Monday, May 4, 2015

Jelajah Pulau Harapan 3 Hari 2 Malam

Hai hai... Apa kabar nih semua setelah liburan longweekend? Pasti happy dong yah! Hehehe... Setelah sekitar 3 bulan gue belom posting lagi, kali ini gue ingin menceritakan mengenai liburan longweekend gue. Seperti judul di atas, liburan kali ini gue pergi ke Pulau Harapan yang ada di Kepulauan Seribu. Kayak apa sih serunya liburan di Pulau Harapan? Cekidot yow!
Selamat Datang di Pulau Harapan
Gue liburan bersama temen-temen satu divisi di kantor gue, dari tanggal 1 sampai 3 Mei 2015. Yah, berhubung tahun ini kabarnya kantor gue ga mengadakan outing lagi, jadi gue dan teman-teman berinisiatif untuk merencakan liburan kami sendiri. Lah, malah curcol. Maap, kelepasan. Hehehe... Karena ini liburan kami sendiri, maka seluruh biayanya ditanggung masing-masing dan dilunasi sekitar beberapa hari sebelum keberangkatan.
Anak Pantai Coy!
Jumat pagi tanggal 1 Mei, gue bangun jam 4 subuh, bersiap untuk berangkat ke Muara Angke. Sekitar pukul setengah 7 pagi, gue sampai di Muara Angke dan bertemu dengan teman-teman yang sudah datang duluan sembari menunggu teman-teman yang belum datang. Tetapi pagi ini suasana di Muara Angke tidak seperti biasanya. Ternyata sangat banyak pemuda-pemudi yang berkumpul di sana. Gue bahkan ga pernah menyangka Muara Angke bakal seramai ini. Untuk masuk ke kapal saja harus berdesak-desakan. Di dalam kapal yang kami naiki pun penuh sesak. Hal ini terjadi mungkin karena ini adalah longweekend. Pukul 8 pagi kapal pun berangkat menuju Pulau Harapan.
Group Selfie Dulu Coy!
Perjalanan memakan waktu kurang lebih 3 jam, sekitar pukul 11 kami tiba di Pulau Harapan. Gue agak kaget sebenernya melihat Pulau Harapan pertama kali. Lho kok?! Memangnya kenapa? Jadi gini, tahun 2012 lalu gue pernah ke Pulau Tidung dan tahun 2013 lalu gue pernah ke Pulau Pari, 2 pulau ini masih lumayan terjaga kealamiannya dan cukup luas sehingga kita disiapkan sepeda untuk alat transportasi selama di pulau. Namun di Pulau Harapan ini sungguh-sungguh berbeda. Pulau ini begitu modern walaupun ukurannya lebih kecil dan jaraknya dari Muara Angke lebih jauh daripada Pulau Tidung dan Pulau Pari. Kita akan kesulitan menemukan sepeda tetapi sangat sering dijumpai sepeda motor sebagai alat transportasi di Pulau Harapan. Pulau Harapan juga jalannya sempit dan padat penduduk. Begitulah kesan pertama gue menginjakkan kaki pertama kali di Pulau Harapan.
Selfie Lageee! \(^0^)/
Setelah turun dari kapal, sudah ada tour guide yang menjemput kami, namanya adalah Mas Yoko. Beliaulah yang mendampingi kami selama berada di Pulau Harapan. Setelah bertemu Mas Yoko, kami diantar ke homestay. Sesampainya di homestay, ternyata sudah disediakan makan siang. Karena lelah dan kepanasan, kami lalu bergegas makan bersama. Agenda kami di hari pertama ini adalah mengelilingi pulau-pulau di sekitar Pulau Harapan.
Kece-Kece Yah?! \(~.^)/
Setelah makan siang bersama, kami menuju ke kapal kecil yang sudah disewa sebelumnya. Pulau pertama yang kami kunjungi adalah Pulau Perak. Sesampainya di Pulau Perak, hamparan pasir putih menyambut kami. Buat gue pulau ini sangat indah. Tidak ada yang tinggal di pulau ini, yang ada hanyalah pedagang es kelapa muda dan minuman. Setelah puas bermain dan berfoto ria di Pulau Perak, kami menuju ke pulau selanjutnya, yaitu Pulau Gosong.
Pulau Perak
Menurut gue, Pulau Gosong ini sangatlah unik. Kenapa? Karena Pulau Gosong terletak di tengah laut dengan luas yang tidak terlalu besar dan uniknya, pulau ini hanya berupa daratan berpasir, tidak ada satu pohon pun yang tumbuh di sana. Setelah puas bermain dan berfoto, kami kembali ke Pulau Harapan.
Pulau Gosong
Sesampainya di Pulau Harapan, hari sudah sore. Karena kamar mandi di homestay hanya satu, maka kami mandi secara bergantian. Selesai mandi, makan malam pun datang, maka kami makan bersama. Selesai makan, kami ngobrol-ngobrol, baru sebentar ngobrol tiba-tiba listrik homestay kami mati. Lalu pemilik homestay memanggil tukang listrik untuk memperbaiki kabel listrik yang menuju ke homestay kami. Karena listrik mati, pendingin udara pun mati, sehingga kami harus sabar menunggu. Setelah menunggu agak lama, listrik pun menyala kembali. Karena merasa bosan di homestay kami memutuskan untuk keliling-keliling. Kami jalan-jalan menuju taman yang letaknya tidak jauh dari dermaga, hanya sekedar ingin tahu ada apa saja di sana. Ternyata di sana banyak penjaja makanan dan minuman. Sebelum pulang, kami makan bakso dulu. Malam ini kami sepakat bahwa semua perempuan tidur di kamar dan semua laki-laki tidur di ruang tengah.

Pagi hari tanggal 2 Mei, gue bangun jam setengah 6 pagi. Ga pake lama gue mempersiapkan kamera gue untuk mengejar momen sunrise atau matahari terbit. Gue menuju dermaga yang lebih kecil yang terletak di sebelah timur dan bersiap mengambil foto sunrise. Ternyata dewi fortuna tidak berpihak sama gue, pagi ini langit berawan dan tentu saja foto sunrise yang spektakuler seperti di Bromo waktu itu tidak bisa gue dapatkan. Rasa kecewa pun menghampiri gue, tetapi gue tetap berusaha mengambil gambar sebisa gue. Suasana pagi itu cukup ramai, banyak pemuda pemudi yang juga ingin melihat sunrise. Sekitar pukul setengah 7 pagi, gue berniat untuk pulang. Tiba-tiba gue melihat pasangan calon pengantin melakukan foto prewedding. HmMm... Ternyata keindahan Pulau Harapan cukup memikat orang-orang untuk datang dan mengabadikan momen spesial di sana.

Sesampainya di homestay, perut gue udah laper, tetapi sarapan tak kunjung datang. Gue berharap pagi ini bisa makan banyak karena gue kelaperan. Hehehe... Tak lama berselang ada yang mengetok pintu dan saat gue buka, ternyata Mas Yoko mengantarkan sarapan. Yeah! Dan gue terhenyak sejenak, karena sarapan pagi ini bukan seperti yang gue harapankan. Sarapan pagi ini berupa pastel dan kue warna hijau yang atasnya dikasih kelapa gitu, gue ga tau nama tuh kue, maap yah! Hehehe... Dan tak lupa, minumnya adalah teh manis hangat. HmMm, lumayan untuk mengisi perut yang keroncongan. Hehehe...

