Hai hai... Gimana kabarnya semua? Tentunya sangat menyenangkan yah bagi yang ketemuan sama pacar atau gebetan, tapi buat yang jomblo gimana? Mending ikut gue upacara tujuhbelasan ajah yuk! Hehehe... Oke, daripada makin ngenes, mending langsung ajah ke topik utama. Pada postingan kali ini, gue mencoba membuat konten yang sedikit berbeda. Tema postingan kali ini adalah "Jatuh Cinta dengan Dua Orang Berbeda dalam Waktu Bersamaan". Topik kali ini sebenarnya terinspirasi dari salah seorang teman gue. Mari kita renungkan bersama...
Bisakah kita mencintai dua orang yang berbeda dalam waktu yang bersamaan?
Mungkin Anda pernah mengalami dilema seperti ini dan bertanya di dalam hati masing-masing. Tenang ajah, ga cuman kalian kok, gue pun juga pernah bertanya dalam hati, bahkan sempat mengalami perasaan galau seperti ini. Lalu, apa bisa seseorang mencintai dua orang yang berbeda dalam waktu yang bersamaan?
The answer is simple, yes you can.
Ya, kita sebagai manusia biasa, bisa jatuh cinta dengan dua orang yang berbeda dan menyebabkan kita menjadi galau. Mengapa hal ini bisa terjadi? Sebenarnya tidak ada yang salah dengan orang lain, tidak ada yang salah dengan keadaan, yang salah adalah diri kita sendiri. Hati kita tidak mampu tegas dalam memilih atau karena kita merasa takut, takut untuk mencintai orang yang salah, takut untuk dikecewakan, takut untuk memulai sebuah hubungan yang baru, takut ditolak, dan belasan alasan lainnya. Kita seolah-olah bersembunyi dalam zona abu-abu, zona yang membuat kita nyaman, membuat kita tidak harus membuat keputusan yang mungkin akhirnya akan kita sesali...
![]() |
It's complicated! |
Kalau sudah begini, keputusan kembali kepada diri kita masing-masing. Apakah dia masih layak untuk diperjuangkan? Ataukah sebaiknya, kita kembalikan logika kita untuk mengakhiri keadaan rumit yang serba tidak jelas ini? Atau kita biarkan diri kita tetap terjebak di dalamnya dan membiarkan waktu yang berbicara?
"Empirical evidence clearly suggests that humans are capable of loving ... with more than one person at the same time."
Aaron Ben-Zeév, The Author of Book: “In the Name of Love”
The bigger question is, do you want to?
Apa masalah utama dari mencintai dua orang yang berbeda?
Secara moral, hal ini tidak etis! Tidak ada pengecualian dan tawar-menawar!
Bagi yang sudah memiliki pasangan...
Seandainya kita sebagai pelaku, mungkin kita ingin mengabaikan perasaan ini, perasaan mencintai dua orang yang berbeda. Tetapi bagaimana jika perasaan ini terlalu kuat? Apa yang harus kita lakukan? Mau bilang ke pasangan, sudah jelas, hal ini akan menghancurkan hubungan yang sudah terjalin. Tetapi jika dipendam, seperti menyimpan bom waktu. Ingin berpikir dengan logika, tetapi cinta tidak datang dari logika, cinta datang dari sebuah rasa di relung hati kita. Bahkan jika kita tidak tegas dan membiarkan perasaan mempermainkan kita, lama-kelamaan kebahagiaan kita akan tergerus. Kita jalan dengan pasangan kita, tetapi kita tidak merasa bahagia. Kita jalan dengan pasangan kita, tetapi yang ada di dalam pikiran kita adalah bayangan wanita / pria lain. Bahkan kita selalu khawatir, selalu berhati-hati dalam menggunakan handphone supaya pasangan kita tidak mengetahuinya. Sampai berapa lama kita sanggup menjalani sandiwara ini?
Dia yang begitu mencintai kita dengan sepenuh hati, tetapi kita menanggapinya hanya setengah hati.
Dia yang selalu ada buat kita, tapi hati kita tak pernah benar-benar bersamanya.
Dia yang selalu mengusahakan yang terbaik dan berkorban untuk kita, tetapi kita hanya menganggap pengorbanannya sebagai hal yang wajar.
Lalu bagaimana solusinya? Apa yang harus kita lakukan?
Selingkuh? Jangan! Itu hanya akan menambah masalah dalam hidup kita!
Dia yang selalu ada buat kita, tapi hati kita tak pernah benar-benar bersamanya.
Dia yang selalu mengusahakan yang terbaik dan berkorban untuk kita, tetapi kita hanya menganggap pengorbanannya sebagai hal yang wajar.
