini agak gak cocok disebut spot snorkling karena dangkal. Dari kapal kita tidak perlu berenang, cukup berjalan kaki saja menuju pesisir pantai di sisi yang lain dari Pulau Peucang. Setelah beberapa saat kami kembali ke Pulau Peucang untuk cek out dan berkemas. Kapal pun kembali ke dermaga Pulau Peucang.
Rusa yang bermandikan cahaya matahari
Sesampainya di Pulau Peucang, kami mengemas barang-barang kami lalu mengangkutnya ke kapal. Sebelum meninggalkan Pulau Peucang, kami menyempatkan diri untuk berfoto ria. Setelah semua rombongan naik ke kapal, kami berangkat menuju destinasi selanjutnya sebelum kembali pulang ke desa Sumur. Destinasi selanjutnya cukup menarik, yaitu air terjun air tawar di Citerjun.
Hutan alami Pulau Peucang
Karena terdapat karang di pesisir pantai Citerjun, kapal tidak bisa merapat sehingga kami harus berenang dulu untuk menuju ke air terjun tersebut. Setelah memakai pelampung, kami berenang menyebrangi laut untuk melihat air terjun unik tersebut. Ada beberapa alasan kenapa air terjun ini begitu unik. Yang pertama adalah ketinggian air terjun ini yang cukup pendek, tidak seperti air terjun lain pada umumnya, sehingga puncak air terjun ini bisa didaki. Keunikan yang kedua adalah ternyata air terjun ini membawa air tawar, bukan air asin, padahal letaknya di pulau dan tidak terdapat gunung ataupun bukit di pulau ini. Suhu airnya pun dingin sehingga sangat segar ketika kita bermain dengan airnya. Keunikan yang ketiga adalah air terjun ini langsung mengarah ke laut, sehingga letaknya sangat dekat dengan pantai dan jika kita jeli, kita bisa melihat air terjun ini dari kapal. Selain menikmati kesegaran air terjun, kami juga menyempatkan diri untuk bermain-main di tepi pantai. Setelah lelah bermain dan hari sudah siang kami segera berenang kembali ke pantai. Perlu diingat, arus laut akan semakin kencang pada siang hari. Oleh karena itu, kita tidak diijinkan untuk berenang di laut pada siang hari. Air terjun ini adalah destinasi terakhir kami di Ujungkulon.
Gue berforo di tengah hutan Pulau Peucang
Karena hari sudah siang, maka dilanjutkan dengan makan siang. Inilah saat makan terakhir di atas kapal. Sambil makan siang, kapal kembali ke desa Sumur. Perjalanan memakan waktu kurang lebih selama 3 jam.
Sunset di balik Karang Copong
Tak terasa kami pun tiba kembali ke desa Sumur. Sesampainya di sana, kami mengantri untuk mandi. Setelah semuanya selesai mandi, kami bergegas menuju ke bus dan bersiap kembali ke Jakarta. Kami berangkat jam 5 sore. Perjalanan pulang cukup menantang karena jalan yang kami tempuh berupa tanjakan dan turunan. Sekitar pukul 8 malam kami berhenti di sebuah restoran Padang untuk makan malam. Setelah makan malam, perjalanan pulang dilanjutkan dan kami tiba kembali di Plaza Semanggi sekitar jam 12 malam. Dari Plaza Semanggi, kami naik taksi menuju ke kos salah satu teman gue dan gue menginap di sana selama semalam sebelum kembali ke rumah.
Siluet anak Krakatau dilihat dari Pulau Peucang
Demikian cerita perjalanan gue ke Taman Nasional Ujungkulon dan Pulau Peucang selama liburan longweekend ini. Bagi penikmat wisata pantai, gue sangat menganjurkan kalian untuk mengunjungi Taman Nasional Ujungkulon dan Pulau Peucang. Alasannya adalah selain alamnya yang masih sangat asri, batu karang di sini juga lebih bagus dibandingkan dengan di Pulau Seribu. Terima kasih sudah membaca! Enjoy! \(^.^)/
Sunrise di timur Pulau Peucang
Sebagai bonus, berikut gue sertakan foto-foto yang harus banget kalian lihat! Hehehe... Cekidot!
Pemandangan pagi hari di Pulau Peucang
Padang savana di Pulau Cidaon
Foto seluruh peserta tour
Dermaga di Pulau Cidaon
Berfoto ria di dermaga Pulau Cidaon
Pulau Peucang
Cowok ganteng di dermaga Pulau Peucang \(^0^)/
Inilah para anggota boyband v(^.^)v
The boyband crew v(^0^)v