Ga lama setelah makan, kami langsung dijemput lagi oleh Mas Yoko. Kalau begini ceritanya, kami semua ga ada yang sempet mandi. Hehehe... Tapi tak apalah karena agenda hari ini adalah snorkling di pulau-pulau lain yang kemarin belum sempat kami kunjungi. Yay! Ngapain mandi juga, toh ujung-ujungnya juga basah lagi. Hehehe... Kami pun bergegas bersiap dan berangkat bersama Mas Yoko.
Selfie di Taman Biota Laut
Sebelum pergi snorkling, kami mampir terlebih dahulu ke Taman Biota Laut. Taman ini merupakan penangkaran penyu. Telur-telur penyu di sini diambil dari pulau-pulau di sekitar Pulau Harapan. Nah, ada informasi menarik nih guys yang bisa kita dapat dari sini. Ternyata telur penyu yang dikubur di pasir yang lebih hangat akan menghasilkan penyu betina dan telur penyu yang dikubur di pasir yang lebih dingin akan menghasilkan penyu jantan. Selain itu, kami juga diajarkan cara membedakan penyu jantan dan betina, tetapi daripada gue dikatain sok tau, mendingan kalian langsung ajah dateng ke Taman Biota Laut yang terletak di Pulau Harapan ini. Hehehe... Kegiatan kami selanjutnya adalah snorkling. Oleh karena itu, kami langsung bergegas menuju dermaga.
Fotoan Dulu! d(^.^)b
Kapal kecil yang kami gunakan hari ini sama dengan kemarin. Spot snorkling kami yang pertama adalah di dekat sebuah pulau, entah apa namanya. Hehehe... Sekedar pengetahuan ajah, spot snorkling yang bagus adalah yang tidak terlalu dalam dan banyak terumbu karangnya. Setelah menggunakan life jacket, googles, dan sepatu katak, kami langsung nyemplung ajah. Untuk menarik ikan-ikan mendekat, kami menggunakan roti yang kami bawa, bahkan gue sempat digigit ikan. Memang tidak sakit, tetapi efek kejutnya luar biasa. Hehehe... Setelah beberapa lama snorkling, kami berpindah ke spot selanjutnya. Spot yang kedua adalah dekat Pulau Kelapa. Terumbu karang di sini pun bagus tetapi ikannya lebih sedikit dibandingkan di spot yang pertama tadi. Dan Mas Yoko pun bercerita sedikit mengenai Pulau Kelapa.
Persiapan Snorkling
Pulau Kelapa letaknya tidak jauh dari Pulau Harapan dan Pulau Kelapa biasanya digunakan untuk berkemah, tetapi kita tidak bisa sembarangan memasuki pulau yang ukurannya tidak terlalu besar itu, karena harus memakai ijin. Lho kok pakai ijin segala? Maksudnya gimana? Jadi gini gan, gue ingin menceritakan fakta miris yang terjadi di sekitar kita. Pulau Kelapa ini ternyata milik salah seorang warga negara asing berkebangsaan Belanda. Nah lho kok bisa?! Jangan tanya ane gan, ane juga sedih dengernya. Ternyata jual beli pulau memang ada. Dan yang lebih parah, awalnya pulau yang dibeli berukuran kecil, tetapi kemudian direklamasi sendiri oleh pemilik pulau sehingga pulaunya menjadi lebih luas. Jangan tanya apakah ini legal atau ilegal karena semua praktek ini dilakukan di bawah tangan. Entah cerita ini benar atau tidak.
I'm in Action! \(^0^)/
Oke, udah sedih-sedihnya, kita back to topic again yah! Hari sudah siang, dan perut kami pun sudah keroncongan lagi. Kami diturunkan di sebuah pulau yang tak jauh dari Pulau Harapan, yaitu Pulau Bulat! Sementara kami bermain di Pulau Bulat, Mas Yoko dan kru kapal kembali ke Pulau Harapan untuk mengambil makan siang kami. Pulau Bulat ini juga sangat indah, pasir putihnya sama seperti di Pulau Perak. Sekitar satu jam kami bermain dan bercanda ria, Mas Yoko sudah kembali sambil membawa makan siang kami. Kami pun makan siang bersama di pinggir pulau. Waw! Sensasinya luar biasa! Hahaha... Lebay! Setelah makan siang, kami melanjutkan snorkling ke spot selanjutnya. Dengan perut kenyang, kami melangkah mantap ke kapal.
Jomblowan di Tengan Laut (>.<)
Di spot ketiga ini, terumbu karangnya lebih bagus dibandingkan dua spot sebelumnya. Sayangnya karena sudah kenyang dan hari cukup terik, maka dari grup kami, yang melakukan snorkling di spot ketiga ini hanya sebagian saja. Karena hanya sedikit yang snorkling, maka kami hanya menghabiskan waktu sedikit di sini. Karena dirasa hari masih sore, kami melanjutkan perjalanan ke pulau selanjutnya.
Pasukan Katak d(^.^)b
Pulau selanjutnya yang kami kunjungi adalah Pulau Bira Besar! Pulau ini memiliki dermaga terpanjang di antara pulau-pulau lainnya karena di sekitar pulau ini merupakan perairan dangkal dan banyak terdapat karang serta bulu babi yang beracun. Kesan gue mengenai pulau ini adalah tidak terawat. Ya, di Pulau Bira Besar ini banyak terdapat penginapan tetapi sebagian kondisinya sudah rusak, hanya sebagian saja yang dihuni. Di pulau ini, aktivitas kami adalah berjalan kaki mengelilingi pulau menuju ke tempat penyewaan alat-alat watersport, seperti banana boat. Saat kami berjalan-jalan, kami menemukan papan yang mencantumkan siapa yang memiliki pulau ini. Ternyata Pulau Bira Besar dimiliki oleh grup Patra Jasa. Singkat cerita, kami tiba di tempat penyewaan banana boat. Biaya per orang untuk banana boat adalah 35 ribu rupiah. Namun sayang, lagi-lagi dewi fortuna tidak berpihak kepada kami. Saat kami akan menaiki banana boat, bensin speedboatnya habis. Huhuhu... Kami kembali ke Pulau Harapan dengan perasaan sedikit kecewa.
Berdiri di Tengah Laut. Hahaha... \(^0^)/
Sesampainya di Pulau Harapan, sebagian dari kami menyempatkan diri untuk jajan bakso dulu. Maklum, laper banget gan! Selesai jajan, kami mandi bergantian. Setelah mandi, sembari ngobrol-ngobrol lagi, kami bermain kartu remi. Kebetulan malam ini kami ada kegiatan BBQ-an, jadi kami menunggu Mas Yoko memanggil lagi. Hehehe...
Keceriaan di Atas Kapal \(^0^)/
Setelah beberapa jam, Mas Yoko datang memanggil, waktunya BBQ-an! Beberapa waktu kemudian, makanan yang ditunggu-tunggu datang. Kami sedikit kecewa melihatnya, karena hanya ada 2 ekor ikan, dan 9 tusuk cumi-cumi yang kerasnya bukan maen! Hahaha... Acara BBQ kali ini gue nyatakan gagal dan makanan tersebut kami bawa ke homestay untuk ditelaah lebih lanjut.
Gue Bersama Para Ladies Night! d(^.^)b
Hari sudah larut malam dan kami merasa lelah. Jika kemarin semua perempuan tidur di dalam dan semua laki-laki tidur di luar, maka malam ini dicampur. Alasannya adalah beberapa dari teman-teman perempuan bilang kalau mereka merasa pendingin udaranya terlalu dingin. Hehehe...