Lalu bagaimana solusinya? Apa yang harus kita lakukan?
Selingkuh? Jangan! Itu hanya akan menambah masalah dalam hidup kita!
Sekarang kita coba balik sudut pandangnya, seandainya kita menjadi pasangannya.
Kita tidak pernah tahu isi hatinya.
Kita berusaha untuk mempertahankan hubungan ini.
Kita menutup hati untuk yang lain, walaupun pasangan kita tidak melakukannya. Kita berkorban untuk pasangan kita dengan ikhlas dan tulus, tetapi hanya dianggap bahwa itu adalah kewajiban kita sebagai pasangan.
Kita selalu memegang teguh komitmen dengan pasangan kita, tetapi pasangan kita malah memegang teguh keegoisannya.
Kita ditipu, tapi kita tidak tahu!
Sangat tidak adil bukan?
Siapkah kita menerima sebuah pengkhianatan?
Apakah sebuah pengkhianatan memang layak kita terima setelah memperjuangkan pasangan kita dengan tulus?
Lalu, seandainya kita tahu bahwa mungkin dia juga tertarik dengan orang lain padahal masih berkomitmen dengan kita, apa yang akan kita lakukan?
Apa yang harus kita lakukan?
Meninggalkannya?
Memaafkannya?
Membiarkannya bahagia dan memendam rasa sakit dalam hati?
Kita tidak pernah tahu isi hatinya.
Kita berusaha untuk mempertahankan hubungan ini.
Kita menutup hati untuk yang lain, walaupun pasangan kita tidak melakukannya. Kita berkorban untuk pasangan kita dengan ikhlas dan tulus, tetapi hanya dianggap bahwa itu adalah kewajiban kita sebagai pasangan.
Kita selalu memegang teguh komitmen dengan pasangan kita, tetapi pasangan kita malah memegang teguh keegoisannya.
Kita ditipu, tapi kita tidak tahu!
Sangat tidak adil bukan?
Siapkah kita menerima sebuah pengkhianatan?
Apakah sebuah pengkhianatan memang layak kita terima setelah memperjuangkan pasangan kita dengan tulus?
Lalu, seandainya kita tahu bahwa mungkin dia juga tertarik dengan orang lain padahal masih berkomitmen dengan kita, apa yang akan kita lakukan?
Apa yang harus kita lakukan?
Meninggalkannya?
Memaafkannya?
Membiarkannya bahagia dan memendam rasa sakit dalam hati?
Bagi yang belum memiliki pasangan...
Bagi yang belum memliki pasangan dan jatuh pada keadaan dimana kita mencintai dua orang yang berbeda dalam waktu yang bersamaan, mungkin beban moral yang dihadapi akan lebih sedikit. Kenapa? Karena kita belum berkomitmen dengan siapapun. Kita masih berada dalam posisi yang bebas, tidak terikat, kita belum menjadi milik siapa-siapa.
Tetapi akankah kita sadar bahwa orang lain yang sedang memperjuangkan diri kita punya batas kesabaran, bisa juga merasa lelah, dan punya perasaan juga seperti kita.
Sampai kapan kita akan berpura-pura bahwa dialah satu-satunya yang kita perhatikan? Padahal dia tidak pernah tahu bahwa ada orang lain juga yang kita cintai.
Alasan kita biasanya adalah kita takut kehilangan dua-duanya.
Ya, kita takut kehilangan dua-duanya.
Sebenarnya, kita memang akan kehilangan dua-duanya apabila kita tidak bisa tegas, cepat atau lambat hal itu akan terjadi...
Lalu, coba kita putar sudut pandangnya, seandainya gebetan kita juga jatuh cinta pada orang lain selain kita tetapi kita tidak tahu.
Kita merasa satu-satunya di matanya.
Kita merasa bahwa kitalah yang terhebat.
Kita merasa cepat atau lambat, hatinya akan menjadi milik kita.
Kita terlalu optimis, atau dengan kata lain, kita terlalu sombong!
Janganlah cepat merasa puas. Perjuangkanlah orang yang kalian cintai! Mungkin kita merasa begitu lelah. Mungkin kita merasa bahwa semuanya tidak akan ada habisnya. Mungkin... Mungkin... Dan mungkin...
Semuanya hanyalah asumsi kita! Alasan yang kita buat sendiri untuk berhenti memperjuangkannya. Manusia yang lemah adalah manusia yang selalu membuat alasan! Perjuangkanlah kalau memang dirinya layak untuk kita perjuangkan!
Akan lebih menyakitkan ketika orang lain mendahului kita menyatakan cinta kepadanya.
Rasa sesal akan menghantui kita.