Monday, May 4, 2015

Jelajah Pulau Harapan 3 Hari 2 Malam

Hai hai... Apa kabar nih semua setelah liburan longweekend? Pasti happy dong yah! Hehehe... Setelah sekitar 3 bulan gue belom posting lagi, kali ini gue ingin menceritakan mengenai liburan longweekend gue. Seperti judul di atas, liburan kali ini gue pergi ke Pulau Harapan yang ada di Kepulauan Seribu. Kayak apa sih serunya liburan di Pulau Harapan? Cekidot yow!
Selamat Datang di Pulau Harapan
Gue liburan bersama temen-temen satu divisi di kantor gue, dari tanggal 1 sampai 3 Mei 2015. Yah, berhubung tahun ini kabarnya kantor gue ga mengadakan outing lagi, jadi gue dan teman-teman berinisiatif untuk merencakan liburan kami sendiri. Lah, malah curcol. Maap, kelepasan. Hehehe... Karena ini liburan kami sendiri, maka seluruh biayanya ditanggung masing-masing dan dilunasi sekitar beberapa hari sebelum keberangkatan.
Anak Pantai Coy!
Jumat pagi tanggal 1 Mei, gue bangun jam 4 subuh, bersiap untuk berangkat ke Muara Angke. Sekitar pukul setengah 7 pagi, gue sampai di Muara Angke dan bertemu dengan teman-teman yang sudah datang duluan sembari menunggu teman-teman yang belum datang. Tetapi pagi ini suasana di Muara Angke tidak seperti biasanya. Ternyata sangat banyak pemuda-pemudi yang berkumpul di sana. Gue bahkan ga pernah menyangka Muara Angke bakal seramai ini. Untuk masuk ke kapal saja harus berdesak-desakan. Di dalam kapal yang kami naiki pun penuh sesak. Hal ini terjadi mungkin karena ini adalah longweekend. Pukul 8 pagi kapal pun berangkat menuju Pulau Harapan.
Group Selfie Dulu Coy!
Perjalanan memakan waktu kurang lebih 3 jam, sekitar pukul 11 kami tiba di Pulau Harapan. Gue agak kaget sebenernya melihat Pulau Harapan pertama kali. Lho kok?! Memangnya kenapa? Jadi gini, tahun 2012 lalu gue pernah ke Pulau Tidung dan tahun 2013 lalu gue pernah ke Pulau Pari, 2 pulau ini masih lumayan terjaga kealamiannya dan cukup luas sehingga kita disiapkan sepeda untuk alat transportasi selama di pulau. Namun di Pulau Harapan ini sungguh-sungguh berbeda. Pulau ini begitu modern walaupun ukurannya lebih kecil dan jaraknya dari Muara Angke lebih jauh daripada Pulau Tidung dan Pulau Pari. Kita akan kesulitan menemukan sepeda tetapi sangat sering dijumpai sepeda motor sebagai alat transportasi di Pulau Harapan. Pulau Harapan juga jalannya sempit dan padat penduduk. Begitulah kesan pertama gue menginjakkan kaki pertama kali di Pulau Harapan.
Selfie Lageee! \(^0^)/
Setelah turun dari kapal, sudah ada tour guide yang menjemput kami, namanya adalah Mas Yoko. Beliaulah yang mendampingi kami selama berada di Pulau Harapan. Setelah bertemu Mas Yoko, kami diantar ke homestay. Sesampainya di homestay, ternyata sudah disediakan makan siang. Karena lelah dan kepanasan, kami lalu bergegas makan bersama. Agenda kami di hari pertama ini adalah mengelilingi pulau-pulau di sekitar Pulau Harapan.
Kece-Kece Yah?! \(~.^)/
Setelah makan siang bersama, kami menuju ke kapal kecil yang sudah disewa sebelumnya. Pulau pertama yang kami kunjungi adalah Pulau Perak. Sesampainya di Pulau Perak, hamparan pasir putih menyambut kami. Buat gue pulau ini sangat indah. Tidak ada yang tinggal di pulau ini, yang ada hanyalah pedagang es kelapa muda dan minuman. Setelah puas bermain dan berfoto ria di Pulau Perak, kami menuju ke pulau selanjutnya, yaitu Pulau Gosong.
Pulau Perak
Menurut gue, Pulau Gosong ini sangatlah unik. Kenapa? Karena Pulau Gosong terletak di tengah laut dengan luas yang tidak terlalu besar dan uniknya, pulau ini hanya berupa daratan berpasir, tidak ada satu pohon pun yang tumbuh di sana. Setelah puas bermain dan berfoto, kami kembali ke Pulau Harapan.
Pulau Gosong
Sesampainya di Pulau Harapan, hari sudah sore. Karena kamar mandi di homestay hanya satu, maka kami mandi secara bergantian. Selesai mandi, makan malam pun datang, maka kami makan bersama. Selesai makan, kami ngobrol-ngobrol, baru sebentar ngobrol tiba-tiba listrik homestay kami mati. Lalu pemilik homestay memanggil tukang listrik untuk memperbaiki kabel listrik yang menuju ke homestay kami. Karena listrik mati, pendingin udara pun mati, sehingga kami harus sabar menunggu. Setelah menunggu agak lama, listrik pun menyala kembali. Karena merasa bosan di homestay kami memutuskan untuk keliling-keliling. Kami jalan-jalan menuju taman yang letaknya tidak jauh dari dermaga, hanya sekedar ingin tahu ada apa saja di sana. Ternyata di sana banyak penjaja makanan dan minuman. Sebelum pulang, kami makan bakso dulu. Malam ini kami sepakat bahwa semua perempuan tidur di kamar dan semua laki-laki tidur di ruang tengah.