Malam berlalu, pagi pun menjelang. Pagi ini gue bangun pagi lagi dan berencana mengejar sunrise. Kalau kemarin gue perginya sendirian, maka pagi ini gue ditemani oleh dua teman gue yang penasaran gimana suasana sunrise di Pulau Harapan. Kami bertiga bergegas menuju ke spot sunrise yang sama seperti kemarin. Pagi ini ternyata lebih suram dibandingkan kemarin. Kenapa? Karena langitnya lebih berawan dan lebih sedikit orang yang datang. Setelah selesai berfoto ria, kami kembali ke homestay. Lagi-lagi kami harus menunggu sarapan karena belum datang dan tak lama kemudian, sarapan pun datang.
Sunrise di Pulau Harapan
Sarapan kami pagi ini adalah kue gemblong, resoles goreng, dan teh manis anget. Karena di hari ketiga ini kami akan kembali ke Jakarta, maka kami memesan tambahan sarapan ke warung makan, ada yang memesan niie instan dan ada yang memesan bakso. Di hari ketiga ini tidak ada kegiatan lagi, sehingga kami hanya ngobrol-ngobrol saja dan packing.
Begaya Dulu! \(^0^)/
Sekitar pukul setengah 11, Mas Yoko menjemput kami di homestay untuk mengantarkan kami ke kapal. Kami dibawakan makan siang berupa nasi dus. Setelah kapal penuh, yaitu sekitar jam 12 siang, kami bertolak menuju ke Muara Angke.

Singkat cerita, saat akan memasuki dermaga Muara Angke, hujan mengguyur. Kami sampai di Muara Angke sekitar jam 3 siang. Dari Muara Angke, gue nebeng temen gue yang naik taksi sampai ke Pluit. Dari Pluit, gue naek bus Transjakarta sampai ke rumah.
Happy Holiday, Cheers! \(^0^)/
Nah, demikian cerita liburan longweekend gue ke Pulau Harapan! Seru banget khan?! Semoga gue bisa liburan lagi bareng temen-temen kantor gue. Terima kasih semuanya. Sampai jumpa di postingan selanjutnya yang tentunya lebih seru. Enjoy! \(^0^)/

Tuesday, February 3, 2015

Daftar BPJS Kesehatan di Bank BRI Ternyata Mudah

Hai hai... Apa kabar nih semuanya? Gue harap dalam keadaan sehat selalu yah! Nah, kali ini gue ingin menshare informasi yang mungkin bermanfaat untuk orang banyak, yaitu informasi cara mendaftar BPJS Kesehatan di Bank BRI. Selanjutnya dalam postingan ini, BPJS Kesehatan akan gue singkat menjadi BPJS saja.
BPJS Kesehatan
Mungkin belum banyak yang tau bahwa sekarang Bank BRI menerima pendaftaran BPJS dan agar lebih memudahkan kita dalam membayar premi, maka disarankan untuk memiliki rekening tabungan di BRI. Gue bukan promosi lho yah, hanya menyarankan. Alasannya karena menu pembayaran premi BPJS sudah terintegrasi di seluruh ATM BRI.
Bank Rakyat Indonesia (BRI)
Selanjutnya gue akan menjelaskan sedikit mengenai beberapa jenis BPJS, antara lain:
1) BPJS Ketenagakerjaan
BPJS Ketenagakerjaan merupakan kelanjutan dari program pemerintah yang dulunya bernama Jamsostek. Fungsi BPJS Ketenagakerjaan ini adalah sebagai jaminan hari tua. BPJS Ketenagakerjaan ini bisa didapatkan ketika kita bekerja di sebuah perusahaan.
2) BPJS Kesehatan
Nah, di postingan ini gue akan membahas mengenai syarat pendaftaran BPJS Kesehatan. BPJS Kesehatan merupakan program pemerintah yang memberikan jaminan sosial dalam bentuk jaminan kesehatan. Untuk menggunakan BPJS Kesehatan, kita harus menunjuk salah satu puskesmas yang berada di sekitar tempat tinggal kita sebagai tempat pertama untuk berobat jika jatuh sakit. BPJS Kesehatan memiliki beberapa kelas, yang tertinggi adalah kelas 1 dan yang terendah adalah kelas 3 dan tentu saja semakin tinggi kelasnya maka preminya semakin tinggi.

Latar belakang gue mendaftar BPJS adalah karena sebagian besar anggota keluarga gue belum memiliki asuransi kesehatan. Jadi gue sekalian ajah daftar, padahal gue sudah memiliki satu asuransi kesehatan yang dikelola swasta atas nama pribadi dan satu lagi asuransi kesehatan dari kantor tempat gue bekerja. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini, gue mendaftar BPJS Kesehatan untuk keluarga bukan perorangan, sehingga dokumen yang diperlukan adalah untuk pembuatan BPJS Kesehatan satu keluarga. Oke, agar lebih memudahkan untuk dipahami maka gue langsung straight to the point ke syarat apa saja yang diperlukan untuk pendaftaran BPJS Kesehatan, maka gue akan membuat postingan kali ini lebih terstruktur. So, silakan disimak penjelasan gue. Hehehe...

Persyaratan dokumen yang diperlukan untuk mendaftar BPJS Kesehatan, antara lain:
1) Membawa Kartu Keluarga Asli.
2) Memberikan 1 lembar fotokopi kartu keluarga.
3) Memberikan 1 lembar fotokopi KTP masing-masing anggota keluarga yang tercantum dalam kartu keluarga, dalam hal ini ayah, ibu, anak, dan saudara kandung.
4) Memberikan 1 lembar fotokopi NPWP ayah sebagai kepala keluarga.
5) Memberikan 1 lembar pas foto berwarna 3x4 masing-masing anggota keluarga yang tercantum dalam kartu keluarga.
6) Membawa uang untuk pembayaran premi pertama semua anggota keluarga yang didaftarkan sesuai dengan kelas yang diambil.

Persyaratan dokumen yang diperlukan untuk mendaftar rekening Simpedes Bank BRI (Bank Rakyat Indonesia), antara lain:
1) Membawa KTP asli.
2) Membawa kartu NPWP asli.
3) Membawa uang tunai untuk pembukaan tabungan, minimal 100 ribu rupiah untuk Simpedes.
NB: Sebenarnya Bank BRI punya beberapa macam tipe tabungan, tetapi karena gue sudah punya rekening utama dan rekening di BRI ini hanya untuk memudahkan membayar premi BPJS, maka gue memilih Simpedes, karena biaya administrasi per bulannya lebih murah dibandingkan jenis tabungan BRI lainnya. Hehehe...