Dan perjuangan yang kita lakukan dihentikan oleh orang lain yang memiliki keberanian lebih dibandingkan kita.
Mungkin kita akan menutup hati dan bilang bahwa kita akan kembali membuka hati ketika keadaan sudah kembali pulih.
Bagaimana jika keadaan tak kunjung pulih?
Bagaimana jika terjadi penyesalan dan tak kunjung hilang?
Ketika kita harus melalui ratusan hari dengan air mata.
Belum lagi jika kita menjadi alergi dan anti dengan yang namanya cinta.
Tak pernah lagi bisa mencintai orang lain dengan tulus.
Tak akan bisa lagi merasakan perhatian yang orang lain berikan.
Bayangkan, bagaimana jika itu terjadi dengan kita?
Bagaimana jika kita merasa bahwa cinta yang datang dari orang ketiga adalah cinta sejati kita?
Bagaimana jika kita merasa bahwa cinta yang datang dari orang ketiga adalah cinta sejati kita? Apa yang harus kita lakukan?
Berikut adalah saran dari beberapa orang. Anda boleh setuju atau tidak.
- Ikutilah perasaan Anda. Lakukan hal yang benar menurut perasaan Anda. Bukankah ada pepatah bahwa cinta tak pernah salah?
- Jika kita sedang menjalin hubungan dengan seseorang, cara terbaik untuk menghadapi keadaan ini adalah akhiri hubungan yang Anda jalani sekarang dan hiduplah bahagia dengan orang ketiga tersebut.
Terlihat simpel? Apakah kita akan terhindar dari perasaan bersalah jika kita telah melakukan saran tersebut? Bukankah dalam kehidupan sehari-hari, kita menyadari bahwa jauh lebih mudah untuk memberi saran daripada melakukan saran tersebut, benar?
Bagi yang belum memliki pasangan dan jatuh pada keadaan dimana kita mencintai dua orang yang berbeda dalam waktu yang bersamaan, mungkin beban moral yang dihadapi akan lebih sedikit. Kenapa? Karena kita belum berkomitmen dengan siapapun. Kita masih berada dalam posisi yang bebas, tidak terikat, kita belum menjadi milik siapa-siapa.
Tetapi akankah kita sadar bahwa orang lain yang sedang memperjuangkan diri kita punya batas kesabaran, bisa juga merasa lelah, dan punya perasaan juga seperti kita.
Sampai kapan kita akan berpura-pura bahwa dialah satu-satunya yang kita perhatikan? Padahal dia tidak pernah tahu bahwa ada orang lain juga yang kita cintai.
Alasan kita biasanya adalah kita takut kehilangan dua-duanya.
Ya, kita takut kehilangan dua-duanya.
Sebenarnya, kita memang akan kehilangan dua-duanya apabila kita tidak bisa tegas, cepat atau lambat hal itu akan terjadi...
Lalu, coba kita putar sudut pandangnya, seandainya gebetan kita juga jatuh cinta pada orang lain selain kita tetapi kita tidak tahu.
Kita merasa satu-satunya di matanya.
Kita merasa bahwa kitalah yang terhebat.
Kita merasa cepat atau lambat, hatinya akan menjadi milik kita.
Kita terlalu optimis, atau dengan kata lain, kita terlalu sombong!
Janganlah cepat merasa puas. Perjuangkanlah orang yang kalian cintai! Mungkin kita merasa begitu lelah. Mungkin kita merasa bahwa semuanya tidak akan ada habisnya. Mungkin... Mungkin... Dan mungkin...
Semuanya hanyalah asumsi kita! Alasan yang kita buat sendiri untuk berhenti memperjuangkannya. Manusia yang lemah adalah manusia yang selalu membuat alasan! Perjuangkanlah kalau memang dirinya layak untuk kita perjuangkan!
Akan lebih menyakitkan ketika orang lain mendahului kita menyatakan cinta kepadanya.
Rasa sesal akan menghantui kita.
Dan perjuangan yang kita lakukan dihentikan oleh orang lain yang memiliki keberanian lebih dibandingkan kita.
Mungkin kita akan menutup hati dan bilang bahwa kita akan kembali membuka hati ketika keadaan sudah kembali pulih.
Bagaimana jika keadaan tak kunjung pulih?
Bagaimana jika terjadi penyesalan dan tak kunjung hilang?
Ketika kita harus melalui ratusan hari dengan air mata.
Belum lagi jika kita menjadi alergi dan anti dengan yang namanya cinta.
Tak pernah lagi bisa mencintai orang lain dengan tulus.
Tak akan bisa lagi merasakan perhatian yang orang lain berikan.