Pagi hari tanggal 2 Mei, gue bangun jam setengah 6 pagi. Ga pake lama gue mempersiapkan kamera gue untuk mengejar momen sunrise atau matahari terbit. Gue menuju dermaga yang lebih kecil yang terletak di sebelah timur dan bersiap mengambil foto sunrise. Ternyata dewi fortuna tidak berpihak sama gue, pagi ini langit berawan dan tentu saja foto sunrise yang spektakuler seperti di Bromo waktu itu tidak bisa gue dapatkan. Rasa kecewa pun menghampiri gue, tetapi gue tetap berusaha mengambil gambar sebisa gue. Suasana pagi itu cukup ramai, banyak pemuda pemudi yang juga ingin melihat sunrise. Sekitar pukul setengah 7 pagi, gue berniat untuk pulang. Tiba-tiba gue melihat pasangan calon pengantin melakukan foto prewedding. HmMm... Ternyata keindahan Pulau Harapan cukup memikat orang-orang untuk datang dan mengabadikan momen spesial di sana.

Sesampainya di homestay, perut gue udah laper, tetapi sarapan tak kunjung datang. Gue berharap pagi ini bisa makan banyak karena gue kelaperan. Hehehe... Tak lama berselang ada yang mengetok pintu dan saat gue buka, ternyata Mas Yoko mengantarkan sarapan. Yeah! Dan gue terhenyak sejenak, karena sarapan pagi ini bukan seperti yang gue harapankan. Sarapan pagi ini berupa pastel dan kue warna hijau yang atasnya dikasih kelapa gitu, gue ga tau nama tuh kue, maap yah! Hehehe... Dan tak lupa, minumnya adalah teh manis hangat. HmMm, lumayan untuk mengisi perut yang keroncongan. Hehehe...