Setelah selesai mendaftar BPJS dan membuat rekening Bank BRI, kita akan mendapatkan kertas bukti pembayaran premi pertama BPJS dan kartu BPJS dijanjikan akan jadi 2 minggu kemudian. Karena gue mendaftar pada tanggal 3 Februari maka kartunya bisa diambil di BRI tempat gue mendaftar pada tanggal 16 Februari dengan membawa bukti pembayaran premi pertama..

So, sekarang lebih mudah khan daftar BPJS Kesehatan? Ayo, segera daftarkan keluarga Anda agar memperoleh manfaat dari BPJS Kesehatan! Semoga postingan ini bermanfaat bagi kita semua dan menjawab keraguan di benak Anda.

Demikian postingan kali ini, terima kasih sudah membaca. Salam sehat selalu!
\(^.^)/

Sunday, February 1, 2015

One Day Trip to Kebun Raya Bogor

Hai hai... Apa kabarnya nih di weekend yang indah ini? Hehehe.. Ini adalah postingan pertama gue di bulan Februari tahun ini. Untuk anak muda, bulan Februari identik dengan yang namanya Valentine, tapi pada postingan ini gue ga membahas mengenai Valentine. Seperti postingan gue kebanyakan, gue menceritakan mengenai pengalaman travelling gue ke berbagai tempat yang sangat menarik. Nah kali ini gue akan menceritakan mengenai perjalanan gue ke salah satu tempat eksotis yang tidak begitu jauh dari Jakarta. Tempat wisata ini terletak di Bogor dan bernama Kebun Raya Bogor. Nah gimana sih serunya cerita kali ini? Lalu hal apa saja yang menarik dari Kebun Raya Bogor. So, cekidot!
Salah satu patung di dalam Kebun Raya Bogor
Tanggal 30 Januari 2015 pagi, sekitar jam 8 lewat, gue menunggu teman gue yang akan menjemput gue dengan mobilnya. Meeting point kami adalah sevel Binus. Sekitar pukul setengah 9, kami bertemu dan bergegas untuk berangkat dan menjemput teman kami lainnya di halte busway UKI. Setelah dari UKI, kami melanjutkan menjemput teman kami yang lain lagi di rest area jalan tol. Dari sana, kami konvoi bersama. Pantauan cuaca saat kami berangkat memperlihatkan awan mendung yang cukup merata, tetapi untungnya hujan tidak turun. Traffic di jalan tol saat itu juga agak tersendat tetapi masih bisa jalan sedikit-sedikit. Setibanya di Bogor kami mampir makan siang dulu di Kedai Soto Ibu Rahayu sebelum melanjutkan perjalanan ke Kebun Raya Bogor. Di sana banyak terdapat berbagai macam menu soto, antara lain soto Bogor, soto ayam, soto mie, soto rica-rica, soto wagyu, dan soto goreng. Karena penasaran, gue memesan soto goreng. Awalnya gue berpikir kalau soto goreng itu ngga ada kuahnya, tetapi dugaan gue salah. Soto tetaplah soto, yang tentu saja berkuah. Keunikan soto goreng ini terletak di daging dan jeroannya yang digoreng. Hehehe... Setelah selesai makan, kami melanjutkan perjalanan kami.
Makan siang dulu di Kedai Soto Ibu Rahayu Bogor
Karena mobil yang kami bawa ada 2, sedangkan orangnya hanya berjumlah 5 saja, maka kami menuju ke Giant untuk memarkir mobil teman kami dan kami hanya menggunakan satu mobil saja. Setelah memarkirkan mobil di Giant, kami bergegas menuju ke Kebun Raya Bogor.
Pintu utama Kebun Raya Bogor
Perjalanan ke Kebun Raya Bogor cukup macet dan ternyata kami harus mengitari luar kebun raya untuk mencari pintu masuknya. Sekitar pukul 2 kurang kami sudah tiba di pintu masuk Kebun Raya Bogor. Harga tiket per orang untuk turis domestik adalah 14 ribu rupiah. HmMm... Harga tiketnya cukup bersahabat dengan dompet nih.
Selfie-an dulu di Kebun Raya Bogor
Selama hampir 3 jam kami mengelilingi Kebun Raya Bogor dengan berjalan kaki. Situs yang termasuk ikonik di sini pun kami datangi juga, antara lain Istana Bogor dan Jembatan Merah. Istana Bogor terletak di dalam komplek Kebun Raya Bogor. Selanjutnya Jembatan Merah terkenal dengan mitos, yang katanya kalau berpacaran di Jembatan Merah ini maka mitosnya Anda bisa putus dengan pasangan Anda. Terlepas benar atau tidak, mitos ini cukup mengakar kuat di masyarakat kita. Anda percaya atau tidak?
Berfoto di depan Istana Bogor
Kebun Raya Bogor juga memiliki koleksi berbagai macam tanaman dan usia tanaman di sini ada yang sudah lebih dari 100 tahun! Wow!
Jembatan Merah Kebun Raya Bogor yang memiliki mitos
Di sini suasananya sangat rimbun, banyak pohon-pohon tinggi dan juga sungai serta danau. Kami juga sempat mampir ke tempat dimana beberapa waktu lalu ada cukup banyak korban akibat tertimpa pohon yang besar. Namun tempat ini sudah dirapikan sehingga tidak terlihat lagi sisa-sisanya. Sambil berjalan-jalan kami pun berfoto ria. Foto-fotonya gue sertakan juga di postingan ini. Hehehe...
Selfie dulu di Jembatan Merah Kebun Raya Bogor
Sekitar jam 5 kurang, kami menyudahi perjalanan kami di Kebun Raya Bogor yang memiliki luas sekitar 87 hektaree ini. Perut kami terasa lapar sehingga kami berencana untuk menuju ke tempat kuliner kami selanjutnya. Awalnya kami menuju ke Momo Milk yang terkenal dengan olahan susunya. Tetapi sayang sekali, setibanya di sana, ternyata restorannya tutup. Dalam rangka mencari alternatif lain, kami menuju ke restoran unik lainnya, yaitu Dead By Coklat atau disingkat menjadi DBC. DBC ini mengusung tema horror, tetapi tidak dengan makanannya. Di sini kita bisa menemukan berbagai macam makanan ala-ala western, seperti pancake, ice cream mochi, spageti, dan lain sebagainya. Gue memutuskan untuk memesan spageti smoked beef black pepper hot plate. Walaupun harga makanan ini cukup mahal, yaitu hampir 50 ribu rupiah, tetapi sungguh ngga rugi menurut gue. Karena hot plate, spageti yang dihidangkan masih berasap gitu dhe. HmMm... Yummy! Sangat menggoda selera makan gue yang udah kelelahan ngelilingin Kebun Raya Bogor.
Spageti Beef Smoked Black Pepper Hotplate
Setelah selesai makan, tujuan kami selanjutnya adalah tempat oleh-oleh. Kami menuju ke tempat yang menjual salah satu oleh-oleh unik khas Bogor, yaitu bolu talas. Namun sayang sekali, setibanya di Bolu Talas Sangkuriang, bolu talasnya sudah habis sehingga gue ga jadi beli oleh-oleh. Huhuhu...
Jembatan merah versi mini. Hahaha...
Sekitar pukul setengah 8 malam, kami memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Tetapi sebelum itu, kami mengantarkan teman kami dulu ke Giant untuk mengambil mobilnya yang diparkir di sana. Jam 8 kurang, kami sudah masuk tol menuju Jakarta. Kondisi jalanan saat itu cukup lancar, tetapi cuacanya hujan. Kami tiba di Jakarta hampir pukul setengah 9 malam. Lalu kami diantar ke rumah masing-masing dan berakhirlah perjalanan menyenangkan kali ini.
Taman bunga di Kebun Raya Bogor
Akhir kata, terima kasih bagi yang sudah menyempatkan diri membaca postingan ini. Selamat menikmati akhir pekan Anda! \(^.^)/