Bayangkan, bagaimana jika itu terjadi dengan kita?
Bagaimana jika kita merasa bahwa cinta yang datang dari orang ketiga adalah cinta sejati kita?
Bagaimana jika kita merasa bahwa cinta yang datang dari orang ketiga adalah cinta sejati kita? Apa yang harus kita lakukan?
Berikut adalah saran dari beberapa orang. Anda boleh setuju atau tidak.
- Ikutilah perasaan Anda. Lakukan hal yang benar menurut perasaan Anda. Bukankah ada pepatah bahwa cinta tak pernah salah?
- Jika kita sedang menjalin hubungan dengan seseorang, cara terbaik untuk menghadapi keadaan ini adalah akhiri hubungan yang Anda jalani sekarang dan hiduplah bahagia dengan orang ketiga tersebut.
Terlihat simpel? Apakah kita akan terhindar dari perasaan bersalah jika kita telah melakukan saran tersebut? Bukankah dalam kehidupan sehari-hari, kita menyadari bahwa jauh lebih mudah untuk memberi saran daripada melakukan saran tersebut, benar?
"If you love two people at the same time. choose the second one. Because if you really loved the first one, then you wouldn't have fallen for the second."
Johnny Depp
Mungkin kita pernah dengar pepatah Johnny Depp di atas. Pepatah tersebut hanya berlaku jika Anda percaya orang ketiga tersebut dalam keadaan ceteris paribus. Anda tentu masih ingat, dalam hukum ekonomi, ceteris paribus merupakaan keadaan dimana kita mengabaikan faktor-faktor lain yang mungkin berpengaruh.
Berikut bisa menjadi pertimbangan ketika akan mengakhiri sebuah hubungan dan menjalin hubungan dengan orang ketiga. Ini semua tergantung bagaimana kita mendeskripsikannya.
1) Relationship (Hubungan)
Apakah hubungan yang sekarang Anda jalani tidak membahagiakan Anda? Atau hubungan Anda terlalu baik sehingga Anda merasa tidak ada tantangan lagi? Atau Anda berpikir, mungkin Anda bisa merasa lebih bahagia apabila Anda menjalin hubungan dengan orang ketiga tersebut?
2) Commitment (Komitmen)
Komitmen lambang kesetiaan. Saat menjalani hubungan, pasti dari kita selalu mengingatkan pasangan kita untuk menjaga komitmen bersama. Tetapi bagaimana jika pasangan Anda sudah benar-benar menjaga komitmennya dan malah kita yang melanggar komitmen tersebut? Egois!
3) Responsibility (Tanggung Jawab)
Di dalam sebuah hubungan, pasti diiringi dengan tanggung jawab. Sejauh mana kita tanggung jawab terhadap hubungan yang kita jalani dan tanggung jawab dengan pasangan kita?
4) Marriage (Pernikahan)
Setiap pasangan pasti mendambakan hubungannya saat ini akan berujung di pelaminan. Pertanyaannya adalah apakah orang yang kita akan nikahi merupakan jodoh kita? Atau kita belum merasa yakin sehingga ingin mencoba menjalin hubungan dengan orang lain dan meninggalkan orang yang memang benar-benar ingin menikahi kita?
5) Big family (Keluarga besar)
Bagaimana dengan ikatan keluarga yang sudah terjalin selama kita menjalin hubungan dengan pasangan kita? Akankah hal ini menjadi salah satu pertimbangan kita? Apakah kita merasa bahwa hubungan antar keluarga bukan merupakan hal yang penting sehingga kapan saja bisa diakhiri? Apakah nanti hubungan dengan keluarga orang ketiga akan berjalan dengan baik?
6) Uncertainty of the future (Ketidakpastian di masa depan)
Apakah kita siap mengakhiri hubungan yang sudah pasti dan menjalin hubungan dengan orang ketiga yang belum memiliki kepastian masa depan? Apa yang sebenarnya kita inginkan? Apa yang sebenarnya kita perjuangkan?
Untungnya, kita sering mempertimbangkan banyak hal seperti hal-hal di atas.
Ya, jika kita mempertimbangkan hal-hal di atas dengan baik, maka tentunya kita memilih untuk hidup dengan pasangan kita dan bukan dengan orang ketiga.
Beberapa dari kita mungkin berpendapat, orang ketiga tersebut mungkin memang cinta sejati kita.
![]() |
Inspirational Quote |
Oleh karena itu, dengarkan suara hati yang Anda yakini dengan lebih sering dan jangan pernah menyesal dengan segala keputusan yang kita ambil!
Semoga menginspirasi dan bermanfaat! Atas nama cinta. Thank you! \(^.^)/