Ga lama setelah makan, kami langsung dijemput lagi oleh Mas Yoko. Kalau begini ceritanya, kami semua ga ada yang sempet mandi. Hehehe... Tapi tak apalah karena agenda hari ini adalah snorkling di pulau-pulau lain yang kemarin belum sempat kami kunjungi. Yay! Ngapain mandi juga, toh ujung-ujungnya juga basah lagi. Hehehe... Kami pun bergegas bersiap dan berangkat bersama Mas Yoko.
Selfie di Taman Biota Laut
Sebelum pergi snorkling, kami mampir terlebih dahulu ke Taman Biota Laut. Taman ini merupakan penangkaran penyu. Telur-telur penyu di sini diambil dari pulau-pulau di sekitar Pulau Harapan. Nah, ada informasi menarik nih guys yang bisa kita dapat dari sini. Ternyata telur penyu yang dikubur di pasir yang lebih hangat akan menghasilkan penyu betina dan telur penyu yang dikubur di pasir yang lebih dingin akan menghasilkan penyu jantan. Selain itu, kami juga diajarkan cara membedakan penyu jantan dan betina, tetapi daripada gue dikatain sok tau, mendingan kalian langsung ajah dateng ke Taman Biota Laut yang terletak di Pulau Harapan ini. Hehehe... Kegiatan kami selanjutnya adalah snorkling. Oleh karena itu, kami langsung bergegas menuju dermaga.
Fotoan Dulu! d(^.^)b
Kapal kecil yang kami gunakan hari ini sama dengan kemarin. Spot snorkling kami yang pertama adalah di dekat sebuah pulau, entah apa namanya. Hehehe... Sekedar pengetahuan ajah, spot snorkling yang bagus adalah yang tidak terlalu dalam dan banyak terumbu karangnya. Setelah menggunakan life jacket, googles, dan sepatu katak, kami langsung nyemplung ajah. Untuk menarik ikan-ikan mendekat, kami menggunakan roti yang kami bawa, bahkan gue sempat digigit ikan. Memang tidak sakit, tetapi efek kejutnya luar biasa. Hehehe... Setelah beberapa lama snorkling, kami berpindah ke spot selanjutnya. Spot yang kedua adalah dekat Pulau Kelapa. Terumbu karang di sini pun bagus tetapi ikannya lebih sedikit dibandingkan di spot yang pertama tadi. Dan Mas Yoko pun bercerita sedikit mengenai Pulau Kelapa.
Persiapan Snorkling
Pulau Kelapa letaknya tidak jauh dari Pulau Harapan dan Pulau Kelapa biasanya digunakan untuk berkemah, tetapi kita tidak bisa sembarangan memasuki pulau yang ukurannya tidak terlalu besar itu, karena harus memakai ijin. Lho kok pakai ijin segala? Maksudnya gimana? Jadi gini gan, gue ingin menceritakan fakta miris yang terjadi di sekitar kita. Pulau Kelapa ini ternyata milik salah seorang warga negara asing berkebangsaan Belanda. Nah lho kok bisa?! Jangan tanya ane gan, ane juga sedih dengernya. Ternyata jual beli pulau memang ada. Dan yang lebih parah, awalnya pulau yang dibeli berukuran kecil, tetapi kemudian direklamasi sendiri oleh pemilik pulau sehingga pulaunya menjadi lebih luas. Jangan tanya apakah ini legal atau ilegal karena semua praktek ini dilakukan di bawah tangan. Entah cerita ini benar atau tidak.
I'm in Action! \(^0^)/
Oke, udah sedih-sedihnya, kita back to topic again yah! Hari sudah siang, dan perut kami pun sudah keroncongan lagi. Kami diturunkan di sebuah pulau yang tak jauh dari Pulau Harapan, yaitu Pulau Bulat! Sementara kami bermain di Pulau Bulat, Mas Yoko dan kru kapal kembali ke Pulau Harapan untuk mengambil makan siang kami. Pulau Bulat ini juga sangat indah, pasir putihnya sama seperti di Pulau Perak. Sekitar satu jam kami bermain dan bercanda ria, Mas Yoko sudah kembali sambil membawa makan siang kami. Kami pun makan siang bersama di pinggir pulau. Waw! Sensasinya luar biasa! Hahaha... Lebay! Setelah makan siang, kami melanjutkan snorkling ke spot selanjutnya. Dengan perut kenyang, kami melangkah mantap ke kapal.
Jomblowan di Tengan Laut (>.<)
Di spot ketiga ini, terumbu karangnya lebih bagus dibandingkan dua spot sebelumnya. Sayangnya karena sudah kenyang dan hari cukup terik, maka dari grup kami, yang melakukan snorkling di spot ketiga ini hanya sebagian saja. Karena hanya sedikit yang snorkling, maka kami hanya menghabiskan waktu sedikit di sini. Karena dirasa hari masih sore, kami melanjutkan perjalanan ke pulau selanjutnya.
Pasukan Katak d(^.^)b
Pulau selanjutnya yang kami kunjungi adalah Pulau Bira Besar! Pulau ini memiliki dermaga terpanjang di antara pulau-pulau lainnya karena di sekitar pulau ini merupakan perairan dangkal dan banyak terdapat karang serta bulu babi yang beracun. Kesan gue mengenai pulau ini adalah tidak terawat. Ya, di Pulau Bira Besar ini banyak terdapat penginapan tetapi sebagian kondisinya sudah rusak, hanya sebagian saja yang dihuni. Di pulau ini, aktivitas kami adalah berjalan kaki mengelilingi pulau menuju ke tempat penyewaan alat-alat watersport, seperti banana boat. Saat kami berjalan-jalan, kami menemukan papan yang mencantumkan siapa yang memiliki pulau ini. Ternyata Pulau Bira Besar dimiliki oleh grup Patra Jasa. Singkat cerita, kami tiba di tempat penyewaan banana boat. Biaya per orang untuk banana boat adalah 35 ribu rupiah. Namun sayang, lagi-lagi dewi fortuna tidak berpihak kepada kami. Saat kami akan menaiki banana boat, bensin speedboatnya habis. Huhuhu... Kami kembali ke Pulau Harapan dengan perasaan sedikit kecewa.
Berdiri di Tengah Laut. Hahaha... \(^0^)/
Sesampainya di Pulau Harapan, sebagian dari kami menyempatkan diri untuk jajan bakso dulu. Maklum, laper banget gan! Selesai jajan, kami mandi bergantian. Setelah mandi, sembari ngobrol-ngobrol lagi, kami bermain kartu remi. Kebetulan malam ini kami ada kegiatan BBQ-an, jadi kami menunggu Mas Yoko memanggil lagi. Hehehe...
Keceriaan di Atas Kapal \(^0^)/
Setelah beberapa jam, Mas Yoko datang memanggil, waktunya BBQ-an! Beberapa waktu kemudian, makanan yang ditunggu-tunggu datang. Kami sedikit kecewa melihatnya, karena hanya ada 2 ekor ikan, dan 9 tusuk cumi-cumi yang kerasnya bukan maen! Hahaha... Acara BBQ kali ini gue nyatakan gagal dan makanan tersebut kami bawa ke homestay untuk ditelaah lebih lanjut.
Gue Bersama Para Ladies Night! d(^.^)b
Hari sudah larut malam dan kami merasa lelah. Jika kemarin semua perempuan tidur di dalam dan semua laki-laki tidur di luar, maka malam ini dicampur. Alasannya adalah beberapa dari teman-teman perempuan bilang kalau mereka merasa pendingin udaranya terlalu dingin. Hehehe...