Friday, January 23, 2015

Banjir Kembali Melanda Sunter di Awal 2015

Hai hai... Setelah gue menceritakan mengenai liburan gue di postingan sebelumnya, kali ini gue ingin memposting mengenai salah satu kabar yang tidak mengenakan, yaitu banjir kembali melanda Sunter di awal 2015 ini. Sepertinya banjir memang sudah menjadi agenda tahunan daerah Sunter karena tahun lalu pun Sunter dilanda banjir di bulan Januari. Oke, gue akan menceritakan kronologis banjir yang terjadi hari ini, begini kronologisnya...

Hujan memang sudah mengguyur Sunter sekitar pukul setengah 11 malam kemarin. Sekitar pukul 3 dini hari, pas gue lagi enak-enaknya tidur, tiba-tiba doggy peliharaan gue naik ke ranjang dan menggonggong ke arah pintu kamar. Gue kira dia gonggongin hewan yang masuk ke kamar, eh ternyata pas gue lihat lantai, air banjir sudah masuk dengan ketinggian yang tidak terlalu dalam. Hal ini sontak membuat bokap nyokap gue juga kaget. Seketika itu juga gue menyelamatkan barang-barang yang masih tergeletak di lantai dan mulai terendam, termasuk tas gue. Huhuhu... Sampai postingan ini diturunkan, hujan masih mengguyur Sunter dan langitnya pun masih mendung dan lumayan gelap. Keadaan ini memaksa gue minta ijin ke kantor untuk tidak masuk hari ini.
Ketinggian air di garasi rumah gue
Gue berharap banjir tidak akan terjadi lagi walaupun gue sebenernya agak pesimis karena tiap tahun ngalamin banjir. Tapi gada salahnya berharap khan? Hehehe... Btw, gue belum mandi juga lho. Hahaha...

Oke, sekian dulu breaking newsnya. Semoga bermanfaat!

Monday, January 12, 2015

Petualanganku Selama 2 Minggu di Kampung Inggris, Pare, Jawa Timur

Hai hai... Apa kabarnya nih semuanya? Gue harap semuanya baik-baik ajah. Hehehe... Sebelumnya. gue ingin mengucapkan Selamat Tahun Baru 2015 buat semuanya! Semoga di tahun ini, harapan kita semua bisa terkabul yah! Amin! Oh iya, gimana dengan liburan kalian? Hehehe...

Ini adalah postingan pertama gue di tahun 2015 ini, setelah postingan sebelumnya yang bercerita mengenai perjalanan gue ke Beijing. Hehehe... Kali ini gue ingin membagi kisah gue selama 2 minggu berada di Kampung Inggris. HmMm... Penasaran khan?! Langsung ajah disimak yuk! Hehehe...

Sebelumnya gue akan memberikan gambaran mengenai Pare dan Kampung Inggris. Pare adalah sebuah daerah yang agak terpencil di antara kota Kediri, Jombang, dan Malang. Karena terpencil, maka fasilitas di kota ini hanya apa adanya, contohnya adalah jauhnya jarak ATM dari kota ini dan sulitnya sinyal provider telekomunikasi. Daerah ini agak jauh dari kata modern. So, kota ini cocok buat yang punya jiwa petualang dan mampu survive di keadaan yang minim fasilitas tetapi merupakan bencana buat mereka yang masih manja dan memiliki ketergantungan tinggi dengan yang namanya teknologi. Hehehe...

Selanjutnya gue akan menceritakan sedikit mengenai Kampung Inggris dan mengapa gue sampai bisa ke sini. Oke, pertama kali gue dapet informasi mengenai Kampung Inggris adalah dari ade gue, sehingga gue melakukan perjalanan ini bersama ade gue tercintah. Setelah itu, gue berusaha mencari informasi sedetail-detailnya mengenai Kampung Inggris dan tempat kursus yang tergolong baik di sana. Kampung Inggris merupakan suatu daerah di Pare yang buanyaaakkk bangeeettt terdapat tempat kursus bahasa Inggris yang murah meriah. Kalian bisa belajar mengenai grammar, vocabulary, pronanciation, structure, speaking, TOEFL, dan IELTS. Uniknya lagi, beberapa masyarakat di sana ada yang sudah terbiasa untuk berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris. HmMm... Gue pikir ini salah satu tempat unik yang cocok untuk menghabiskan liburan gue dan menghabiskan cuti kantor gue. Hahaha... Sebelum ke sana, kami melakukan booking dan transfer uang ke tempat kursus yang kami pilih. Kami mendaftar untuk periode 25. Periode 25 artinya adalah kelas yang kami ambil akan dimulai pada tanggal 25 di bulan tersebut. Hari keberangkatan pun tiba. Mau tau gimana serunya petualangan gue kali ini?! Let's go!

Kebetulan gue mendapat libur dari kantor gue dari tanggal 24 Desember 2014 sampai dengan 4 Januari 2015, tetapi karena di Kampung Inggris minimal pembelajarannya selama 2 minggu, maka gue menambah seminggu lagi dengan menggunakan cuti kantor gue yang masih utuh, alias belum kepake. Hahaha... Oke, karena tiket kereta api yang murah untuk keberangkatan tanggal 25 Desember 2014 udah keburu abis, maka gue dengan terpaksa membeli tiket kereta eksekutif yang bernama Gajayana dari Stasiun Gambir ke Stasiun Kediri. Karena gue bayarin tiket ade gue juga, jadi kenanya lumayan bok! Hiks... Walah, malah jadi curhat. Hahaha... Skip skip...

Tanggal 25 Desember 2014, kami berangkat dari rumah menggunakan Metromini U24 dan dilanjutkan dengan Kopaja P20 AC ke Stasiun Gambir. Ternyata setelah lama gue ngga pernah menggunakan angkutan umum, gue baru tau kalo angkutan umum makin lama makin ga nyaman, ada yang ngamen, ada yang minta-minta duid, mending kalo cuman 1, lha ini sepanjang perjalanan udah ada berapa orang yang kayak gitu. Mahalan ngasihnya daripada ongkos angkutannya sendiri. Tapi ada pengalaman menarik di Metromini U24. Ada 2 pemuda yang minta-minta duid gitu dhe, trus gue pan ga ngasih, untungnya gue duduknya sama ade gue, jadi ga disamperin. Nah, yang disamperin malah penumpang yang persis duduk di sebelah gue, kebetulan doi sendirian doang tuh. Nah, setelah diajak ngomong gini-gitu, dimintain rokok pula, dan yang paling bikin gue kaget adalah... Ujung-ujungnya doi dipalak men! Ngeri banget dah! Gue lirik-lirik dikit dan barang yang dipalak tuh MP3 Player. Ghila, ngeri abis! Untungnya bukan gue yang kena. Fiuuuhhh~!! Oke, skip skip, gue sampe juga di Stasiun Gambir.

Di Gambir, gue keliling buat nyari ATM bank gue, gue pengen ngisi pulsa modem karena gue takut di Kampung Inggris kaga ada ATM dan gue pengen ngambil duid buat biaya hidup gue selama berada di sana. Nah, pas udah mau naek nunggu kereta, gue baru nyadar, ternyata kartu ATM gue masih ketinggalan di tuh mesin! Alhasil gue balik lagi ke tuh ATM dan kartu gue udah kaga ada. Setengah panik, gue telpon ke pihak bank supaya rekening gue diblokir. Untungnya ade gue masih bawa ATM doi, jadi kalo gue kekurangan duid, masih bisa minjem doi. Hehehe... Sampe gue nulis postingan ini pun, rekening gue yang keblokir belon gue urus. Hiks... Walah, gue malah jadi curcol lagi khan. Skip skip...

Sekitar jam setengah 6 sore, kereta eksekutif Gajayana dateng. Masih dengan perasaan sedih karena kartu ATM ilang, gue naek ke kereta. Sejujurnya, ini pertama kalinya gue naek kereta api eksekutif. Hahaha... So, gue akan kasih tau ke kalian perbedaan antara kereta api eksekutif dengan yang biasa. Di kereta api eksekutif, kalian akan mendapatkan fasilitas yang lebih ketimbang kereta biasa. Kursi yang empuk, senderan kaki, ruang yang lebih luas, sandaran kursi yang bisa dimundurin, meja yang nempel sama kursi, selimut, dan bantal. Udah itu ajah. Dengan harga yang lebih mahal sekitar 3-4 kali lipat dari tiket kereta api yang biasa, menurut gue emang rada kurang worthed kalo naek kereta api eksekutif, mending naek pesawat dah. Tapi khusus di situasi ini, mengharuskan kami naek kereta api. Hehehe...

Sekitar jam setengah 7 pagi di keesokan harinya, gue sampe di stasiun Kediri. Ini juga keretanya udah telat 1 jam karena di tiketnya seharusnya sampainya jam setengah 6 pagi. Kereta api eksekutif ternyata bisa telat juga yeh. Hehehe... Ternyata lumayan juga selama 13 jam duduk manis di kereta, tapi berhubung keretanya nyaman jadi kaga begitu berasa. Ini adalah pertama kalinya gue menginjak kota Kediri. Hehehe...
Stasiun Kediri
Oke, setelah sampai di stasiun Kediri, kami tawar menawar dengan tukang becak untuk diantar ke Gedung Bhayangkara. Akhirnya harga yang disepakati adalah 15 ribu rupiah per orang. Perjalanan naik becak ini hanya memakan waktu kurang lebih 10 menitan. Setibanya di Gedung Bhayangkara, sudah ada angkot yang menuju langsung ke Kampung Inggris. Setelah turun dari becak, kami bergegas naik angkot tersebut. Setelah menunggu kurang lebih 15 menit, ternyata tidak ada penumpang lain yang naik. Akhirnya sopir angkot memberikan tarif sebesar 35 ribu rupiah per orang dan tidak bisa ditawar. Alhasil, mau ga mau kami menggunakan angkot tersebut menuju ke Kampung Inggris.

Sesampainya di tempat kursus yang sudah kami booking, kami menuju ke officenya. Walaupun Kampung Inggris terletak di daerah yang lumayan terpencil, tapi ternyata keadaannya ramai oleh anak-anak yang belajar di sana. Sebelum menuju asrama (selanjutnya akan gue sebut dengan camp), gue menuju ke ruang kelas dulu. Pertama, karena di hari saat kami tiba, itu hari pertama kami memulai kelas dan yang kedua adalah letak campnya yang menjadi satu area dengan tempat kursus yang kami ambil.

Kami mengambil program IELTS dan Confidence Speaking, dengan jadwal seperti ini: IELTS Reading jam 07.00-08.30, IELTS Writing jam 08.30-10, Confidence Speaking jam 10.00-12.00, istirahat, Study Club IELTS Writing jam 14.30-16.00, Study Club Confidence Speaking jam 16.00-17.30, dan yang terakhir adalah program Camp jam 19.30-21.00. Rutinitas seperti inilah yang kami jalani selama 2 minggu, dari hari Senin sampai hari Sabtu, kecuali tanggal merah. Belum lagi kami juga diberikan tugas-tugas yang harus dikerjakan. Cukup padat yah? Padahal cuma ngambil 2 program lho dengan biaya yang sangat terjangkau. Hehehe...

Saat jam istirahat, gue menuju ke camp gue dan kenalan sembari ngobrol-ngobrol imut sama temen-temen sekamar gue. Ternyata mereka sudah lebih lama berada di Kampung Inggris. Ada yang hampir 3 bulan, ada yang sudah 1 bulan lebih, sedangkan gue cuman 2 minggu ajah. Hehehe... Dan yang lebih mengejutkan lagi, ternyata yang datang ke Kampung Inggris ga cuma anak-anak dari Pulau Jawa, ada yang dari Makassar, daerah Indonesia Timur, bahkan Aceh! Wow! Ternyata Kampung Inggris sangat familiar juga yah. Sayang banget kalau kalian malah baru tau. Hehehe...