Malam berlalu, pagi pun menjelang. Pagi ini gue bangun pagi lagi dan berencana mengejar sunrise. Kalau kemarin gue perginya sendirian, maka pagi ini gue ditemani oleh dua teman gue yang penasaran gimana suasana sunrise di Pulau Harapan. Kami bertiga bergegas menuju ke spot sunrise yang sama seperti kemarin. Pagi ini ternyata lebih suram dibandingkan kemarin. Kenapa? Karena langitnya lebih berawan dan lebih sedikit orang yang datang. Setelah selesai berfoto ria, kami kembali ke homestay. Lagi-lagi kami harus menunggu sarapan karena belum datang dan tak lama kemudian, sarapan pun datang.
Sunrise di Pulau Harapan
Sarapan kami pagi ini adalah kue gemblong, resoles goreng, dan teh manis anget. Karena di hari ketiga ini kami akan kembali ke Jakarta, maka kami memesan tambahan sarapan ke warung makan, ada yang memesan niie instan dan ada yang memesan bakso. Di hari ketiga ini tidak ada kegiatan lagi, sehingga kami hanya ngobrol-ngobrol saja dan packing.
Begaya Dulu! \(^0^)/
Sekitar pukul setengah 11, Mas Yoko menjemput kami di homestay untuk mengantarkan kami ke kapal. Kami dibawakan makan siang berupa nasi dus. Setelah kapal penuh, yaitu sekitar jam 12 siang, kami bertolak menuju ke Muara Angke.