Oke, selanjutnya gue akan menceritakan mengenai keadaan di Kampung Inggris. Seperti yang udah gue sebutin di atas, di Pare, fasilitasnya cukup minim, susah nyari ATM, dan susah sinyal, tetapi pemandangan di Kampung Inggris terbilang kece menurut gue. Bayangin ajah, di sebelah rumah-rumah, masih ada sawah yang ukurannya gede-gede. Suhu di Pare juga cukup panas di siang harinya walaupun airnya sangat melimpah di sana. Jangan harap ada fasilitas pendingin udara semacam AC, di sana paling-paling hanya disediakan kipas angin saja. Tetapi yang unik lagi adalah harga makanannya men! Murah meriah bingits! Gue jamin, warteg termurah di Jakarta, pasti masih kalah murah sama warteg di sono. Ni gue bocorin harga makananya, makan di warteg lauknya telor sama tempe orek abisnya 5.500 rupiah, kalo lauknya nasi kuning, capcay, tempe orek, sama perkedel abisnya cuman 4.500 rupiah! Nasi goreng mawut cuma 8.000 rupiah, nasi plus ayam abisnya sekitar 8.000 sampe 9.000 rupiah, lontong sama pecel cuma 6.000 rupiah, es campur cuma 3.000 rupiah, bubur ayam cuma 6.000 rupiah, dan di sana kalian masih bisa menemukan mie ayam dengan harga 4.000 rupiah! Sadis ga tuh! Oh iya, semua warteg di sini sistemnya prasmanan lho, yaitu ambil sendiri. Boleh sih ambil banyak, tapi harus dihabiskan lho yah. Hehehe... Buat kalian yang perutnya sensitif sama makanan yang kurang higienis, dijamin bakal sedikit menderita di sana. Karena dari pengalaman gue, perut gue yang cukup punya imun sama makanan di warteg-warteg Jakarta, begitu makan di sana, jebol man! Setiap hari tuh gue selang-seling ngalamin yang namanya diare. Jadi sekarang sembuh, besok diare, besoknya lagi sembuh, besok-besoknya lagi diare, begitulah ritmenya selama 2 minggu. So, ga cuman mental ajah yang dibutuhin, daya tahan perut juga penting coy! Selaen makanan, mungkin kalian juga butuh menyewa sepeda untuk keliling-keliling di sana. Harga sewa sepeda juga cukup terjangkau, per harinya dikenakan antara 7.000-10.000 rupiah, sedangkan kalau sewa sebulan dikenakan 50.000 rupiah, dan kalian harus menitipkan KTP atau SIM sebagai jaminannya. Hehehe... Oh iya, di Kampung Inggris juga mungkin kalian membutuhkan jasa laundry. Laundry di sini juga cukup terjangkau harganya, sekitar 4.000 rupiah per kilo dan dapat diambil keesokan harinya. Prosesnya hanya memakan waktu 24 jam, jadi misalnya sore ini kalian tarok, besok sore udah bisa diambil lagi dan pakaian kalian akan menjadi rapi dan wangi kembali. HmMm... Kira-kira seperti inilah gambaran hal-hal yang mungkin kalian butuhkan di Kampung Inggris.
Areal Persawahan di Kampung Inggris
Selanjutnya gue akan menceritakan mengenai kegiatan gue di akhir minggu. Karena kelas sampe hari Sabtu, maka seperti yang udah gue sebutkan di atas, kami cuma punya hari libur tuh hari Minggu sama tanggal merah aja. So, di hari Minggu, gue manfaatin waktunya buat tidur sepuas mungkin dan sore harinya pergi ke Gereja (sesuai dengan aliran kepercayaan kami). Gereja di sana terletak di daerah kotanya Pare (Kampung Inggris tuh kayak desanya Pare gitu dhe). Jarak dari camp gue ke Gereja sekitar 3,7 kilometer dan bisa ditempuh dengan menggunakan sepeda sekitar 30 menit. Sembari ke Gereja, kami sekalian mampir ke ATM banknya ade gue buat ngambil duid dan sekalian nyari makanan yang kaga dijual di sekitar tempat kursus kami. Gue kasih tau sedikit rahasia buat kalian yang beragama non-muslim (maaf banget, ini bukannya rasis, tapi cuma ngasi tips ajah demi keamanan kalian sendiri), yaitu kalau kalian bukan muslim dan ingin pergi ke tempat ibadah, maka bilang ajah mau jalan-jalan. Sebetulnya gue ga merasa keamanan gue terancam sih karena mungkin temen-temen di kamar gue masih pada kecil-kecil, tetapi ade gue yang merasa cemas karena beberapa kali teman-teman sekamarnya diskusi soal aliran kepercayaan. Situasi inilah yang menyebabkan kami hanya bertahan selama seminggu di camp dan diam-diam kami menyewa kos sendiri. Harga kos di sana juga ngga terlalu mahal sih, sekitar 500 ribu per bulan atau 250 ribu per 2 minggu dan 1 kamar bisa diisi maksimal sampai 3 orang. Hehehe...
Gereja Katolik Santo Mateus di Pare
Oh iya, perayaan tahun baru di Kampung Inggris juga sangat sederhana, kalian hanya menemukan beberapa kembang api saja di langit, banyak tempat makan yang tutup, dan walaupun sederhana, tetap saja berkesan buat gue. Hehehe...
Hutan Jati di Sekitar Kampung Inggris
Terlepas dari kekurangan di atas, menurut gue belajar bahasa Inggris di Kampung Inggris sangat menyenangkan. Kita bisa bertemu dengan teman-teman baru dari berbagai daerah di seluruh Indonesia, guru-gurunya juga baik dan sangat menyenangkan, dan kita diberi tugas-tugas yang menyenangkan juga. Di akhir periode pembelajaran pun, ada ujiannya lho, serta ada simulasi tes TOEFL juga. Hehehe...
Jalan Desa di Kampung Inggris
Pada hari terakhir kelas, kami berinisiatif untuk mengadakan farewell dinner. Sedih sih sebenernya karena harus kembali ke realitas lagi. Huhuhu... Tapi begitulah yang namanya hidup, apapun yang terjadi, hidup harus terus berjalan. Hahaha asik!
Farewell Dinner Moment with Our Lecturer. Sedih rasanya...
Akhirnya, hari Jumat malam tanggal 9 Januari 2015, gue harus kembali ke Jakarta menggunakan kereta api ekonomi Matarmaja dari Stasiun Kediri menuju ke Stasiun Senen. Untuk menuju ke Stasiun Kediri, gue barengan sama beberapa teman sekelas gue ngerental mobil dengan biaya 35.000 rupiah per orang dan itu udah termasuk bensin lho. Hehehe...
Ladang Jagung di Sekitar Kampung Inggris
Buat gue, pengalaman liburan di Kampung Inggris ini menjadi salah satu pengalaman berharga di hati gue. Hahaha asik! Bertemu dengan teman-teman baru, guru-guru yang menyenangkan, menghabiskan waktu bersama, jauh dari hiruk pikuk perkotaan karena jauh dari ATM dan susah sinyal. Hehehe... Mungkin suatu hari nanti, gue akan kembali ke sini. Gue berharap sih gitu. Jujur, ada kerinduan di dalam hati gue untuk kembali lagi ke tempat ini. Sebuah tempat yang menawarkan ketenangan untuk jiwa ini. So, buat yang berjiwa muda dan bermental baja, Kampung Inggris merupakan salah satu tempat yang gue rekomendasikan ke kalian. Karena selain kita bisa belajar bahasa Inggris dengan harga yang sangat terjangkau, kalian akan menemukan banyak teman baru di sana. Hehehe... Kalian harus mengalaminya sendiri, keseruan di Kampung Inggris. Hehehe...
Ladang Tebu di Sekitar Kampung Inggris
Akhir kata, terima kasih karena telah membaca postingan gue mengenai Kampung Inggris walaupun agak panjang dan semoga tulisan ini bisa menjadi pertimbangan supaya kalian lebih yakin lagi untuk berkunjung ke Kampung Inggris.
Suasana Senja di Kampung Inggris
Bersama dengan postingan ini, akan gue sertakan foto-foto, video unik, dan summary dari pengeluaran gue selama di Kampung Inggris. Enjoy~!! \(^.^)/
Biaya Kursus di Salah Satu Tempat di Kampung Inggris
Perincian pengeluaran biaya:
Transportasi:
- Kereta api eksekutif Gajayana Jakarta-Kediri 625.000 rupiah per orang.
- Kereta api ekonomi Matarmaja Kediri-Jakarta 180.000 rupiah per orang.
- Becak dari Stasiun Kediri ke Gedung Bhayangkara 15.000 rupiah per orang.
- Angkot dari Gedung Bhayangkara ke Kampung Inggris 35.000 rupiah per orang.

Makanan dan minuman:
- Warteg (prasmanan): Nasi, telor dadar, tempe orek 5.500 rupiah.
- Warteg (prasmanan): Nasi kuning, capcay, tempe orek, dan perkedel 4.500 rupiah.
- Nasi goreng / mie goreng 8.000 rupiah.
- Nasi plus ayam sekitar 8.000 - 9.000 rupiah.
- Lontong dan pecel 6.000 rupiah.
- Bubur ayam 6.000 rupiah.
- Es campur 3.000 rupiah.
- Jus buah / sop buah sekitar 4.000 - 6.000 rupiah.
- Mie ayam sekitar 4.000 - 6.000 rupiah.

Laundry: 4.000 rupiah per kilo dengan lama pengerjaan selama 1 hari.

Sewa sepeda sekitar 7.000-10.000 rupiah per hari atau 50.000 rupiah per bulan dengan jaminan KTP atau SIM.

Sewa kos: 500.000 rupiah per bulan atau 250.000 rupiah per 2 minggu per kamar dan bisa diisi maksimal sampai 3 orang, dengan fasilitas listrik, air, kipas angin, dan televisi.
Tugas Confidence Speaking

Wednesday, October 22, 2014

Summer Palace, Beijing, China

Hari ke-3 (bagian 2)

Summer Palace merupakan tempat wisata terakhir di Beijing yang kami kunjungi. Summer Palace merupakan istana tempat kaisar beristirahat selama musim panas di China. Di Summer Palace terdapat sebuah jembatan yang diberi nama Jembatan Tujuh Belas Terowongan karena jumlah terowongan di bawahnya ada 17. Namun sayang, saat kami tiba di sana hari sudah sore dan suasananya berkabut sehingga gue ga bisa mengeksploitasi keindahan Summer Palace ke dalam foto secara maksimal, tetapi jangan khawatir, fotonya tetap akan gue upload. So, gimana serunya tempat ini? Cekidot!
Jembatan Tujuh Belas Terowongan
Summer Palace atau Yihe Yuan berarti Istana Musim Panas. Istana ini terletak di distrik Haidan, yang terletak 15 kilometer dari kota Beijing yang menjadi tempat tinggal para Kaisar Dinasti Qing. Penduduk setempat menyebutkan bahwa Summer Palace sebagai taman kekaisaran yang dilestarikan dan terbaik di dunia serta terbesar di masa China modern.
Pintu gerbang Summer Palace
Menurut sejarah kekaisaran, keluarga kaisar memilih tempat ini sebagi tempat tinggal permanen yang terus-menerus menghadirkan gaya hidup mewah serta dijadikan sebagai tempat peristirahatan dan pesta.
Dermaga Danau Kunming
Summer Palace memiliki luas sekitar 300 hektar, yang mencakup lebih dari 3.000 bangunan. Area bangunan lebih dari 70.000 meter persegi, termasuk pavilion, menara, jembatan, dan koridor. Bangunan ini merupakan gedung yang menyatu secara serasi dengan merefleksikan hubungan harmonis antara manusia dan alam sekitarnya. Tiga perempat bagian dari Summer Palace adalah air dan Danau Kunming.
Gazebo di Summer Palace
Tak terasa waktu yang diberikan sudah habis dan kami harus kembali ke bus. Summer Palace merupakan tempat terakhir yang kami kunjungi di Beijing dan besok pagi kami harus kembali ke Tanah Air.
Ornamen di dalam gazebo
Tampak samping Jembatan Tujuh Belas Terowongan
Bagian atas Jembatan Tujuh Belas Terowongan

Hari terakhir

Hari ini adalah hari Senin tanggal 20 Oktober 2014 dan merupakan hari terakhir gue berada di Beijing. Menurut gue, perjalanan wisata selama di Beijing cukup menyenangkan.

Pukul 2 dini hari, kami dibangunkan dengan menggunakan morning call hotel. Lalu kami siap-siap untuk berangkat ke bandara. Perjalanan di bandara memakan waktu sekitar 45 menit dari hotel. Alhasil, kami tiba di bandara lebih awal. Sambil menunggu, gue menghabiskan sebagian sarapan yang diberikan oleh pihak hotel. Ternyata pesawat Garuda Indonesia yang akan mengantarkan kami kembali ke Tanah Air terlambat datang sehingga terjadi delay take-off selama satu jam.

Sekitar pukul setengah 2 siang kami sudah tiba di bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Setelah mengambil bagasi, gue langsung pulang ke rumah dengan menggunakan bus Damri. Demikianlah cerita pengalaman gue selama di Beijing.

Sebagai pelengkap, di postingan akhir ini gue upload video resume perjalanan gue. Hehehe...

Gue mengucapkan terima kasih dan sangat mengapresiasi kalian semua yang baca cerita gue dari hari pertama hingga hari terakhir ini. Hehehe... Sampai jumpa di cerita gue selanjutnya! Dan tunggu postingan-postingan menarik selanjutnya! Yeay~!! \(^.^)/

The Great Wall of China

Hari ke-3 (bagian 1)

Hari ini adalah hari Minggu tanggal 19 Oktober 2014. Setelah kemarin diberikan kesempatan untuk free day, maka hari ini acara kami kembali diatur oleh tour. Hari ini kami akan mengunjungi The Great Wall dan Summer Palace. HmMm... Gimana kira-kira serunya hari ini? Silakan disimak yah! Cekidot!
Foto terkece gue di Great Wall. Hahaha... v(^.^)v
The Great Wall termasuk ke dalam salah satu keajaiban dunia. The Great Wall dibangun di atas wilayah perbukitan sehingga ketinggian anak tangganya sangat bervariasi. Namun sayang, saat kami tiba di sana, kondisi cuacanya berkabut sehingga keindahan The Great Wall tidak bisa gue eksploitasi secara maksimal ke dalam foto. Disarankan untuk siapa saja yang ingin ke Great Wall, harus menyiapkan tenaga karena untuk naik ke Great Wall cukup melelahkan.
Salah satu pintu gerbang The Great Wall
Untuk mengetahui serba-serbi mengenai The Great Wall of China, silakan klik link Wikipedia berikut ini:
Siapkan tenaga untuk mendaki ke Great Wall!
Tak terasa waktu yang diberikan oleh pihak tour sudah habis. Kami melanjutkan perjalanan kami ke destinasi yang terakhir di Beijing, yaitu Summer Palace.
Great Wall dilihat dari atas
Mumpung di Great Wall, pose dulu! Hahaha... \(^.^)/
Pos 1 Great Wall
Perjalanan ke pos selanjutnya masih panjang
Jalannya semakin terjal
Di Great Wall, ada banyak meriam seperti ini
Prasasti yang ada di Great Wall
The Great Wall
Kuil yang ada di Great Wall
Pintu keluar Great Wall