Singkat cerita, saat akan memasuki dermaga Muara Angke, hujan mengguyur. Kami sampai di Muara Angke sekitar jam 3 siang. Dari Muara Angke, gue nebeng temen gue yang naik taksi sampai ke Pluit. Dari Pluit, gue naek bus Transjakarta sampai ke rumah.
Happy Holiday, Cheers! \(^0^)/
Nah, demikian cerita liburan longweekend gue ke Pulau Harapan! Seru banget khan?! Semoga gue bisa liburan lagi bareng temen-temen kantor gue. Terima kasih semuanya. Sampai jumpa di postingan selanjutnya yang tentunya lebih seru. Enjoy! \(^0^)/

Tuesday, February 3, 2015

Daftar BPJS Kesehatan di Bank BRI Ternyata Mudah

Hai hai... Apa kabar nih semuanya? Gue harap dalam keadaan sehat selalu yah! Nah, kali ini gue ingin menshare informasi yang mungkin bermanfaat untuk orang banyak, yaitu informasi cara mendaftar BPJS Kesehatan di Bank BRI. Selanjutnya dalam postingan ini, BPJS Kesehatan akan gue singkat menjadi BPJS saja.
BPJS Kesehatan
Mungkin belum banyak yang tau bahwa sekarang Bank BRI menerima pendaftaran BPJS dan agar lebih memudahkan kita dalam membayar premi, maka disarankan untuk memiliki rekening tabungan di BRI. Gue bukan promosi lho yah, hanya menyarankan. Alasannya karena menu pembayaran premi BPJS sudah terintegrasi di seluruh ATM BRI.
Bank Rakyat Indonesia (BRI)
Selanjutnya gue akan menjelaskan sedikit mengenai beberapa jenis BPJS, antara lain:
1) BPJS Ketenagakerjaan
BPJS Ketenagakerjaan merupakan kelanjutan dari program pemerintah yang dulunya bernama Jamsostek. Fungsi BPJS Ketenagakerjaan ini adalah sebagai jaminan hari tua. BPJS Ketenagakerjaan ini bisa didapatkan ketika kita bekerja di sebuah perusahaan.
2) BPJS Kesehatan
Nah, di postingan ini gue akan membahas mengenai syarat pendaftaran BPJS Kesehatan. BPJS Kesehatan merupakan program pemerintah yang memberikan jaminan sosial dalam bentuk jaminan kesehatan. Untuk menggunakan BPJS Kesehatan, kita harus menunjuk salah satu puskesmas yang berada di sekitar tempat tinggal kita sebagai tempat pertama untuk berobat jika jatuh sakit. BPJS Kesehatan memiliki beberapa kelas, yang tertinggi adalah kelas 1 dan yang terendah adalah kelas 3 dan tentu saja semakin tinggi kelasnya maka preminya semakin tinggi.

Latar belakang gue mendaftar BPJS adalah karena sebagian besar anggota keluarga gue belum memiliki asuransi kesehatan. Jadi gue sekalian ajah daftar, padahal gue sudah memiliki satu asuransi kesehatan yang dikelola swasta atas nama pribadi dan satu lagi asuransi kesehatan dari kantor tempat gue bekerja. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini, gue mendaftar BPJS Kesehatan untuk keluarga bukan perorangan, sehingga dokumen yang diperlukan adalah untuk pembuatan BPJS Kesehatan satu keluarga. Oke, agar lebih memudahkan untuk dipahami maka gue langsung straight to the point ke syarat apa saja yang diperlukan untuk pendaftaran BPJS Kesehatan, maka gue akan membuat postingan kali ini lebih terstruktur. So, silakan disimak penjelasan gue. Hehehe...

Persyaratan dokumen yang diperlukan untuk mendaftar BPJS Kesehatan, antara lain:
1) Membawa Kartu Keluarga Asli.
2) Memberikan 1 lembar fotokopi kartu keluarga.
3) Memberikan 1 lembar fotokopi KTP masing-masing anggota keluarga yang tercantum dalam kartu keluarga, dalam hal ini ayah, ibu, anak, dan saudara kandung.
4) Memberikan 1 lembar fotokopi NPWP ayah sebagai kepala keluarga.
5) Memberikan 1 lembar pas foto berwarna 3x4 masing-masing anggota keluarga yang tercantum dalam kartu keluarga.
6) Membawa uang untuk pembayaran premi pertama semua anggota keluarga yang didaftarkan sesuai dengan kelas yang diambil.

Persyaratan dokumen yang diperlukan untuk mendaftar rekening Simpedes Bank BRI (Bank Rakyat Indonesia), antara lain:
1) Membawa KTP asli.
2) Membawa kartu NPWP asli.
3) Membawa uang tunai untuk pembukaan tabungan, minimal 100 ribu rupiah untuk Simpedes.
NB: Sebenarnya Bank BRI punya beberapa macam tipe tabungan, tetapi karena gue sudah punya rekening utama dan rekening di BRI ini hanya untuk memudahkan membayar premi BPJS, maka gue memilih Simpedes, karena biaya administrasi per bulannya lebih murah dibandingkan jenis tabungan BRI lainnya. Hehehe...

Setelah selesai mendaftar BPJS dan membuat rekening Bank BRI, kita akan mendapatkan kertas bukti pembayaran premi pertama BPJS dan kartu BPJS dijanjikan akan jadi 2 minggu kemudian. Karena gue mendaftar pada tanggal 3 Februari maka kartunya bisa diambil di BRI tempat gue mendaftar pada tanggal 16 Februari dengan membawa bukti pembayaran premi pertama..

So, sekarang lebih mudah khan daftar BPJS Kesehatan? Ayo, segera daftarkan keluarga Anda agar memperoleh manfaat dari BPJS Kesehatan! Semoga postingan ini bermanfaat bagi kita semua dan menjawab keraguan di benak Anda.

Demikian postingan kali ini, terima kasih sudah membaca. Salam sehat selalu!
\(^.^)/

Sunday, February 1, 2015

One Day Trip to Kebun Raya Bogor

Hai hai... Apa kabarnya nih di weekend yang indah ini? Hehehe.. Ini adalah postingan pertama gue di bulan Februari tahun ini. Untuk anak muda, bulan Februari identik dengan yang namanya Valentine, tapi pada postingan ini gue ga membahas mengenai Valentine. Seperti postingan gue kebanyakan, gue menceritakan mengenai pengalaman travelling gue ke berbagai tempat yang sangat menarik. Nah kali ini gue akan menceritakan mengenai perjalanan gue ke salah satu tempat eksotis yang tidak begitu jauh dari Jakarta. Tempat wisata ini terletak di Bogor dan bernama Kebun Raya Bogor. Nah gimana sih serunya cerita kali ini? Lalu hal apa saja yang menarik dari Kebun Raya Bogor. So, cekidot!
Salah satu patung di dalam Kebun Raya Bogor
Tanggal 30 Januari 2015 pagi, sekitar jam 8 lewat, gue menunggu teman gue yang akan menjemput gue dengan mobilnya. Meeting point kami adalah sevel Binus. Sekitar pukul setengah 9, kami bertemu dan bergegas untuk berangkat dan menjemput teman kami lainnya di halte busway UKI. Setelah dari UKI, kami melanjutkan menjemput teman kami yang lain lagi di rest area jalan tol. Dari sana, kami konvoi bersama. Pantauan cuaca saat kami berangkat memperlihatkan awan mendung yang cukup merata, tetapi untungnya hujan tidak turun. Traffic di jalan tol saat itu juga agak tersendat tetapi masih bisa jalan sedikit-sedikit. Setibanya di Bogor kami mampir makan siang dulu di Kedai Soto Ibu Rahayu sebelum melanjutkan perjalanan ke Kebun Raya Bogor. Di sana banyak terdapat berbagai macam menu soto, antara lain soto Bogor, soto ayam, soto mie, soto rica-rica, soto wagyu, dan soto goreng. Karena penasaran, gue memesan soto goreng. Awalnya gue berpikir kalau soto goreng itu ngga ada kuahnya, tetapi dugaan gue salah. Soto tetaplah soto, yang tentu saja berkuah. Keunikan soto goreng ini terletak di daging dan jeroannya yang digoreng. Hehehe... Setelah selesai makan, kami melanjutkan perjalanan kami.
Makan siang dulu di Kedai Soto Ibu Rahayu Bogor
Karena mobil yang kami bawa ada 2, sedangkan orangnya hanya berjumlah 5 saja, maka kami menuju ke Giant untuk memarkir mobil teman kami dan kami hanya menggunakan satu mobil saja. Setelah memarkirkan mobil di Giant, kami bergegas menuju ke Kebun Raya Bogor.
Pintu utama Kebun Raya Bogor
Perjalanan ke Kebun Raya Bogor cukup macet dan ternyata kami harus mengitari luar kebun raya untuk mencari pintu masuknya. Sekitar pukul 2 kurang kami sudah tiba di pintu masuk Kebun Raya Bogor. Harga tiket per orang untuk turis domestik adalah 14 ribu rupiah. HmMm... Harga tiketnya cukup bersahabat dengan dompet nih.
Selfie-an dulu di Kebun Raya Bogor
Selama hampir 3 jam kami mengelilingi Kebun Raya Bogor dengan berjalan kaki. Situs yang termasuk ikonik di sini pun kami datangi juga, antara lain Istana Bogor dan Jembatan Merah. Istana Bogor terletak di dalam komplek Kebun Raya Bogor. Selanjutnya Jembatan Merah terkenal dengan mitos, yang katanya kalau berpacaran di Jembatan Merah ini maka mitosnya Anda bisa putus dengan pasangan Anda. Terlepas benar atau tidak, mitos ini cukup mengakar kuat di masyarakat kita. Anda percaya atau tidak?
Berfoto di depan Istana Bogor
Kebun Raya Bogor juga memiliki koleksi berbagai macam tanaman dan usia tanaman di sini ada yang sudah lebih dari 100 tahun! Wow!
Jembatan Merah Kebun Raya Bogor yang memiliki mitos
Di sini suasananya sangat rimbun, banyak pohon-pohon tinggi dan juga sungai serta danau. Kami juga sempat mampir ke tempat dimana beberapa waktu lalu ada cukup banyak korban akibat tertimpa pohon yang besar. Namun tempat ini sudah dirapikan sehingga tidak terlihat lagi sisa-sisanya. Sambil berjalan-jalan kami pun berfoto ria. Foto-fotonya gue sertakan juga di postingan ini. Hehehe...
Selfie dulu di Jembatan Merah Kebun Raya Bogor
Sekitar jam 5 kurang, kami menyudahi perjalanan kami di Kebun Raya Bogor yang memiliki luas sekitar 87 hektaree ini. Perut kami terasa lapar sehingga kami berencana untuk menuju ke tempat kuliner kami selanjutnya. Awalnya kami menuju ke Momo Milk yang terkenal dengan olahan susunya. Tetapi sayang sekali, setibanya di sana, ternyata restorannya tutup. Dalam rangka mencari alternatif lain, kami menuju ke restoran unik lainnya, yaitu Dead By Coklat atau disingkat menjadi DBC. DBC ini mengusung tema horror, tetapi tidak dengan makanannya. Di sini kita bisa menemukan berbagai macam makanan ala-ala western, seperti pancake, ice cream mochi, spageti, dan lain sebagainya. Gue memutuskan untuk memesan spageti smoked beef black pepper hot plate. Walaupun harga makanan ini cukup mahal, yaitu hampir 50 ribu rupiah, tetapi sungguh ngga rugi menurut gue. Karena hot plate, spageti yang dihidangkan masih berasap gitu dhe. HmMm... Yummy! Sangat menggoda selera makan gue yang udah kelelahan ngelilingin Kebun Raya Bogor.
Spageti Beef Smoked Black Pepper Hotplate
Setelah selesai makan, tujuan kami selanjutnya adalah tempat oleh-oleh. Kami menuju ke tempat yang menjual salah satu oleh-oleh unik khas Bogor, yaitu bolu talas. Namun sayang sekali, setibanya di Bolu Talas Sangkuriang, bolu talasnya sudah habis sehingga gue ga jadi beli oleh-oleh. Huhuhu...
Jembatan merah versi mini. Hahaha...
Sekitar pukul setengah 8 malam, kami memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Tetapi sebelum itu, kami mengantarkan teman kami dulu ke Giant untuk mengambil mobilnya yang diparkir di sana. Jam 8 kurang, kami sudah masuk tol menuju Jakarta. Kondisi jalanan saat itu cukup lancar, tetapi cuacanya hujan. Kami tiba di Jakarta hampir pukul setengah 9 malam. Lalu kami diantar ke rumah masing-masing dan berakhirlah perjalanan menyenangkan kali ini.
Taman bunga di Kebun Raya Bogor
Akhir kata, terima kasih bagi yang sudah menyempatkan diri membaca postingan ini. Selamat menikmati akhir pekan Anda! \(^.^)/